Entitas (Bagian VI)
Keesokan harinya, saat kami bermain di taman, kami kembali membahas kejadian kemarin. Namun zizi sepertinya berusaha untuk melupakan kejadian tersebut untuk sementara, dengan cara mencari kesenangan-kesenangan baru. Sore itu, zizi mengajak kami pergi mengunjungi cafe termewah di kota bankin.
“Ayo kita bersenang-senang. Aku akan traktir kalian”. Kata zizi sambil mengenakan penutup kepala jacket hoodie nya.

Sesampainya di cafe, kami duduk dan dilayani oleh seorang wanita muda cantik yang memberikan daftar menu melalui tablet yang dipegangnya. Sebelumnya wanita itu menyapa kami, dan kemudian menanyakan yang kami butuhkan “apa kalian butuh air mineral?.
Sepertinya pelayan tersebut mengetahui kalau kami sedikit kelelahan serta kehausan setelah berjalan kaki sepanjang 3km menuju cafe tersebut. _ kami semua pun menjawab pelayan tersebut dengan menganggukkan kepala. Kemudian pelayan tersebut memberikan kode kepada pelayan lain untuk mengambilkan air mineral.
“Kenapa hari ini anda berjalan kaki nona?”. Tanya pelayan tersebut kepada zizi.
“Karena aku menginginkannya”. Jawab zizi.
Pelayan tersebut hanya membalas “Ooh… ” Sambil tersenyum.
Ternyata zizi dikenali oleh seluruh pelayan disini. Sepertinya zizi sering mengunjungi tempat ini dan telah menjadi pelanggan prioritas. Sebab saat para pelayan melihat zizi, salah seorang dari mereka langsung berlari dan langsung menyambut kami dari depan pintu masuk. Bagiku hal itu sudah tidak mengherankan lagi, karena zizi sudah terbiasa dengan kemewahan.
“Kalian boleh pesan apa saja”. Kata zizi kepada kami.
Aku, reza, naresh, dan windi mulai melakukan pesanan dengan hanya melihat gambar yang paling menarik menurut kami, tanpa tau jenis serta isi kandungan makanan dan minuman yang kami pesan.
Aku memesan ‘lasagne al forno’. Karena menurutku dari melihat gambar yang tersedia. Menu tersebut terlihat nikmat dengan lumuran keju yang berlimpah. Dan zizi juga memesan makanan yang sama.
“Kamu pecinta keju juga ya?”. Tanya zizi kepadaku.
Aku menganggukkan kepala berkali-kali menandakan ‘sangat menyukainya’.
Ternyata zizi juga seorang ‘turophile’, sama seperti diriku. ‘Turophile’ merupakan julukan bagi seseorang penikmat dan pecinta keju dalam segala bentuk dan rasa. Kata ‘turophile’ beserta penjelasannya kami dapat dari pelayan yang sedang melayani.
Setelah menikmati makanan dan minuman yang kami pesan. Zizi berkata “apakah setelah dewasa nanti, kita masih bisa bermain bersama?”.
“Memangnya kenapa?”. Sahut naresh.
Zizi mencoba menjelaskan bahwa setelah dewasa kita akan sibuk oleh pekerjaan dan kehidupan yang berbeda dari sekarang.
“Kita bekerja saja ditempat yang sama”. Naresh kembali menyahut penjelasan zizi.
“Bukankah kamu orang yang sangat kaya?. Kamu buat saja satu perusahaan dan kita semua bekerja di perusahaan tersebut”. Tambah windi.
Naresh dan windi sepertinya masih sangat polos untuk bisa memahami apa yang zizi fikirkan. Namun berbeda dengan reza, sepertinya reza juga mengerti apa yang dimaksudkan zizi.
“Kita tidak pernah tau bagaimana kedepannya, tapi setidaknya kita bisa bersama saat ini. Dan ini akan menjadi bagian dari hidup kita berlima”. Terang reza kepada kami berempat.
Mendengar perkataan reza kami berempat menganggukkan kepala sambil tersenyum. Namun dibalik senyum, aku merasakan ada perasaan takut beserta sedih. Karena saat dewasa nanti, kami belum tentu dapat menikmati hari bersama seperti saat ini. _ dan mungkin aku orang yang paling rapuh diantara mereka berempat. Aku sungguh tak sanggup membayangkan harus berpisah dari sahabat-sahabatku, terutama zizi.
“Aku tidak bisa membayangkan jika dewasa nanti, kita tidak bersama lagi”. Aku mengatakannya sambil menundukkan kepala serta menahan air mata yang hampir menetes dipipihku.
Suasana sedikit mengharukan sore ini. Hingga zizi berkata “saat latihan besok, aku akan memberikan hadiah spesial bagi siapa saja yang bisa mengalahkanku!. Zizi mengatakannya dengan penuh percaya diri.
Zizi berusaha untuk mengganti arah pembicaraan. Agar suasana kembali ceria.
Zizi menjelaskan lebih lanjut. Pertandingan akan dimainkan sebanyak 2 ronde, dan jika hasilnya seri, maka akan ada ronde ke 3 sebagai ronde akhir atau final.
Tiba-tiba reza bertanya kepada zizi “zi, apakah anak-anak di vervia yang seusia kita, juga telah berfikir seperti kamu?”.
Pertanyaan reza sangat masuk akal, sebab kami merasa zizi sedikit lebih dewasa dalam cara berfikir namun tetap lugu sebagai anak-anak. Mengingat vervia adalah ibu kota negara Donesivia, dan mungkin saja disana sedikit lebih maju dalam berbagai bidang dari pada disini, termasuk dalam bidang pendidikan.
Zizi tertawa mendengar pertanyaan reza, kemudian berkata “gak juga. Hanya saja aku … “. Zizi memutuskan kalimat jawabannya.
“Hanya saja apa?!”. Tanyaku.
” Iya, hanya saja apa?”. Sahut reza dan naresh.
Windi sepertinya juga menunggu kelanjutan dari kalimat zizi.
Tentunya kami semua penasaran, karena kalimat zizi tadi yang belum selesai.
“Udahlah, aku gk bisa jelasin sekarang. _ setelah dewasa nanti kalian juga akan mengerti”. Balas zizi.
Pastinya, kami tidak Terima begitu saja dengan penjelasan zizi. Aku, reza, naresh dan windi terus mendesak zizi untuk melanjutkan kalimatnya, serta menjawab tuntas pertanyaan yang kami lontarkan.
Terjadi sedikit keributan pada meja kami, hal ini diakibatkan oleh zizi yang membuat kami berempat penasaran karena jawabannya yang belum selesai.
Tak terasa hari semakin gelap. Hingga naresh mengatakan “sepertinya kita harus segera pulang, karena hari sudah mau maghrib”.
Dengan segera zizi memanggil salah satu pelayan cafe sambil melambaikan tangan dengan sebuah kartu.
Lalu salah satu pelayan datang membawakan daftar tagihan dengan sebuah alat. Kemudian pelayan tersebut mengambil kartu yang diberikan zizi dan menggesekkan ke alat yang dibawanya. Setelah menekan angka yang sesuai dengan jumlah tagihan, pelayan tersebut memberikan alat itu kepada zizi, kemudian zizi pun menekan beberapa angka, hingga keluarlah kertas dari alat tersebut.
Ternyata zizi melakukan pembayaran menggunakan kartu, bukan menggunakan uang tunai. Zizi menjelaskan cara pembayaran yang dilakukannya tadi kepada kami sambil berjalan pulang.









