Andai Ku Bisa Menghentikan Waktu (Bagian I)
Sore ini, aku bertekad untuk mengalahkan zizi dan menghentikan kesombongannya. Walau aku tau itu sulit, karena dari peringkat sabuk saja sudah sangat jelas berbeda. Tapi entah kenapa aku sangat termotivasi ingin mengalahkan zizi. Dan aku berpendapat bahwa reza, naresh, dan windi juga sangat termotivasi untuk mengalahkan zizi.
Saat sesi latihan taekwondo dimulai, kami berlima berlatih penuh semangat dan menunjukkan gairah yang sangat tinggi. Aku sempat berfikir, sepertinya zizi berhasil memotivasi kami agar berlatih lebih semangat lagi.

Saat sesi uji tanding dimulai, aku menawarkan diri untuk bertanding terlebih dahulu. Dengan semangat yang tinggi aku bertarung melawan zizi. Dan hasilnya aku kalah telak 2 ronde. _ zizi tertawa senang melihat semangatku, dan sekaligus menyindirku.
“Kepercayaan dirimu tidak sesuai dengan keterampilan yang kamu miliki”. Kata zizi sambil mengayunkan tangan kearah windi, yang berarti ingin menantang windi untuk pertarungan selanjutnya. _ sepertinya zizi ingin memastikan kemenangannya dari windi, karena zizi sempat dikalahkan windi saat acara makan malam dirumahnya beberapa minggu yang lalu.
Hasil dari pertandingan zizi melawan windi sama seperti pertandingan aku dan zizi tadi. Zizi menang telak 2 ronde sekaligus. Begitupun saat zizi melawan reza dan juga naresh. Hari ini tidak ada dari aku, reza, naresh dan windi yang berhasil mengalahkan zizi. _ zizi menunjukkan kelasnya yang jauh berbeda dari kami berempat. Namun, aku tidak akan pernah menyerah dan tetap bertekad ingin mengalahkan zizi.
Setelah beberapa minggu berlalu, tidak satupun dari kami yang mampu mengalahkan zizi satu ronde pun. Hingga tidak disadari ujian akhir sekolah tingkat SD pun akan berlangsung 2 minggu lagi. Dan untuk sementara waktu latihan bela diri kami dihentikan hingga ujian selesai. Kami semua harus fokus belajar, agar berhasil serta mendapatkan nilai maksimal saat ujian berlangsung. _ mama zizi menawarkan kepada kami untuk belajar bersama dengan zizi dan akan menghadirkan guru terbaik yang ada di kota ini, agar dapat mengajarkan kami secara ‘private’ dengan metode cepat dan tepat.
2 minggu berlalu sejak hari itu, ujian akhir tingkat SD yang akan dilalui selama 1 minggu pun dimulai hari ini. Dengan bekal belajar bersama zizi, kami dapat melalui ujian dengan cukup mudah dan mendapatkan nilai yang sangat baik. Bahkan windi yang salah satu anak terpintar diantara kami, berhasil meraih nilai tertinggi saat itu. Ini pertama kalinya windi mengalahkan sang juara pertama disekolah, sebab selama ini windi hanya mampu meraih juara 2 dan juara 3.
Kami sangat bangga atas pencapaian windi, begitupun dengan zizi, setelah mendengar kabar tersebut dari naresh, zizi berniat ingin merayakan pencapaian windi tersebut.
“Besok siang aku akan traktir kalian di cafe kemaren?”. Kata zizi saat kami semua berkumpul di taman.
Pastinya kami semua menyetujuinya dan merasa sangat senang pada saat itu.
Esok siang kami semua kembali berkumpul di taman dan setelahnya kami langsung bergegas menuju cafe yang menjadi tempat favorit zizi.
Sesampainya di cafe, seperti biasa kami langsung disambut salah satu pelayan cafe. Namun kali ini pelayan tersebut bukan hanya sekedar menyambut, melainkan mengantarkan kami ke ruang VIP. Sesampainya diruangan tersebut, kami diberikan makanan pembuka yang sangat menggugah selera. Aku dan yang lainnya menikmati makanan pembuka sambil melakukan pesanan. Setelah kami berlima selesai melakukan pesanan, tak lama kemudian tanpa kami sadari datang 3 orang pelayan lainnya menyanyikan lagu ‘selamat ulang tahun, sambil salah satu dari mereka membawakan kue ulang tahun yang sangat cantik. Pada kue tersebut bertuliskan ‘happy birthday my best friend friska arum nareshwari’. Serta pada kue tersebut terdapat lilin berangka 12.
Naresh sangat senang dengan kejutan yang diberikan zizi kepadanya, dia tidak dapat berkata banyak saat ini. Sesaat kemudian naresh berdiri dan berjalan cepat kearah zizi untuk memeluk zizi sambil mengatakan “terimakasih ya zi”. Naresh mengatakannya sambil meneteskan air mata.
Setelah naresh melepaskan pelukannya, zizi berkata “Ini semua berkat informasi dari reza. Karena dia yang mengatakan kepadaku bahwa hari ini kamu ber-ulang tahun. _ dan untuk yang lainnya, aku minta maaf, karena aku telah melewatkan momen bersejarah kalian, dan aku tidak tau kapan ulang tahun kalian”. Zizi mengatakannya sambil tersenyum.
“Tunggu dulu, _ berarti aku paling muda diantara kalian, karena aku masih berumur 11 tahun. Sedangkan kata reza, ulang tahun ke 12 kalian bertiga telah berlalu beberapa bulan yang lalu”. Tambah zizi.
“Memangnya kamu lahir kapan?”. Tanyaku pada zizi.
Zizi membalas dengan bahasa tubuh yang mengartikan “entah”. Zizi tidak ingin memberitahukan hari ulang tahunnya kepada kami.
Akan tetapi, Tiba-tiba saja windi berkata “kalo aku gak salah kayaknya 17 November dech”.
Tersontak kami terkejut mendengar perkataan windi.
“Kamu tau dari mana?”. Tanya zizi penuh penasaran.
“Aku melihatnya pada suatu lukisan dirumah mu. Disitu terdapat nama serta hari lahir kamu dan adik mu”. Balas windi dengan ekspresi yang sedikit bangga, karena hanya dia satu-satunya orang yang mengetahui hal itu.
Windi memang suka menganalisa hal baru. Dia seperti seorang detektif yang memperhatikan hal-hal secara detail tanpa disadari orang lain.
Tak terasa pesanan kami pun tiba. Sebelum menyantap hidangan, kami mengucapkan selamat kepada windi yang dapat meraih nilai terbaik dan tentunya juga mengucapkan selamat ulang tahun pada naresh.
“Eh, karena sekarang lagi musim layang-layang, gimana kalo kita setelah ini membuat layang-layang untuk masing-masing kita di taman”. Kata reza, setelah menguk minumannya.
Kami semua pun setuju. Dan kemudian kami membagi tugas. Aku bersama reza mencari bambu untuk dibuatkan layang-layang, sedangkan zizi akan menyediakan gunting beserta lem kertas, lalu naresh menyediakan kertas layang-layang, kemudian windi yang akan mempersiapkan benangnya.
Setelah perayaan kesuksesan windi serta ulang tahun naresh, kami bergegas menuju taman. Entah kenapa kami semua bersemangat ingin membuat layang-layang, namun aku sedikit merasa ragu apakah kami berhasil membuatnya terbang nanti, karena membuat layang-layang tidaklah semudah yang dibayangkan.
Pada saat perjalanan pulang, diseberang jalan aku seperti melihat 2 orang anak SMA yang menjaga pintu ruangan pada gedung tua yang pernah kami datangi.









