“LAKUNA” Edisi XXIII (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Entitas (Bagian V)

Aku, zizi, naresh, reza, dan windi seperti sebuah puzzle yang tersusun rapi, jika salah satu kepingnya hilang akan membuat puzzle tersebut tidak sempurna. Hampir tak ada hari yang tidak kami lewati berlima. Walau zizi berbeda sekolah dengan kami berempat.

Suatu hari zizi mengajak kami ke sebuah tempat yang terdapat bangunan tua 4 tingkat yang sepertinya telah terbengkalai selama bertahun-tahun. _ sesampainya dibangunan tersebut, ternyata zizi penasaran dengan bangunan tersebut. Karena hampir setiap hari zizi diantar oleh supir pergi ke sekolah, zizi melihat beberapa anak laki-laki berpakaian SMA masuk kedalam gedung dengan sembunyi-sembunyi.

Awalnya kami tidak ada yang setuju untuk masuk kedalam gedung, namun zizi bersikeras mengajak kami dan kami pun terus menolak. Akhirnya zizi pun masuk sendirian, tentunya aku dan yang lainnya tidak akan membiarkan zizi masuk kedalam gedung tanpa siapa-siapa disebelahnya. _ dan akhirnya kami semua pun memasuki gedung tua tersebut.

Didalam gedung kami mendengar ada bunyi musik dan sedikit keributan dari lantai 2. _ kami pun pergi ke lantai 2 secara diam-diam sambil mengendap-mengendap. Kami terus mencari sumber suara yang membuat zizi penasaran.

Sesampainya di sebuah lorong, kami melihat ada 2 orang berpakaian SMA menjaga pintu ruangan yang berada di ujung lorong. Kami terus mengamati sambil mengintip, hingga seseorang keluar dalam keadaan mabuk yang juga menggunakan baju sekolah SMA, kemudian disusul oleh 2 orang temannya.

Tak disangka pria mabuk tadi melihat kami yang sedang mengintip. “Hey bocah sedang apa kalian?!”. Kata laki-laki tersebut sambil menunjuk kearah kami. Hingga 2 temannya dan 2 penjaga pintu menatap kami. _ tanpa fikir panjang zizi memerintahkan kami semua untuk kabur, tepat sebelum 2 orang yang menjaga pintu tersebut mengejar kami.

Syukurnya kami berhasil kabur dan keluar dari gedung tersebut. Selama perjalanan kami menyalahkan zizi yang hampir membuat kami semua celaka.

“Bukankah tadinya kalian tidak ingin masuk kedalam gedung?. _ lain kali biarkan aku masuk sendirian tanpa kalian!”. Tegas zizi, membantah kami.

Aku pun merasa bersalah karena telah menyalahkan zizi atas apa yang baru saja terjadi.

“Jika kamu ingin kembali kesana lagi, aku akan pastikan tetap berada di sampingmu!”. Aku berkata sambil menatap zizi.

Zizi membalas dengan sebuah senyuman sinis, kemudian berkata “Gak usah sok jadi pahlawan”.

“Tommy bukannya sok jadi pahlawan, akan tetapi kami tidak akan membiarkan kamu menghadapi bahaya sendirian”. Bantah naresh kepada zizi.

Tiba-tiba windi menyelah, dengan mengatakan “Apa kalian berniat untuk kembali kesana?. _ kalian semua sudah gila ya!”.

Saat ini, sepertinya hanya windi yang tidak setuju untuk kembali ke gedung tersebut. Sebab apa yang dirasakan zizi, juga kami rasakan saat ini.

“Kalau begitu, apa nama geng kita?”. Tanya reza kepada aku, zizi, naresh, dan windi dengan percaya diri.

“Claw wolves junior”. Lanjut zizi.

Sambil memegang kepalanya sendiri, windi berkata “kenapa aku bisa terjebak diantara kalian”. Kemudian menarik-narik rambutnya.

Sepertinya windi telah menyerah, karena kami semua sepakat akan kembali kesana nantinya, dan membentuk sebuah geng, seperti yang pernah diwacanakan zizi dulu.

Seminggu telah berlalu sejak kejadian yang memacu adrenaline kami saat berada di gedung tua tersebut. Dan hari ini, kami bersiap untuk kembali kesana tepat setelah zizi memberikan jacket hoodie yang bertuliskan ‘Claw Wolves Junior’ pada belakangnya.

“Wooow… Jacket ini terlihat keren. Dari mana kamu mendapatkannya?”. Tanyaku pada zizi.

“Kakek ku mengirimkannya beberapa hari yang lalu”. Jawab zizi.

Setelah jacket terpasang, kami pun bersiap untuk melakukan aksi selanjutnya. _ sesampainya di gedung tua tersebut, kami kembali masuk dengan mengendap-endap menuju lorong yang ingin kami ketahui apa sebenarnya yang ada didalam ruangan yang dijaga tersebut.

Kami ingin sekali mendatangi ruangan itu, namun sepertinya tidak ada jalan lain selain lorong ini untuk sampai kesana.

“Apa kalian benar-benar ingin kesana?”. Tanya windi.

“Apa kamu punya ide?”. Tanya zizi ke windi.

Windi menyampaikan ide nya, dan kami pun sepakat. _ aku, zizi, naresh dan reza memasuki ruangan terdekat dengan kami. Setelah berhasil masuk, windi pun beraksi.

“Hey kalian orang-orang bodoh, apa yang sedang kalian lakukan”. Teriak windi kepada 2 orang penjaga pintu.

Tentunya penjaga pintu tersebut mengejar windi, namun windi telah memperhitungkan nya. Windi pun berlari menghindari para penjaga. _ setelah penjaga tersebut melewati ruangan tempat kami bersembunyi, zizi langsung keluar dan berlari menuju ruangan yang kini tanpa penjagaan didepan pintunya. Kami bertiga pun bergegas mengikuti zizi.

Zizi segera mengambil sebuah kursi yang berada disebelah pintu, kemudian menempelkan nya pada dinding dibawah jendela. Lalu, Zizi mengintip melalui jendela yang tepat berada sejajar dengan kursi, sambil mengambil beberapa foto dan video melalui handphone miliknya.

“Ada apa didalam?”. Tanyaku pada zizi.

“Nanti akan aku perlihatkan”. Jawab zizi.

5 menit berlalu, naresh mulai merasa gelisah. “Kita sudah cukup lama berada disini, akan berbahaya jika 2 orang tadi kembali”. Kata naresh sambil menarik zizi agar turun dari kursi.

Akhirnya kami pun pergi dari ruangan tersebut. Akan tetapi saat ingin menuruni tangga, reza mendengar suara langkah kaki yang sedang menaiki tangga. Zizi pun memerintahkan kami untuk kembali masuk keruangan tempat kami bersembunyi tadi. _ setelah merasa aman, kami pun bergegas untuk pergi dari gedung ini secara diam-diam. Namun saat kami berjalan dengan perlahan, naresh tidak sengaja menendang kaleng minuman yang tergeletak dilantai. Tentu saja hal itu membuat 2 orang yang menjaga pintu menoleh kearah kami.

“Dasar bocah brengsek, ternyata kalian lagi!”. Kata salah seorang penjaga, kemudian mengejar kami.

Tanpa fikir panjang kami pun berlari. Namun, sembari berlari turun. Zizi mengambil sesuatu dari saku celananya yang berbentuk butiran-butiran kecil dengan jumlah sangat banyak, kemudian melemparkan ke belakang. _ saat 2 orang tersebut menuruni tangga, sepatu mereka menempel di lantai, sehingga membuat langkah mereka terhenti. Bahkan salah seorang dari mereka terjatuh berguling-guling ditangga, karena memaksa untuk melepaskan lem yang tertempel di sepatunya, sehingga membuat sepatunya terlepas, kemudian orang itu kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.

Ternyata butiran-butiran kecil tadi adalah lem yang sangat kuat. Jika butiran tersebut terinjak, kemudian pecah, maka lem yang ada didalamnya akan langsung bekerja.

Setelah berhasil keluar, kami langsung menuju ke taman untuk segera menemui windi. _ sesampainya ditaman, kami semua membentuk lingkaran kemudian berpelukan sebagai bentuk selebrasi setelah berhasil menjalankan misi. Tak lama kemudian zizi memperlihatkan foto dan video yang diambilnya dari ruangan ‘setan’ tersebut.

Kami sungguh terkejut melihat video yang direkam melalui HP zizi tadi. Didalam ruangan kami melihat beberapa anak SMA tengah mabuk dan berpesta pora.

“Ini adalah narkoba berjenis sabu”. Kata zizi, saat melihat video seseorang yang tengah menghisap sesuatu.

“Dari mana kamu tau?”. Tanyaku pada zizi.

Pastinya kami berempat terkejut, karena zizi mengetahui hal-hal semacam ini.

“Aku banyak belajar dari papa dan kakek ku secara diam-diam”. Jawab zizi, atas pertanyaan ku.

“Apa papa mu juga menggunakan sabu?!”. Tanyaku dengan polos.

“Jaga mulut mu, papa ku seorang ahli hukum yang sering terlibat dengan kasus narkoba”. Balas zizi sambil menatap tajam kearahku.

“Kalau begitu kita laporkan saja ke papa mu”. Sahut reza.

Zizi tidak ingin melaporkan kejadian tersebut kepada papa nya, karena zizi beranggapan jika kami melaporkannya. Zizi pun akan dimarahi oleh ulahnya sendiri yang terlalu berani. Dan begitupun dengan kami semua, sebab apa yang telah kami lakukan dapat membahayakan keselamatan diri kami sendiri. Tentunya para orang tua tidak akan senang dengan hal itu.

“Lebih baik saat ini kita pulang saja”. Kata zizi sambil memasukkan handphone nya kedalam saku jacket.

Kami pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing, agar dapat menenangkan diri dari kejadian yang baru saja kami alami.

Pos terkait