Entitas (Bagian I)
Langit sore ini sedikit berwarna merah. Terlihat indah, namun menyeramkan. Suasana itu menggambarkan perasaan yang aku rasakan _ keindahan zizi membuat aku kagum dengan salah satu makhluk ciptaan Tuhan dimuka bumi ini, namun kekagumanku terhadap zizi juga merupakan sebagai sesuatu hal yang membuatku takut. Namun rasa takut kali ini sepertinya berbeda, atau mungkin selama ini aku bara saja menyadari sesungguhnya aku takut tak lagi bisa bersama zizi, dan menjalani hari bersamanya. _ perasaan hatiku saat ini persis seperti saat bayangan gadis kecil tersebut muncul di kepalaku, aku bagaikan sebuah perahu kertas yang terombang-ambing ditengah lautan. Hingga saat ini, aku tidak tau kenapa bayangan gadis kecil itu selalu menghantuiku, dan entah kenapa aku merasa ada korelasi antara gadis kecil itu dengan zizi.
Dalam lamunan yang sangat dalam, tba-tiba aku teringat sesuatu. _ beberapa minggu yang lalu saat aku, reza dan andra berlatih taekwondo ditaman ini, aku mengalami kehilangan kendali yang membuat kepalaku terasa sangat sakit, karena bayangan gadis kecil itu kembali muncul. Dan reza pernah menebak, serta berjanji akan memberitahukan tentang penyakit yang aku alami. Tanpa basa-basi aku langsung menanyakan hal itu kepada reza.
“Mungkin ini saat yang tepat untuk mengatakan hal yang sebenarnya!. Sambil meremas baju reza, kemudian menariknya kehadapanku.

Sebelum reza menjawab, naresh berusaha melepaskan tanganku dari reza dan mendorongku. Kemudian berkata “kamu tidak pantas berbuat seperti ini, pada sahabatmu sendiri?!”. Naresh mengatakannya sambil membentak.
Naresh sepertinya marah, karena perlakuanku yang sedikit kasar terhadap reza.
Tepat setelah naresh membentak ku, reza langsung memelukku, kemudian meneteskan air matanya. Setelah itu, reza mengatakan “bayangan yang ada didalam kepalamu itu, adalah zizi”.
Aku seperti terkena setrum oleh listrik yang bertegangan hingga ribuan volt saat mendengarnya, hingga aku tak dapat merasakan diriku sendiri dan tanpa sadar akupun meneteskan air mata.
Perlahan aku melepaskan pelukan reza, sambil bertanya “Apa maksudmu?!”. Aku bertanya dengan nada tegas, namun terdengar rapuh.
Tiba-tiba naresh menarik kedua pergelangan tanganku, hingga badanku berputar kesamping menghadap ke hadapan naresh. _ terlihat naresh berusaha menahan air matanya, lalu berkata “tom, tenanglah dulu. Kami akan ceritakan semuanya”.
Setelah berusaha menenangkanku, naresh dan reza membawaku duduk dikursi taman. Naresh pun mulai menceritakan sebuah kisah yang pernah kami alami :
8 tahun yang lalu, ada 4 sahabat yang selalu bersama. 4 sahabat tersebut adalah aku, reza, naresh, dan windi. Kami selalu bermain bersama dan melewati hari penuh bahagia sebagai anak kecil. Suatu hari, saat kami bermain ditaman seperti biasa yang kami lakukan setiap sore. Tiba-tiba seorang anak perempuan yang berambut pendek dan bergaya tomboy berlari kearah kami.
“Hey…! Apa kalian bisa membantuku”. Anak perempuan itu berkata sambil berusaha mengatur nafasnya, karena sepertinya dia berlari cukup jauh.
“Memangnya kamu kenapa?”. Tanyaku.
“Aku harus bersembunyi, sebentar lagi mereka akan datang”. Balasnya.
Kebetulan kami memiliki tempat persembunyian yang sangat bagus diatas pohon yang berada ditengah taman. Tempat itu menjadi tempat favorit kami untuk bersantai dan mengamati lingkungan sekitar. _ dan ntah kenapa kami pun setuju menyembunyikan anak perempuan tersebut.
Benar yang dikatakan oleh anak perempuan yang kami sembunyikan diatas pohon. Tak lama kemudian, tibalah satu orang perempuan dewasa bersama 2 orang laki-laki dewasa datang dan menghampiri kami.
Wanita itu menanyakan “apa kalian melihat seorang anak kecil berambut pendek tadi kesini?”.
Awalnya reza, naresh dan windi bingung dan saling menatap satu sama lain. Namun dengan respon yang cepat, aku berkata “aku melihat nya berlari kearah sana bu”. _ sambil menunjukkan jari kearah yang salah kepada mereka bertiga.
“Baiklah, terimakasih ya nak”. Kata perempuan itu sambil mulai berlari kearah yang aku tunjukkan tadi.
Setelah situasi aman dan terkendali, anak perempuan tomboy tadi pun turun dari pohon tempat persembunyian kami.
“Terimakasih ya. Aku zizi” Kata anak perempuan tersebut sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku hanya terdiam dan terpanah memandangi sosok zizi. _ hingga beberapa detik kemudian aku tersentak, karena zizi melambaikan tangannya didepan mataku.
“Kenapa kamu melamun?”. Tanya zizi padaku, sambil tersenyum.
Sambil menggelengkan kepala, aku berkata “gak ada apa-apa”. Jawabku sambil terbatah-batah.
Setelah perkenalan kami dengan zizi, kamipun melanjutkan bermain bersama. Namun kali ini kami bukan hanya berempat. Melainkan berlima, karena zizi ikut bergabung dan bermain bersama. _ kami bermain sepanjang sore. Tanpa disadari waktu menunjukkan pukul 18:18 menit kami pun segera mengakhiri permainan. Karrna takut akan dimarahi saat sampai dirumah, yang disebabkan oleh batas waktu yang telah disepakati oleh orang tua masing-masing terlampaui. _ Sebelum pulang, aku sempat menanyakan zizi tinggal dimana. Zizi menceritakan kepada kami, bahwa dia tinggal di rumah bernomor C-3 untuk sementara waktu. Karena rumah almarhum neneknya sedang direnovasi besar-besaran. Dan zizi pun menceritakan bahwa dia kembali ke kampung halaman neneknya, dikarenakan papa zizi sedang ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan disini. “Memangnya pekerjaan apa yang dilakukan papa mu disini?”. Tanyaku pada zizi.
“Papa ku ingin menjadi pahlawan di tanah kelahirannya”. Balas zizi.
“Pahlawan seperti apa yang kamu maksud?”. Tanya naresh.
“Sudahlah, aku juga tidak terlalu mengerti. Aku hanya menyampaikan apa yang dikatakan mama padaku. Dan bukankah kalian harus segera pulang?”. Balas zizi, sekaligus mengakhiri perbincangan. Namun, sebelumnya Zizi mengatakan merasa sangat senang berada disini, sebab selama ini dia belum pernah pulang kampung hingga neneknya meninggal 6 bulan yang lalu. Ini pertama kalinya zizi ke tanah camva, dan zizi baru berada disini selama 3 bulan.
Selama ini, tidak ada anak-anak yang dapat kami terima bergabung didalam kelompok kami, atau mungkin kami yang tidak diterima oleh anak-anak lainnya. Akan tetapi, bagi zizi tidak butuh waktu yang lama untuk bisa bergabung. Dan sore itu menjadi saksi kisah 4 sahabat berubah menjadi cerita petualangan 5 anak kecil yang memiliki hubungan lebih dari yang dibayangkan oleh orang dewasa.









