Entitas (Bagian II)
Sejak hari pertemuan dengan zizi, kami selalu bermain bersama pada sore harinya, Kecuali setiap hari selasa, kamis dan ahad. Sebab, zizi tidak pernah datang pada hari-hari tersebut.
Tak terasa persahabatan kami telah berlangsung selama 10 bulan. Semakin aku merasa dekat dengan zizi, semakin aku merasa jauh darinya. Aku sempat berfikir ingin bersama zizi sepanjang hari. Karena, zizi merupakan sosok perempuan tomboy yang menyenangkan. Zizi selalu memiliki ide-ide menarik dan terkadang juga menantang. Seperti beberapa minggu yang lalu, zizi mengajak kami untuk membuat sebuah geng, kemudian menguasai beberapa wilayah dengan cara bertarung dengan kelompok geng lain. Tentu saja ini merupakan ide gila untuk anak kecil seperti kami. Namun terasa sedikit menantang serta memacu adrenaline. Akan tetapi terkadang dia bertingkah seperti seorang malaikat yang berhati lembut. Aku mengatakan zizi seperti malaikat, bukan tanpa sebab. Zizi merupakan sosok seorang anak yang sangat senang berbagi. Seperti 3 hari yang lalu, zizi membawa makanan yang sangat banyak kemudian mengajak kami untuk membagikan nya kepada orang-orang tidak mampu secara ekonomi. Dan hal serupa sering dia lakukan sebelumnya, sehingga menjadi inspirasi bagi beberapa orang dewasa yang mengetahuinya. Bahkan zizi selalu menjadi orang pertama yang membantu saat melihat orang lain yang sedang mengalami kesulitan.

Zizi seperti orang yang tidak pernah kehabisan ide. Zizi juga lah yang mengajarkan kami pergi ke tempat-tempat dimana anak kecil seharusnya tidak berada disana. Zizi mengetahui banyak hal dari pada yang kami ketahui sebagai anak SD. Rasa penasaran ku dengan sikap dan ide gila seorang anak perempuan yang bernama zizi membuat aku selalu tak sabar ingin bertemu dengannya.
Hari demi hari terus berganti, dan bulan berganti bulan, hingga suatu hari zizi membawakan 5 jam tangan yang terlihat sangat mahal. Kemudian membagikannya kepada kami satu persatu. Saat menerima jam tangan dari zizi, aku melihat tulisan ‘alexander christie’ pada gelang karet jam tersebut.
“Bukankah jam tangan ini sangat mahal? “. Tanya naresh kepada zizi.
Naresh tau jam merk tersebut bukan jam tangan anak-anak yang ada dipasaran pada umumnya. Naresh menceritakan, bahwa dia menemani abang laki-lakinya yang berumur 18 tahun membeli jam di suatu mall beberapa bulan yang lalu, dan naresh melihat harga jam tangan ber-merk ‘alexander christie’ tersebut bernilai jutaan. Pastinya jam tangan yang diberikan zizi kepada kami, bukanlah jam tangan murahan, setidaknya jam tangan tersebut memiliki kualitas dan harga yang tinggi.
Alasan zizi memberikan jam tangan tersebut, dikarenakan hari ini tepat satu tahun pertemuan kami dengan zizi.
Kami sangat senang menerima hadiah dari zizi, dan langsung memasangnya, kemudian memamerkannya sesama kami.
“Zi, dari mana kamu mempunyai uang sebanyak ini?”. Tanyaku pada zizi.
“Aku merampok”. Jawab zizi.
Aku, reza, naresh, dan windi terkejut mendengar jawaban zizi.
“Apa kamu serius?”. Tanya windi, dengan ekspresi wajah yang sedikit ketakutan.
Kemudian sambil tersenyum, zizi berkata “aku merampok tabunganku sendiri. Aku mengambilnya tanpa sepengetahuan orang tuaku”. Setelah mengatakan hal tersebut, zizi tertawa.
“Kamu itu sebenarnya siapa sich?”. Tanayku pada zizi.
“Kita telah bersahabat selama setahun, kamu masih belum mengenalku?”. Balas zizi.
Zizi selalu memberikan jawaban yang tidak pasti kepada kami. Terkadang kami penasaran tentang siapa zizi.
Belum sempat menanyakan beberapa hal, tiba-tiba zizi bertanya padaku “Boleh aku bermain dirumahmu?. _ aku ingin tau rumah kalian masing-masing.
Aku langsung menjawab “boleh, asalkan kamu jawab semua rasa penasaran kami”.
Bagiku ini kesempatan untuk mengetahui semua tentang zizi, dan apa saja yang disembunyikannya dari kami.
“Bukankah kita terlihat seperti orang dewasa, yang sedang membuat suatu kesepakatan?”. Tegas zizi, sambil bertanya.
Sepertinya yang dikatakan zizi ada benarnya. Selama bersama zizi, cara pandang dan wawasan kami bertambah, bahkan melebihi anak-anak seumuran kami. Saat pertama kali bertemu zizi kami masih berumur 10 tahun, dan saat itu yang kami ketahui hanyalah menghabiskan waktu bermain di taman. Sedangkan saat ini kami berumur 11 tahun dan masih duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar (SD). Namun pemikiran kami telah seperti remaja yang berumur 17 tahun keatas memandang beberapa hal dalam kehidupan. Bahkan kami pernah berfikir akan membuat suatu organisasi bersama yang bergerak dalam menjaga dan memelihara lingkungan hidup. _ zizi telah banyak mengajarkan hal-hal yang seharusnya belum kami fikirkan.
“Ayo, tunggu apa lagi?”. Kata zizi sambil mengayunkan tangannya.
Akhirnya kami pun pergi dari taman dan mendatangi rumahku. Sesampainya dirumah, mamaku merasa heran. Kenapa hari ini kami tidak bermain ditaman. Namun mama dengan senang hati mempersilahkan kami bermain dirumah, kemudian berkata “mama masakan kentang goreng ya, untuk kalian”.
Teman-teman ku serentak menjawab “terimakasih tante”.
Namun saat melihat zizi, mamaku bertanya “kamu baru pindah kesini ya?”. Sambil berjalan kearah zizi, kemudian membelai kepalanya.
Layaknya seekor kucing betina yang sangat lucu, zizi menjawab “iya tante”.
“Siapa nama kamu?”. Tanya mama lagi.
” Zizi tante”. Kata zizi sambil memegang tangan mama, kemudian menyalami dan memciumnya.
Mamaku sepertinya sangat senang dengan zizi, karena zizi terlihat sebagai anak yang baik dan lucu. Padahal dibalik senyum nya yang manis terdapat jiwa bagaikan seekor serigala.
Selama beberapa hari belakangan. Kami tidak lagi bermain di taman. Karena zizi ingin mengunjungi rumah kami masing-masing, dan zizi berhasil mengambil hati orang tua kami semua dengan sikapnya yang sopan dan lucu.
Tiba pada suatu hari, saat kami semua berkumpul di taman, reza berkata “sekarang giliran kami ke rumah mu”. Reza mengatakannya kepada zizi.
“Lebih baik tidak usah”. Balas zizi.
“Kamu curang!”. Celoteh windi.
Begitupun reza dan naresh ikut menyerang zizi, sehingga zizi tidak punya alasan untuk menghindar dari desakan aku, reza, naresh dan windi.
“Oke… Oke… Kita akan kerumahku sekarang”. Zizi mengatakannya sambil berjalan menuntun kami menuju rumahnya yang cukup jauh dari taman. Kira-kira berjarak 1Km.









