Claw Wolves (Bagian IV)
Keesokan harinya, aku ingin mengajak zizi sarapan. Akupun menghampiri kamar zizi, namun setelah hampir 10 kali aku menekan tombol bel, tetap saja aku tak mendapatkan jawaban apa-apa. Mungkin saja zizi sedang beristirahat, sebab kejadian malam tadi, cukup melelahkan, hingga kami harus beristirahat hampir pukul 03:00 pagi. _ sepertinya aku harus sarapan sendiri.
Sesampainya di restaurant hotel, aku terkejut melihat zizi dan lia yang tengah duduk bersantai sambil menikmati teh. _ setelah mengambil beberapa makanan yang tersedia, aku langsung menghampiri zizi dan lia. Belum sempat aku menduduki kursi, aku langsung mendapatkan kritikan pagi ini oleh zizi. “Apa bangun telat itu harus ya bagi semua cowok?”. Sambil memperlihatkan jam tangannya yang menunjukkan pukul 09.15 kepadaku.

Sejak kapan kalian disini?”. Tanyaku.
Lia menjawab ” Aku sekitar setengah jam yang lalu, namun zizi sepertinya sudah sejam lebih dulu”.
Tak lama kemudian, zizi menerima telfon, lalu berdiri dan menjauh. Aku penasaran apa yang dia bicarakan. Sehingga aku terus saja menatapnya berjalan.
“Eehhmm…” Suara batuk kecil lia, yang seperti menegurku.
Saat tatapanku kembali ke makanan yang tengah aku santap, lia bertanya “apa kamu menyukai zizi?”. Sambil tersenyum tipis.
“Memangnya ada cowok yang tidak tertarik pada zizi?. Balas ku.
Lia menegaskan asumsinya “Aku seorang wanita, jadi aku tidak bisa menjawabnya. Namun yang pasti, aku tau kamu menyukai zizi”.
“Lebih tepatnya mungkin aku mengaguminya kak”. Balas ku lagi.
Selesai sarapan, zizi belum juga kembali, akupun bercerita sedikit, bagaimana aku bisa berteman dengan zizi kepada lia sambil menikmati kopi, dan menunggu zizi. _ 15 menit kemudian zizi datang memberikan informasi tentang keberadaan orang tua dan adik lia. Secara spontan lia langsung bertanya. Namun zizi meminta lia untuk tetap tenang. Zizi berjanji pada lia, sebelum operasi penyerangan terhadap kelompok pulsan oleh kelompok basang nanti, keluarga lia akan diselamatkan lebih dulu. Mendengar janji zizi, lia langsung memeluk zizi sangat erat sambil meneteskan air mata.
Setelah moment haru itu, zizi mengajak aku dan lia ke kamarnya. Sesampai dikamar, zizi mengunci pintu. Kemudian meminta lia menghubungi dani. Zizi berpesan untuk mempersiapkan 2 unit pasukan yang dipersenjatai. Unit pertama berjumlah kan 100 orang, sedangkan Unit kedua berjumlah 50 orang. _ tentunya negosiasi ini tidak mudah. Karena jumlah yang diminta zizi sangat banyak, dan akan menghabiskan 90% sumber daya, serta anggota kelompok basang.
Melalui handphone lia, zizi berkata pada dani “tanyakan pada ketua kalian, apa dia serius ingin menumbangkan kelompok pulsan dan menguasai sumnang atau tidak?!”. Kemudian zizi menutup pembicaraan dengan dani.
Zizi mengatakan padaku, bahwa dia akan pergi sendiri tanpa kami. “Aku akan memimpin pasukan basang sendirian”. Kata zizi kepadaku.
“Aku akan pergi ke kesana tanpa persetujuanmu!”. Balas ku.
“Kamu bertugas untuk menjaga kak lia, tolong jangan ganggu aku dengan kehadiranmu disana, tomy!”. Tegas zizi.
Kami berdebat soal keterlibatan ku selama setengah jam. Aku berusaha meyakinkan zizi, namun zizi selalu menolak. Karena zizi tidak ingin membahayakan diriku disana. Pastinya aku tidak akan membiarkan zizi pergi berperang sendirian.
“Aku akan tetap pergi, walaupun kau tembak kedua kakiku”. Tegasku.
Akhirnya zizi menyerah, namun memberikan syarat untukku. “Kalau begitu, turuti semua perintahku. Karena rencana ku akan berhasil, jika semua bergerak sesuai instruksi dariku”.
Pernyataan zizi tersebut mengakhiri perdebatan kami. Kemudian zizi memerintahkan lia kembali ke kamarnya, sedangkan aku diperintahkan untuk ikut bersamanya. _ kamipun pergi dari hotel menggunakan mobil fortuner yang diberikan rekan zizi malam kemarin.
Setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam, sampailah kami di sebuah perkampungan yang dipenuhi sawah serta jenis-jenis pertanian lainnya. _ aku dan zizi memasuki salah satu rumah petani. Didalamnya zizi berbicara pada seseorang. Kemudian petani tadi mengajak keluar melalui pintu belakang rumahnya. Sepertinya kami akan menuju gudang peralatan sang petani yang sangat besar, lebih kurang gudang itu berukuran 25×8 meter.
Didalam gudang dipenuhi alat-alat pertanian, juga terdapat 2 traktor besar dan 1 traktor kecil. _ apa yang akan kami lakukan disini, fikirku. Kemudian petani tadi mengambil beberapa peti yang disembunyikan sebelumnya. Saat petani itu membuka petinya, aku bergemetar serta sedikit berkeringat melihat isi peti yang dipenuhi berbagai jenis senjata beserta amunisi.
“Apa ini cukup, nona”. Kata sang petani kepada zizi.
“Untuk melatih seorang amatiran, ini sudah lebih dari cukup”. Balas zizi kepada petani tersebut.
Aku berfikir, orang ini bukanlah petani. Karena tidak mungkin petani mempunyai pasokan senjata seperti ini.
Sambil mengambil senjata glock 18 lalu mengokangnya, zizi berkata “jika kamu beranggapan dia bukan petani, memang dia bukan petani. Tetapi dia kepala petani didesa ini”. Sambil tersenyum bercanda kepadaku.
Kemudian zizi memberikan senjata yang telah dikokangnya kepadaku. Dan arena latihan menembak telah disiapkan oleh sang kepala petani, tepat setelah membuka petinya tadi. _ kini ada target berjarak 15 meter didepanku.
Aku masih merasa ‘shock’ dan tidak berani mengambil senjata yang berada ditangan zizi.
“Baiklah, aku akan memberikan contoh terlebih dahulu”. Kata zizi, sambil bersiap-siap untuk menembak.
Dooor…
Dooor…
Dooor…
3 tembakan dilesatkan zizi, dan ketiganya tepat mengenai sasaran bagian kepala target.
“Kita tidak punya banyak waktu, aku harus bisa mengajarimu dalam waktu 2 hari ini, jika kamu memang ingin ikut bersamaku”. Kata zizi, sambil memegang tanganku dan menaruh senjata yang digunakannya tadi ketanganku.
Zizi menuntunku, mengarahkan badanku kearah target. Kemudian memelukku dari belakang, sambil menuntun kedua tanganku memegang senjata. Setelah posisiku telah benar, zizi menyuruhku untuk melepaskan tembakan, seraya berkata “rileks saja tom, lihat kearah target dan tarik pelatuknya”.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk melepaskan tembakan.
Dooor…
Tembakan pertama meleset.
Dooor…
Tembakan keduapun meleset.
Dooor…
Tembakan ketiga akhirnya mengenai bagian badan dari target.
“Kamu gerogi dengan pelukanku atau senjatanya”. Tanya zizi yang berusaha untuk membuatku sedikit rileks dengan leluconnya.
Sebenarnya aku senang, karena pelukan zizi sedikit membuatku berani. _ zizi menyuruhku kembali menembak, sedangkan dia mempersiapkan glock 18 satu lagi untuk digunakannya. Akupun menembak hingga kehabisan amunisi, tanpa mengenai target satupun.
Sebelum menembak zizi meminta kepala petani tadi untuk menyediakan 5 target didepannya. Kemudian zizi menembak ‘headshot’ kelima target tersebut dengan 5 tembakan. _ zizi mengambil senjataku dan memberikan senjatanya, kemudian kembali memelukku dari belakang seperti tadi. Zizi memerintahkan ku untuk fokus sebelum menembak. _ akhirnya aku menembakkan 5 peluru ke arah 5 target tadi, dan kelima peluru tadi, semuanya mengenai target. Akupun terkejut dengan hasilnya. Aku sempat berfikir, mungkin aku memiliki bakat dalam menembak.
“Tomy, aku tidak punya waktu untuk memelukmu saat kita berperang nanti, jadi kamu harus bisa nyaman dengan senjatamu tanpa pelukanku”. Kta zizi sambil tertawa. _ dan kepala petani juga ikut tertawa.
Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan bertanya kepada zizi “apa ini (glock 18) jenis senjata favouritmu?”.
Zizi mengambil senjata dari belakang bajunya dan menunjukkan kepadaku sebuah senjata yang bernama ‘baikal makarov’, sambil berkata “ini kekasih gelapku”.
Aku terkejut, sejak kapan senjata itu ada padanya?, atau jangan-jangan selama ini senjata itu selalu bersamanya, tanpa aku ketahui.
Tanpa disadari, aku sedikit termotivasi, dan terus berusaha melakukan yang terbaik. _ tak tau kenapa, sepertinya aku mulai candu menembak. _ selama 2 hari sebelum H-1 pertempuran yang akan kami hadapi, aku selalu diajak zizi ke desa ini untuk berlatih menembak, hingga tangan dan jariku terasa sakit.









