Burung Hantu (Bagian I)
Hari ini, merupakan Hari pertama ku berseragam dinas sebagai Polisi Republik Donesivia (POLREVIA). _ aku ditugaskan di Kepolisian Kota Besar (POLTABES) Vervia barat yang berada di Provinsi Vervia (ibu kota negara Donesivia).
Zizi meminta bantuan kakek nya yang memiliki banyak relasi untuk menempatkan aku dan dirinya berada di tempat kerja yang sama, yakni sebagai anggota POLTABES Vervia barat. Bukan hanya berada dikantor yang sama, kebetulan tanpa disengaja aku dan Zizi juga berada dalam tim yang sama.

Ada satu regulasi di Kepolisian Donesivia yang membuat nama kami tidak terdaftar didalam jajaran anggota POLTABES Vervia barat bahkan di Kepolisian Donesivia saat ini. Regulasi tersebut diberlakukan kepada aku dan Zizi, karena kami berada dalam unit intelejen khusus dan bersifat rahasia, yang bernama ‘Burung Hantu’. _ suatu unit yang langsung dibawahi oleh Kasat Intelejen dan Keamanan (KASAT INTELKAM) bernama ‘Doni’ yang berpangkat perwira menengah kepolisian: Komisaris Polisi (KOMPOL).
Selama berada didalam Unit Burung Hantu, kami tidak akan membutuhkan seragam Dinas lagi. Dan kami pun memiliki kantor rahasia yang sulit untuk di prediksi keberadaannya.
Sebanyak 10 perwira pertama berpangkat IPDA dikumpulkan, kemudian diberikan pengarahan selama 2 jam didalam ruangan Kepala Polisi Kota Besar (KAPOLTABES) Oleh Kasat INTELKAM. Setelah pengarahan selesai, kami pun diberi waktu 1 jam untuk berganti pakaian layaknya warga sipil biasa.
Saat menuju tempat parkir, Zizi masih berusaha membujukku untuk tinggal dirumahnya. Namun aku tetap menolak dan lebih memilih menyewa rumah sendiri. _ tidak mungkin aku akan tinggal serumah dengan Zizi, sedangkan kami belum menikah. Apalagi Zizi tidak tinggal bersama kakeknya, karena kakek Zizi saat ini berada di Kota Vervia Pusat.
Zizi seperti tak puas dengan keputusanku yg memilih tinggal dirumah sewa, dia kembali mengajukan tawaran lainnya.
“Tom. Aku punya rumah di ‘Villa Indah Permai’ yang hanya berjarak sekitar 5km dari rumahku”. Kata Zizi sambil menatapku.
Tepat didepan lokasi parkir mobil, Zizi mengehntikan langkahnya, kemudian kembali berusaha membujukku untuk menerima tawarannya. ” Setidaknya kamu bisa menghemat biaya pengeluaran bulanan mu jika tinggal disana!”. Tegas Zizi.
Namun aku tetap menolaknya. “Zi, setidaknya biarkan aku belajar bertanggung jawab kepada diriku sendiri”. Bantahku.
Di area parkir aku tidak melihat mobil audy milik Zizi. “Dimana mobil kesayanganmu?”. Tanyaku pada Zizi, sembari mengalihkan topik pembicaraan kami.
“Yang benar aja. _ gak mungkin aku membawa mobil yang levelnya diatas mobil atasan kita!”. Jawab Zizi sambil tersenyum tipis.
Menurutku Zizi ada benarnya. Dia tidak ingin terlihat mencolok atas apa yang dimilikinya. Oleh karena itu, Zizi memutuskan hanya menggunakan Honda Civic miliknya. Akan tetapi, Mobil Honda Civic seharga setengah miliyar yang dia gunakan saat ini pun sudah cukup untuk membuat dirinya mencolok diantara Perwira lainnya.
“See you Zi”. Kataku sambil melambaikan tangan.
Saat hendak memasuki mobil, Zizi membalas lambaian tanganku. Sembari berkata “Miss You too”. Kemudian melemparkan senyumannya yang sungguh menawan.
Aku pun tertawa karena kelucuannya sekaligus membuatku merasa bahagia.
Setelah sampai dirumah, aku mendapatkan pesan whatssap (WA) dari pak kasat yang berisikan Shareloc tempat yang akan menjadi kantor rahasia Unit Burung Hantu.
Setelah berganti pakaian, aku bergegas menuju lokasi yang telah dikirim.
Setibanya di lokasi, aku merasa bingung. Karena gedung yang akan kami gunakan sebagai kantor Unit Burung Hantu adalah sebuah gedung penjualan Komputer terbesar di Kota ini. Aku mencoba mengamati sekitar gedung bertingkat 3 tersebut, namun semua terlihat normal. _ Tak lama kemudian aku kembali mendapat pesan WA yang berisi “datangi pelayan yang berbaju hitam, kemudian sebutkan kata sandi (mataku harus tetap terjaga)”.
Saat hendak memasuki gedung, Zizi datang. Aku pun memasuki gedung tersebut bersama Zizi. _ Setelah kami mengatakan sandi pada seorang pelayan yang berbaju hitam, kami pun diantar ke lantai 3. _ ternyata lantai 3 sepenuhnya milik kami. Segala macam peralatan, teknologi, bahkan senjata tersedia didalamnya.
Setelah 10 orang perwira yang menjadi anggota Unit Burung Hantu berkumpul, kami pun diperkenalkan kepada 8 orang petugas Informasi Teknologi (IT) yang akan bekerjasama dengan kami dari kantor untuk memberikan bantuan informasi saat kami berada dilapangan.
Setelah saling berkenalan, Pak Kasat mengajak kami untuk mengunjungi setiap ruangan serta memberitahukan fungsinya. Setelah itu, kami kembali diberikan arahan dan pemaparan tugas pokok kami sebagai Unit Burung Hantu.
***
Selama 1 minggu, aku dan Zizi hanya menghabiskan waktu berdua untuk mencari-cari informasi disekitar lingkungan kota Vervia Barat setiap harinya.
Aku dan Zizi lebih tepat disebut sebagai dua sejoli yang sedang berpacaran, dari pada rekan kerja. Karena kami lebih sering menghabiskan waktu bersama di Cafe dan dibeberapa tempat hiburan.
***
Tepat hari kesebelas kami menjadi tim Unit Burung Hantu. Untuk pertama kalinya kami diminta mendatangi kantor saat matahari belum terbit. Sesampainya dikantor, kami langsung masuk ruang pertemuan dan melakukan pembicaraan melalui Video Call pada layar yang tersedia dengan Pak Kasat.
Ternyata pada malam tadi, telah terjadi pencurian pada salah satu toko perhiasan. Dan para pencuri membawa seluruh perhiasan yang nilainya mencapai 1.200.000.000.
Saat ini pihak kepolisian sedang mengelola Tempat Kejadian Perkara (TKP), dan satu-satunya bukti yang bisa kami gunakan untuk saat ini adalah video salah satu tersangka yang sempat melepaskan topengnya, sewaktu hendak memasuki kamar mandi. Video yang CCTV ini, didapat dari salah satu anggota intelejen POLTABES Vervia Barat, dan saat ini masih dirahasiakan dari pihak media. Karena akan lebih baik bagi kami, jika musuh beranggapan kami tidak memiliki informasi apapun tentang mereka.
Setelah para IT mengidentifikasi tersangka, akhirnya kami mendapatkan semua informasi tentang tersangka, termasuk lokasi kediamannya. Sebelum turun kelapangan Pak Kasat meminta Anak Kucing (Nama sandi untuk Zizi) memimpin tim. Memang yang paling pantas sebagai pemimpin diantara kami adalah Zizi. Karena kebetulan sekali, Tim Burung Hantu POLTABES Vervia Barat saat ini, diisi oleh 7 orang pria dan 3 orang wanita. Semuanya merupakan anggota yang baru saja lulus AKPOL.
Dengan penuh percaya diri, Zizi membuka peta untuk memberikan arahan tugas masing-masing, Zizi memerintah kan setiap orang bergerak pada posisi masing-masing.
“Ingat!, hari ini tidak ada penangkapan. Kita harus sedikit bersabar untuk bisa mendapatkan ikan yang lebih besar!”. Kata Zizi.
“Bagaimana dengan aku?”. Tanyaku pada Zizi, karena ada 3 orang termasuk aku belum mendapatkan tugas.
“Kucing Kampung (Nama sandiku) ikut dengan ku, sedangkan Tupai Gendut (pria) dan Kelinci Kurus (wanita) tetap di mobil. Dan salah satu dari kalian harus ‘Standbye’ jika kami membutuhkan bantuan”. Tegas Zizi.
Saat mengatakan nama sandiku, Zizi sedikit tertawa. Sepertinya dia ingin meledekku, karena nama sandiku terdengar lucu untuk disebutkan. Kami tidak bisa memilih nama sandi kami sendiri, karena nama ini didapatkan melalui undian yang ‘fair’ diantara kami.
Setelah semua persiapan selesai, kami turun melalui lift khusus yang langsung menuju gudang belakang. Seluruh kendaraan operasional yang telah di modif untuk berkamuflase terletak di halaman belakang toko.
‘Jerapah Bungkuk’ (pria) menggunakan sepeda motor pengantar makanan, ‘Beruang Kutub’ (pria) menggunakan sepeda motor kurir belanja online dan ‘Rubah Kuning’ (wanita) menggunakan motor sport sebagai anak motor jalanan, sedangkan aku dan yang lainnya masuk ke mobil van yang telah disediakan sebagai mobil utama dalam beraksi.
Sesampainya di lokasi yang ditentukan, aku dan Zizi segera keluar dari mobil dan siap untuk beraksi, sedangkan ‘Tupai Gendut’ dan ‘Kelinci Kurus’ diperintahkan Zizi untuk terus bergerak dalam perimeter yang telah tetapkan menggunakan mobil.
Seluruh tim harus berakting layaknya masyarakat biasa. _ Aku dan Zizi berperan seperti sepasang remaja yang tengah berpacaran. Tentunya ini bukan peran yang sulit bagiku dan Zizi.
Setengah jam berlalu. _ Tiba-tiba dari dalam sebuah cafe, aku melihat target yang sedang berbicara dengan seseorang dipinggir jalan. Setelah aku memberitahu Zizi, dia langsung menginstruksikan untuk seluruh anggota agar bersiap. _ kami akan silih berganti memantau target untuk mendapatkan informasi yang kami inginkan.
Aku dan Zizi mengikuti pria yang menjadi target tersebut. Namun, kami tetap berusaha menjaga jarak aman. Setelah mengikutinya lebih kurang sepanjang 100m, aku dan Zizi berhenti di depan penjual es krim keliling. Karena tugas kami akan digantikan oleh Rubah Kuning yang telah bersiap menunggu sang target sambil menikmati secangkir kopi diatas sepeda motornya.
***
Setiap anggota terus bergerak pada titik tertentu . Agar target tidak lepas, kami harus menjaga setiap persimpangan dan jalur yang ada.
“Target menuju Elang Putih”. Kata Rubah Kuning, tepat setelah target melewatinya.
Elang Putih menginformasikan bahwa target masuk ke dalam sebuah lorong diantara pertokoan. Dan disana telah bersiap ‘Ayam Jantan’ yang akan mengikuti target melalui lorong. _ Karena yang paling dekat dengan ujung lorong saat ini aku, maka aku bergegas menuju ujung lorong. Setelah sampai diujung lorong, aku segera memasang jacket dan topi yang ada didalam tas. Kami berupaya sang target tidak pernah melihat orang yang sama setiap kami bergantian mengikuti dan memantaunya. Oleh karena itu, beberapa peralatan yang digunakan untuk penyamaran harus selalu tersedia.
Akhirnya target pun melewati ku tanpa menyadari dirinya sedang diikuti. Aku mengikuti target sepanjang 50m, kemudian sang target memasuki sebuah gudang kecil. Aku pun secara diam-diam mengambil foto gudang tersebut. Setelah mengambil beberapa foto, aku berganti posisi dengan ‘Harimau Belang’. Hal ini dilakukan, agar saat sang target keluar gudang dirinya tidak sadar sedang di awasi.
15 menit berlalu, akhirnya sang target pun keluar, kemudian menelfon seseorang untuk menjemputnya. Setelah target pergi dengan sepeda motor, Rubah Kuning telah bersiap untuk membuntuti target dengan sepeda motor. Kemudian Aku, Anak Kucing, Elang Putih, Ayam Jantan, dan Harimau Belang bergegas menuju mobil. Setelah mengikuti sepanjang 500m, sang target sedikit curiga. Oleh karena itu, Zizi memerintahkan Rubah Kuning untuk keluar dan digantikan oleh Jerapah Bungkuk yang telah berada didepan target. Jerapah bungkuk pun mengikuti target hingga persimpangan selanjutnya. Sesampainya target di persimpangan, Jerapah Bungkuk pun keluar. karena target akan belok kanan. Aku dan Zizi yang telah berada di mobil van pun bersiap mengikuti target.
“Kita sepertinya tidak bisa meneruskan pengintaian bos”. Kata Tupai gendut, sambil memperlambat kecepatan mobil. _ karena sang target memasuki jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor.
Beruang Kutub bersiap”. Perintah Zizi kepada Beruang Kutub untuk melanjutkan pengintaian. Beruang kutub pun terus mengikuti target, hingga akhirnya sang target masuk kedalam sebuah rumah yang seperti tak berpenghuni. Akan tetapi saat target bersama temannya yang mengendarai sepeda motor memasuki pekarangan rumah tersebut, keluarlah 2 orang dari rumah tersebut. Setelah memastikan lingkungan sekitar aman, mereka pun masuk kedalam rumah. Dari jarak 30m Beruang Kutub berhasil mengambil foto mereka berempat.
“Oke, cukup. Semuanya kembali ke kantor”. Perintah Zizi melalui perangkat komunikasi.
Esok harinya saat semua telah berada dikantor, Zizi menampilkan foto-foto yang sempat kami ambil. Saat Zizi menampilkan foto gudang, dia memerintahkan kepada Kelinci Kurus, Jerapah Bungkuk dan Beruang Kutub sebagai tim 1 untuk mencari informasi apa yang ada didalam gudang tersebut. Sedangkan Rubah Kuning, Harimau Belang, serta Tupai Gendut sebagai tim 2 diperintahkan untuk mencari informasi tentang rumah yang dimasuki target kemarin. Lalu Ayam Jantan dan Elang Putih akan menjadi ‘back up’ bagi tim 1. Sedangkan Aku dan Zizi akan menjadi ‘back up’ bagi tim 2.
Setelah meminta bantuan identifikasi data kependudukan serta informasi penting lainnya tentang target pada tim IT yang berada didalam kantor, kami pun semua kembali turun ke lapangan sesuai instruksi Zizi.
Setelah selama 8 jam mmengintai, tim 1 melaporkan bahwa telah terjadi aktifitas 6 kali orang yang berbeda mendatangi gudang. Terdapat kesamaan yang cukup aneh. Setiap orang yang masuk kedalam gudang, akan keluar setelah 15 menit berlalu. _ kami masih tidak tau, apa yang ada didalam gudang tersebut. Akan tetapi, ke 6 orang tersebut membawa tas ransel yang sama persis. _ Sedangkan kami tim 2, belum mendapatkan informasi apapun dari rumah yang dimasuki target.
1 jam kemudian, akhirnya tim 2 melaporkan ada aktifitas didalam rumah tersebut. Ada 11 orang yang masuk, kemudian keluar membawa kantong plastik berwarna hitam. Zizi langsung mencurigai bahwa sang target merupakan kaki tangan bandar narkoba. Dan gudang yang sedang diawasi oleh tim 1 merupakan tempat penyimpanan narkoba.
Akhirnya Zizi mencukupkan pengintaian untuk hari ini. “Oke semuanya, kita istirahat dulu. Dan besok pagi kita laporkan kepada Pak Kasat”. Kata Zizi sebelum mematikan alat komunikasinya.
“Tom. Besok 1 jam sebelum ke kantor, jemput aku ya. Kita datangi gudang itu!”. Kata Zizi padaku, sebelum kami bubar dari kantor.
Zizi beranggapan, akan lebih mudah bergerak menggunakan sepeda motor dari pada mobil untuk melakukan pengintaian langsung ke area sekitar gudang. Belum sempat aku menyetujui untuk menjemputnya esok hari, Zizi kembali berkata “lebih baik CB-R mu kita gunakan untuk hal-hal tertentu, pastinya akan lebih memudahkan kita. Dan kamu pakai saja mobil Fortuner ku. Lagi pula aku tidak sempat merawatnya, dan mungkin kamu bisa membantuku untuk merawatnya”.
Aku berasumsi bahwa Zizi masih berusaha untuk memanjakanku dengan fasilitas miliknya, dengan berbagai alasan. Akan tetapi, aku fikir kali ini Zizi ada benarnya. Dengan menggunakan sepeda motor untuk pergerakan diluar prosedur, merupakan ide yang cukup bagus.
***
Keesokan harinya, aku datang 1 jam lebih awal sesuai perintah Zizi. _ Tidak ingin membuang waktu, aku dan Zizi langsung menjalankan aksi. _ Sesampainya di gudang tersebut, Zizi memintaku ‘standbye’ di sepeda motor dengan keadaan menyala.
“Tunggu disini”. Kata Zizi.
“Zi, apa yang ingin kamu lakukan?” Tanyaku.
Kemudian Zizi berjalan cepat menuju gudang tanpa menjawab pertanyaanku. Terlihat Zizi berusaha mencari celah untuk dapat mengintip apa yang ada didalam gudang. Zizi membuka jendela samping di bagian belakang dengan sebilah pisau. Ketika dia berhasil membukanya, Zizi mulai melihat-lihat ke bagian dalam gudang. Tak puas hanya melihat dari jendela, akhirnya Zizi pun melompat masuk kedalamnya.
15 menit berlalu, Zizi keluar dari jendela yang sama, lalu berlari kecil kearahku.
“Ayo jalan”. kata Zizi sambil memasang helm.
Sesuai dengan perkiraan Zizi, bahwa gudang tersebut merupakan tempat penyimpanan narkoba. Zizi berhasil mengambil bukti berupa foto seluruh isi gudang. Dan Zizi juga telah memprediksi, seluruh orang yang didalam gudang masih tertidur pulas, dan akan tetap seperti itu hingga matahari berada pada posisi yang cukup tinggi. Karena mereka bukanlah kelompok mafia, melainkan hanya sekelompok preman yang beranggapan diri mereka hebat dan telah se-level mafia. Tentunya kebiasaan mereka begadang sampai pagi, lalu bangun pada siang hari, merupakan aktifitas rutin mereka dan Zizi telah memprediksi hal itu sebelum beraksi.
Zizi mengetahui segala perbedaan dan kebiasaan dunia hitam. Apa dia telah terlalu dalam memainkan peran sebagai seorang petinggi mafia?. Fikirku. _ Akan tetapi, sekarang dia adalah seorang Polisi. _ aku bertanya-tanya didalam hati, sebenarnya peran seperti apa yang sedang dimainkan oleh Zizi saat ini. Karena dia seperti sebuah coin yang memiliki dua sisi yang berbeda, namun tidak dapat dipisahkan.









