“AKSIOMA” Edisi II (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Kamis)

Burung Hantu (Bagian II)

Sebelum menuju kantor, Zizi membawaku ke salah satu bengkel otomotif miliknya.

Sesampainya di bengkel, Zizi langsung memerintahkan seseorang untuk membawa sepeda motorku masuk kedalam sebuah garasi. Lalu Zizi melemparkan kunci mobil Fortuner nya kepadaku.

“Ayo kita berangkat” Kata Zizi sambil berjalan menuju halaman belakang. Akupun mengikutinya. _ Kami pun segera pergi menuju kantor menggunakan mobil tersebut.

Hari ini akan ada pertemuan dengan Pak Kasat untuk melaporkan informasi yang didapat, serta menyusun langkah aksi selanjutnya.

Informasi tentang kasus pencurian pada toko perhiasan, belum banyak terkumpul. Akan tetapi, kami mendapatkan informasi penting soal peredaran narkoba di Vervia Barat. Ini seperti ingin menangkap udang, malah gurita yang didapat.

Sesampainya dikantor, rapat pun dimulai. Dalam rapat Zizi mengemukakan seluruh bukti-bukti, termasuk bukti yang baru saja kami dapatkan.

Pak Kasat memberikan saran untuk melakukan penangkapan pada saat sang target berada di gudang tersebut. Namun, Zizi menolaknya.

“Pak, beri kami waktu 3 bulan lagi, maka kita akan meringkus tersangka pencurian serta membongkar rantai peredaran narkoba yang lebih besar lagi”. Kata Zizi kepada Pak Kasat.

“3 bulan itu terlalu lama”. Balas Kasat.

“Benar Pak. Akan tetapi, aku yakin ada seseorang yang berpengaruh di balik layar yang mengendalikan gudang tersebut”. Sahut Zizi.

“Aku beri kalian waktu 1 bulan. Akan tetapi, sesuai instruksi pak Kapolres, prioritas kita adalah kasus pencurian”. Kata pak Doni sambil menutup rapat pagi ini.

Zizi pun membagi 5 kelompok (2 orang per-kelompok), kemudian memerintahkan seluruh tim berpencar untuk mencari informasi tentang peredaran Narkoba yang tersebar berbagai penjuru Vervia Barat.

Kami semua terus bergerak serta menggunakan informan kami masing-masing. Akhirnya tepat pukul 13:45, Rubah Kuning dan Beruang Kutub memberikan informasi bahwa dia menemukan orang yang diduga salah satu dari 11 orang yang berada dirumah saat kami melakukan pengintaian kemarin. Kemudian Rubah Kuning memberitahukan lokasinya sambil terus mengawasi.

Zizi memintaku untuk berputar arah menuju lokasi Rubah Kuning saat ini, sedangkan yang lain sebagian tetap mengawasi gudang tempat penyimpanan narkoba dan sebagian lagi mengamati aktifitas sang target hari ini.

Sesampainya di lokasi, Zizi meminta Rubah Kuning dan Beruang Kutub untuk mengawasi sebuah rumah yang kami curigai sebagai salah satu komplotan pencurian toko perhiasan.

Zizi memimpin tim ini dengan baik. Dia ingin meringkus seluruh pelaku pencurian sekaligus menghabisi para pengedar narkoba dalam waktu yang bersamaan.

intuisi Zizi mengatakan, ada keterkaitan salah seorang pelaku pencurian dengan bisnis narkoba di kota ini.

Aku dan Zizi terus mengamati salah satu ‘Anak Anjing’ (nama kode untuk dari salah satu anak buah target pelaku pencurian yang ditemukan oleh Rubah Kuning tadi. _ Sedangkan sang target pelaku pencurian yang sekaligus merupakan salah satu bandar narkoba kota ini di beri nama kode ‘Induk Anjing’).

Lebih dari 1 jam kami mengawasi Anak Anjing yang sedang menunggu serta melayani pelanggannya. Akhirnya Zizi beraksi pada saat di lingkungan sekitar tidak terdapat saksi mata. Zizi memasang penutup jacket hoodie dan masker untuk menutupi wajahnya sambil mendekat perlahan, kemudian setelah berjarak 5m dari Anak Anjing, Zizi mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke Anak Anjing.

“Polisi!. Jangan bergerak!”. Bentak Zizi kepada Anak Anjing.

Saat Zizi melihat sang Anak Anjing ingin kabur, dengan sigap Zizi langsung berlari, kemudian melayangkan tendangan terbangnya yang tepat mengenai punggung belakang Anak Anjing, sehingga membuat Anak Anjing tersungkur.

” Sekali lagi kamu mencoba untuk kabur, maka peluru pistol ini yang akan menghantam mu”. Gertak Zizi kepada Anak Anjing.

Mendengar gertakan Zizi, sang Anak Anjing langsung berlutut seraya meminta ampun. Kemudian Zizi memasang kan borgol ke tangan Anak Anjing tersebut. _ Melihat Zizi membawa Anak Anjing kearahku, aku pun segera mengenakan topi dan memasang masker untuk menyembunyikan wajahku dari Anak Anjing.

Aku dan Zizi menyembunyikan wajah serta identitas kami, dikarenakan oleh aturan didalam Unit Burung Hantu yang melarang kami bergerak sebagai polisi pada umumnya. Kami pun harus tetap menjaga kerahasiaan diri kami saat ingin melakukan penangkapan, apalagi penangkapan kali ini bersifat ilegal. Jika ada yang mengenal kami, maka secara otomatis kami tidak akan ditugaskan lagi pada Unit Burung Hantu.

Aku dan Zizi membawa Anak Anjing kedalam mobil van yang telah terparkir diseberang jalan. Sesampai didalam mobil, Zizi langsung mengenakan kaca mata hitamnya, agar si Anak Anjing tidak bisa mengenali sedikitpun wajahnya, kemudian Zizi memainkan permainan mental untuk yang membuat si Anak Anjing prustasi dengan cara memain-main kan pistol dihadapannya tanpa berbicara sepatah katapun. _ aku terus menjalankan mobil, sambil sesekali melihat kearah belakang melalui kaca tengah mobil.

Setelah setengah jam kami berjalan, Zizi hanya menatap tanpa bertanya satu hal pun dari Anak Anjing. Zizi melakukannya agar si Anak Anjing mengalami ‘Anxiety Disorder’ (gangguan mental yang menyebabkan rasa cemas dan takut berlebihan).

Setelah Anak Anjing merasa sangat ketakutan, Zizi mulai menenangkannya dengan berkata “aku tidak akan memenjarakanmu, asalkan kamu mau membantuku”.

Zizi pun mulai menanyai tentang Induk Anjing kepadanya, terutama soal kasus pencurian toko perhiasan. Dengan nada penuh rasa takut, Anak Anjing berkata “aku tidak terlibat didalam perampokan tersebut”.

” Aku tau. Aku hanya ingin bertanya soal Orang-orang disekeliling nya”. Sahut Zizi.

Zizi meminta satu nama untuk disebut sebagai ganti dirinya. Tanpa susah payah si Anak Anjing menyebutkan 1 nama yang kemungkinan adalah otak pelaku pencurian sekaligus pemimpin kelompok.

Akhirnya kami mendapatkan sebuah nama serta ciri-ciri pria yang dimaksud, kami pun melepaskan Anak Anjing di suatu tempat sunyi yang jarang dilewati oleh siapapun. Sambil membuka borgolnya, Zizi berkata “jika kamu tidak mendapatkan fotonya dalam waktu 1 minggu, maka hanya ada 2 pilihan untukmu. Yakni penjara atau mati dengan peluru bersarang di kepalamu”. Kemudian Zizi mendorong keluar si Anak Anjing.

Setelah kami pergi meninggalkan Anak Anjing, Zizi memberiku pelajaran tentang yang baru saja dilakukannya. Jika kami menangkap Induk Anjing, mungkin saja kami tidak akan mendapatkan informasi apapun. Induk Anjing akan berfikir tidak ada gunanya memberikan informasi, sebab tidak akan menguntungkan baginya, malah hanya akan membuat keadaan menjadi sulit.

Oleh sebab itu, Zizi mencari orang yang berkemungkinan tinggi mau menukar informasi dengan keselamatan dirinya.

Aku dan Zizi baru saja lulus AKPOL dan belum lama menjadi polisi. Akan tetapi, Zizi bekerja seperti seorang detektif senior yang telah berpengalaman selama puluhan tahun. Sepertinya aku akan selalu berada dibawah level Zizi. Namun aku tidak boleh menyerah dan harus bisa menyainginya suatu saat nanti.

4 hari berlalu, saat aku dan Zizi sedang menyusun rencana bersama anggota lain. Tiba-tiba si Anak Anjing mengirim foto yang kami inginkan. Pria tersebut bernama ‘Romi’. _ setelah memberikan foto ke bagian IT untuk dilacak identitasnya secara detail, Zizi langsung melepaskan serta membuang nomor yang dipakainya untuk berkomunikasi dengan si Anak Anjing tadi. _ Ternyata yang diberikan Zizi kepada Anak Anjing hanyalah nomor yang digunakannya sekali pakai, bukan nomor ponsel asli miliknya.

Aku terus mempelajari cara Zizi, dan akan menerapkannya untuk diriku.

“Oke, sekarang kita telah memiliki info tentang ‘Herder’ yang merupakan otak pelaku pencurian”. Kata Zizi kepada tim. _ sepertinya Zizi suka memberi nama sandi pada target dengan nama-nama anjing.

Dari data yang didapat, Herder merupakan seorang pengusaha yang bergerak dalam bidang hiburan malam. Dia memiliki club malam yang cukup besar dikota ini.

“Mungkin saja alasannya mencuri untuk mendapatkan modal, agar bisa mengembangkan usahanya”. Fikirku.

Kemudian Zizi memerintahkan kepada tim untuk memantau setiap pergerakan Herder, agar bisa menemukan seluruh tersangka.

Kami pun memulai pengintaian, seperti yang dilakukan kepada Induk Anjing sebelumnya. Setelah lebih dari 2 jam menunggu, akhirnya Herder pun keluar menggunakan mobil ‘Pajero Sport’.

Semua tim kini mengintai menggunakan sepeda motor, kecuali Beruang Kutub & Kelinci Kurus yang menggunakan mobil. _ setiap 1 sampai 2 kilometer, kami bertukar posisi agar target tidak menyadari dirinya sedang diawasi. Namun saat giliran Rubah Kuning yang mengikutinya, sang Herder berhenti pada sebuah cafe. _ Saat hendak memasuki cafe, tiba-tiba saja Herder melihat kearah Rubah Kuning. Sepertinya sang Herder mencurigai Rubah Kuning, mungkin saja dia melihat Rubah Kuning lebih dari satu kali selama di perjalanan. Karena penampilan Rubah Kuning yang sedikit mencolok dengan menggunakan jacket kulit seperti anggota geng motor, sehingga membuat dirinya mudah diingat.

Tibalah saat yang menegangkan. Si Herder dengan gaya nya yang dingin, mulai berjalan kearah Rubah Kuning, sepertinya dia akan mendatangi Rubah Kuning.

Melihat keadaan yang seperti itu, aku pun langsung berlari menuju Rubah Kuning. _ untungnya aku tepat waktu, saat si Herder tinggal 10 langkah lagi sampai dihadapan Rubah Kuning. Aku langsung menghalangi pandangan Herder, kemudian berkata “sayang, kamu dari mana saja. Aku sudah hampir 1 jam menunggumu”.

Sambil membuka kaca helm nya. “Maafkan aku…….. “. Kata Rubah Kuning.

Belum sempat Rubah Kuning menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menyahutnya. “kalau begitu ayo kita masuk, aku sudah lama menunggumu”. Sambil menggandeng tangan Rubah Kuning berjalan menuju cafe. Aku harap Zizi tidak cemburu dengan apa yang aku lakukan. _ Karena aku melakukannya demi menyelamatkan tim.

Sesampainya didalam cafe, aku meminta salah seorang dari tim yang terdekat dari posisi kami saat ini untuk melanjutkan pengintaian. Karena aku rasa hari ini, aku dan Rubah Kuning tidak dapat melanjutkan permainan.

“Biar aku saja”. Kata Jerapah Bungkuk.

Selama didalam cafe aku berusaha bersikap mesra, begitupun Rubah Kuning. _ Sang Herder sesekali menatap ke arah kami sambil berbicara dengan 2 orang temannya, sang Herder sepertinya ingin memastikan bahwa dirinya sedang tidak diawasi.

Setengah jam berlalu, akhirnya sang Herder pun pergi meninggalkan cafe.

Setelah kejadian tadi, aku dan Rubah Kuning tidak bisa lagi bermain dengan si Herder. Akan tetapi, kami bisa bermain dengan 2 orang temannya.

Kami pun mencoba mengikuti 2 anggota Herder secara bergantian. _ Pengintaian berakhir pada sebuah gedung kosong yang berada tepat disebelah club malam milik sang Herder. Setelah mengambil beberapa foto secara diam diam, kami pun segera menuju kantor.

Kurang dari 1 jam berlalu, satu persatu anggota tim Burung Hantu Vervia Barat pun mulai datang ke kentor. _ Sebelum aku melaporkan hasil pengintaian bersama Rubah tadi, Zizi memberi tau terlebih dahulu tentang sang Herder yang sepertinya ingin membeli senjata api dari pasar gelap.

“Ayam Jantan, nanti malam kamu ikut bersamaku ke club malam milik sang Herder. Kita berangkat pukul 22:00. Kata Zizi.

Tentunya aku merasa cemburu, kenapa Zizi mengajak Ayam Jantan bukannya aku yang merupakan kekasihnya?!. _ aku tau Zizi pergi ke club malam tersebut untuk menjalankan misi, akan tetapi aku tetap tidak bisa menerimanya.

Setelah semua laporan disampaikan, dan diberikan kepada anggota IT yang berada didalam kantor, Zizi pun menginstruksikan untuk bubar.

****

Sejak di kantor hingga saat ini, perasaan ku dihantui kegelisahan. Berbagai pertanyaan spekulasi hadir didalam otakku. _ Hal itu disebabkan oleh perasaanku yang masih tidak rela Zizi akan pergi ke club malam bersama Ayam Jantan.

Aku berfikir “Kita tidak akan pernah tau seberapa dalam suatu lautan, jika kita tidak mencoba menyelaminya”.

Tentu saja aku tidak bisa diam begitu saja, karena itu tidak akan menyelesaikan apa-apa dan tidak akan menjawab kegelisahanku. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi Zizi kerumahnya tepat pukul 20:00.

Tanpa basa basi, saat Zizi membuka pintu gerbang rumahnya. Aku langsung bertanya pada Zizi. “apa maksudmu, tidak pergi bersamaku ke club malam itu zi?!”.

“Kalo kamu bisa bermesraan dengan anggota tim lain, aku juga bisa tom!”. Kata Zizi dengan nada cemburu.

Apa yang aku khawatirkan ternyata benar, Zizi cemburu dengan kemesraan aku bersama Rubah Kuning tadi. Apalagi Rubah Kuning juga termasuk Polisi Wanita yang cukup menarik dan memiliki paras cantik. Saat masih di AKPOL Rubah Kuning juga memiliki banyak penggemar, walau tidak fenomenal seperti Zizi yang dianggap sebagai wanita sempurna oleh seluruh taruna AKPOL saat itu. _ ditambah lagi apa yang aku bicarakan dengan Rubah Kuning, Zizi tetap bisa mendengar pembicaraan kami melalui ‘earphone’ miliknya.

Setelah melihat raut wajah cemburu Zizi. _ Aku pun tersenyum, karena ekspresinya yang begitu lucu dan menggemaskan.

“Jadi kamu cemburu?! “. Tanyaku sambil menahan tawa.

“Apa menurutmu itu hal lucu?! “. Kata Zizi yang mengetahui aku sedang menahan tawa.

Aku mencoba menjelaskan kepada Zizi, bahwa “aku tidak punya pilihan. Karena bagaimana pun juga, kita harus menyelamatkan Rubah Kuning dari penyamarannya. Sedangkan kamu memiliki pilihan saat memutuskan akan pergi ke club malam ini bersama siapa!”. Tegasku.

Setelah mendengar penjelasanku, Zizi sempat berfikir sejenak. Sepertinya Zizi mencoba mencerna perkataanku dengan logika, bukan dengan emosi.

Tentunya aku langsung memasang raut wajah iba dan penuh harap. Seperti seorang anak kecil yang mengharapkan dibelikan mainan favoritnya.

Setelah merasa dirinya cukup tenang, Kemudian Zizi berkata “maafkan aku”.

Aku langsung memeluk Zizi sembari berkata “kamu tidak perlu meminta maaf, aku pun bisa merasakannya Zi. _ jika aku berada di posisi kamu, aku juga akan sangat cemburu”.

Aku berusaha memperbaiki keadaan, hingga tak sadar aku memeluknya sangat erat.

“Tulangku bisa remuk, jika kamu peluk seperti ini tom”. Kata Zizi, namun tanpa berusaha melepaskan diri dari pelukanku.

Aku sangat bersyukur, walaupun pelukanku sedikit menyakitinya. Akan tetapi Zizi tetap ingin bertahan dalam pelukanku.

Setelah keadaan kembali kondusif, aku pun mengajak Zizi untuk makan malam bersama. “Zi, aku sampai gak selera makan tadi karena ulahmu. Maukah kamu menemani ku makan malam?”.

Setelah mengangguk, Zizi berkata “tunggu sebentar aku akan telfon Kelinci Kurus untuk menggantikanku malam ini”.

Zizi menjelaskan pada Ayam Jantan dan Kelinci Kurus tentang tugas mereka yang harus berpura-pura mabuk dan masuk ke gedung sebelah untuk memasangkan beberapa alat pengintai didalam serta diluar gedung. Setelah itu, aku pun pergi makan malam bersama Zizi.

Akhirnya kami mendapatkan sebuah nama serta ciri-ciri pria yang dimaksud, kami pun melepaskan Anak Anjing di suatu tempat sunyi yang jarang dilewati oleh siapapun. Sambil membuka borgolnya, Zizi berkata “jika kamu tidak mendapatkan fotonya dalam waktu 1 minggu, maka hanya ada 2 pilihan untukmu. Yakni penjara atau mati dengan peluru bersarang di kepalamu”. Kemudian Zizi mendorong keluar si Anak Anjing.

Setelah kami pergi meninggalkan Anak Anjing, Zizi memberiku pelajaran tentang yang baru saja dilakukannya. Jika kami menangkap Induk Anjing, mungkin saja kami tidak akan mendapatkan informasi apapun. Induk Anjing akan berfikir tidak ada gunanya memberikan informasi, sebab tidak akan menguntungkan baginya, malah hanya akan membuat keadaan menjadi sulit.

Oleh sebab itu, Zizi mencari orang yang berkemungkinan tinggi mau menukar informasi dengan keselamatan dirinya.

Aku dan Zizi baru saja lulus AKPOL dan belum lama menjadi polisi. Akan tetapi, Zizi bekerja seperti seorang detektif senior yang telah berpengalaman selama puluhan tahun. Sepertinya aku akan selalu berada dibawah level Zizi. Namun aku tidak boleh menyerah dan harus bisa menyainginya suatu saat nanti.

4 hari berlalu, saat aku dan Zizi sedang menyusun rencana bersama anggota lain. Tiba-tiba si Anak Anjing mengirim foto yang kami inginkan. Pria tersebut bernama ‘Romi’. _ setelah memberikan foto ke bagian IT untuk dilacak identitasnya secara detail, Zizi langsung melepaskan serta membuang nomor yang dipakainya untuk berkomunikasi dengan si Anak Anjing tadi. _ Ternyata yang diberikan Zizi kepada Anak Anjing hanyalah nomor yang digunakannya sekali pakai, bukan nomor ponsel asli miliknya.

Aku terus mempelajari cara Zizi, dan akan menerapkannya untuk diriku.

“Oke, sekarang kita telah memiliki info tentang ‘Herder’ yang merupakan otak pelaku pencurian”. Kata Zizi kepada tim. _ sepertinya Zizi suka memberi nama sandi pada target dengan nama-nama anjing.

Dari data yang didapat, Herder merupakan seorang pengusaha yang bergerak dalam bidang hiburan malam. Dia memiliki club malam yang cukup besar dikota ini.

“Mungkin saja alasannya mencuri untuk mendapatkan modal, agar bisa mengembangkan usahanya”. Fikirku.

Kemudian Zizi memerintahkan kepada tim untuk memantau setiap pergerakan Herder, agar bisa menemukan seluruh tersangka.

Kami pun memulai pengintaian, seperti yang dilakukan kepada Induk Anjing sebelumnya. Setelah lebih dari 2 jam menunggu, akhirnya Herder pun keluar menggunakan mobil ‘Pajero Sport’.

Semua tim kini mengintai menggunakan sepeda motor, kecuali Beruang Kutub & Kelinci Kurus yang menggunakan mobil. _ setiap 1 sampai 2 kilometer, kami bertukar posisi agar target tidak menyadari dirinya sedang diawasi. Namun saat giliran Rubah Kuning yang mengikutinya, sang Herder berhenti pada sebuah cafe. _ Saat hendak memasuki cafe, tiba-tiba saja Herder melihat kearah Rubah Kuning. Sepertinya sang Herder mencurigai Rubah Kuning, mungkin saja dia melihat Rubah Kuning lebih dari satu kali selama di perjalanan. Karena penampilan Rubah Kuning yang sedikit mencolok dengan menggunakan jacket kulit seperti anggota geng motor, sehingga membuat dirinya mudah diingat.

Tibalah saat yang menegangkan. Si Herder dengan gaya nya yang dingin, mulai berjalan kearah Rubah Kuning, sepertinya dia akan mendatangi Rubah Kuning.

Melihat keadaan yang seperti itu, aku pun langsung berlari menuju Rubah Kuning. _ untungnya aku tepat waktu, saat si Herder tinggal 10 langkah lagi sampai dihadapan Rubah Kuning. Aku langsung menghalangi pandangan Herder, kemudian berkata “sayang, kamu dari mana saja. Aku sudah hampir 1 jam menunggumu”.

Sambil membuka kaca helm nya. “Maafkan aku…….. “. Kata Rubah Kuning.

Belum sempat Rubah Kuning menyelesaikan kalimatnya, aku langsung menyahutnya. “kalau begitu ayo kita masuk, aku sudah lama menunggumu”. Sambil menggandeng tangan Rubah Kuning berjalan menuju cafe. Aku harap Zizi tidak cemburu dengan apa yang aku lakukan. _ Karena aku melakukannya demi menyelamatkan tim.

Sesampainya didalam cafe, aku meminta salah seorang dari tim yang terdekat dari posisi kami saat ini untuk melanjutkan pengintaian. Karena aku rasa hari ini, aku dan Rubah Kuning tidak dapat melanjutkan permainan.

“Biar aku saja”. Kata Jerapah Bungkuk.

Selama didalam cafe aku berusaha bersikap mesra, begitupun Rubah Kuning. _ Sang Herder sesekali menatap ke arah kami sambil berbicara dengan 2 orang temannya, sang Herder sepertinya ingin memastikan bahwa dirinya sedang tidak diawasi.

Setengah jam berlalu, akhirnya sang Herder pun pergi meninggalkan cafe.

Setelah kejadian tadi, aku dan Rubah Kuning tidak bisa lagi bermain dengan si Herder. Akan tetapi, kami bisa bermain dengan 2 orang temannya.

Kami pun mencoba mengikuti 2 anggota Herder secara bergantian. _ Pengintaian berakhir pada sebuah gedung kosong yang berada tepat disebelah club malam milik sang Herder. Setelah mengambil beberapa foto secara diam diam, kami pun segera menuju kantor.

Kurang dari 1 jam berlalu, satu persatu anggota tim Burung Hantu Vervia Barat pun mulai datang ke kentor. _ Sebelum aku melaporkan hasil pengintaian bersama Rubah tadi, Zizi memberi tau terlebih dahulu tentang sang Herder yang sepertinya ingin membeli senjata api dari pasar gelap.

“Ayam Jantan, nanti malam kamu ikut bersamaku ke club malam milik sang Herder. Kita berangkat pukul 22:00. Kata Zizi.

Tentunya aku merasa cemburu, kenapa Zizi mengajak Ayam Jantan bukannya aku yang merupakan kekasihnya?!. _ aku tau Zizi pergi ke club malam tersebut untuk menjalankan misi, akan tetapi aku tetap tidak bisa menerimanya.

Setelah semua laporan disampaikan, dan diberikan kepada anggota IT yang berada didalam kantor, Zizi pun menginstruksikan untuk bubar.

****

Sejak di kantor hingga saat ini, perasaan ku dihantui kegelisahan. Berbagai pertanyaan spekulasi hadir didalam otakku. _ Hal itu disebabkan oleh perasaanku yang masih tidak rela Zizi akan pergi ke club malam bersama Ayam Jantan.

Aku berfikir “Kita tidak akan pernah tau seberapa dalam suatu lautan, jika kita tidak mencoba menyelaminya”.

Tentu saja aku tidak bisa diam begitu saja, karena itu tidak akan menyelesaikan apa-apa dan tidak akan menjawab kegelisahanku. Akhirnya aku memutuskan untuk mendatangi Zizi kerumahnya tepat pukul 20:00.

Tanpa basa basi, saat Zizi membuka pintu gerbang rumahnya. Aku langsung bertanya pada Zizi. “apa maksudmu, tidak pergi bersamaku ke club malam itu zi?!”.

“Kalo kamu bisa bermesraan dengan anggota tim lain, aku juga bisa tom!”. Kata Zizi dengan nada cemburu.

Apa yang aku khawatirkan ternyata benar, Zizi cemburu dengan kemesraan aku bersama Rubah Kuning tadi. Apalagi Rubah Kuning juga termasuk Polisi Wanita yang cukup menarik dan memiliki paras cantik. Saat masih di AKPOL Rubah Kuning juga memiliki banyak penggemar, walau tidak fenomenal seperti Zizi yang dianggap sebagai wanita sempurna oleh seluruh taruna AKPOL saat itu. _ ditambah lagi apa yang aku bicarakan dengan Rubah Kuning, Zizi tetap bisa mendengar pembicaraan kami melalui ‘earphone’ miliknya.

Setelah melihat raut wajah cemburu Zizi. _ Aku pun tersenyum, karena ekspresinya yang begitu lucu dan menggemaskan.

“Jadi kamu cemburu?! “. Tanyaku sambil menahan tawa.

“Apa menurutmu itu hal lucu?! “. Kata Zizi yang mengetahui aku sedang menahan tawa.

Aku mencoba menjelaskan kepada Zizi, bahwa “aku tidak punya pilihan. Karena bagaimana pun juga, kita harus menyelamatkan Rubah Kuning dari penyamarannya. Sedangkan kamu memiliki pilihan saat memutuskan akan pergi ke club malam ini bersama siapa!”. Tegasku.

Setelah mendengar penjelasanku, Zizi sempat berfikir sejenak. Sepertinya Zizi mencoba mencerna perkataanku dengan logika, bukan dengan emosi.

Tentunya aku langsung memasang raut wajah iba dan penuh harap. Seperti seorang anak kecil yang mengharapkan dibelikan mainan favoritnya.

Setelah merasa dirinya cukup tenang, Kemudian Zizi berkata “maafkan aku”.

Aku langsung memeluk Zizi sembari berkata “kamu tidak perlu meminta maaf, aku pun bisa merasakannya Zi. _ jika aku berada di posisi kamu, aku juga akan sangat cemburu”.

Aku berusaha memperbaiki keadaan, hingga tak sadar aku memeluknya sangat erat.

“Tulangku bisa remuk, jika kamu peluk seperti ini tom”. Kata Zizi, namun tanpa berusaha melepaskan diri dari pelukanku.

Aku sangat bersyukur, walaupun pelukanku sedikit menyakitinya. Akan tetapi Zizi tetap ingin bertahan dalam pelukanku.

Setelah keadaan kembali kondusif, aku pun mengajak Zizi untuk makan malam bersama. “Zi, aku sampai gak selera makan tadi karena ulahmu. Maukah kamu menemani ku makan malam?”.

Setelah mengangguk, Zizi berkata “tunggu sebentar aku akan telfon Kelinci Kurus untuk menggantikanku malam ini”.

Zizi menjelaskan pada Ayam Jantan dan Kelinci Kurus tentang tugas mereka yang harus berpura-pura mabuk dan masuk ke gedung sebelah untuk memasangkan beberapa alat pengintai didalam serta diluar gedung. Setelah itu, aku pun pergi makan malam bersama Zizi.

 

Pos terkait