“LAKUNA” Edisi XXXVIII (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Masa Depan (Bagian IV)

Waktu terus berlalu, hingga aku tak menyadari bahwa kurang dari setahun lagi kami akan dilantik menjadi ‘Polisi Republik Donesivia’ (POLREVIA).

Pada tahun ke 4 ini, kami diberikan waktu pesiar lebih banyak lagi, yakni 1 kali dalam 1 bulan, apalagi di akhir-akhir masa pelatihan, kami sering melakukan latihan gabungan dengan para Taruni. Artinya, aku bisa lebih sering bertemu dengan Zizi. Dan alasan ini juga yang membuat Zizi menolak tawaran untuk menjadi POLTAR. Karena jika dia menjadi POLTAR, maka akan lebih sedikit waktu yang bisa kami habiskan bersama.

Suatu hari, saat aku menunggu Zizi di restoran yang biasa kami kunjungi ketika pesiar. Aku dikagetkan dengan kehadiran Hana yang mengenakan seragam Taruna. _ ternyata Hana adalah adik tingkatku di AKPOL selama ini.

“Hai kak, apa kabar?”. Hana menegurku dengan senyuman bahagia.

Aku hanya tercengang saat melihatnya. Karena selama ini yang aku tau, Hana tidak ingin menjadi seorang polisi.

“Ada apa?, kamu pasti merasa tidak percaya kan?”. Tanya Hana lagi kepadaku.

“Apa yang membuatmu akhirnya memilih masuk AKPOL?”. Aku langsung melontarkan pertanyaan untuk menjawab pertanyaannya tadi. _ ternyata Hana merasa kemampuannya dalam memprediksi dan membaca piskologis manusia dapat lebih berguna ketika digunakan pada instansi kepolisian. Ternyata Hana tau tentang aku yang telah bergabung dengan AKPOL. Dan hal itu menjadi salah satu alasan kuat baginya dalam memutuskan arah masa depan yang akan dijalaninya. _ Selama menjalani pelatihan, handphone ku tak bisa dihubungi, kemudian Hana berusaha mencari informasi tentang diriku, hingga dia mengetahui aku telah berada didalam pusat pelatihan AKPOL. _ Setelah mengetahui hal itu, Hana pun bertekad untuk menjadi seorang polisi.

Tak terasa aku dan Hana telah berbincang selama 2 jam didalam restaurant. Namun Zizi masih belum menampakkan dirinya. Tentunya aku bertanya-tanya, kenapa setelah 2 jam berlalu Zizi belum juga datang?. _ akhirnya, aku melewati hari ini tanpa Zizi. Dan ini pertama kalinya aku tidak bersama Zizi selama kegiatan pesiar di AKPOL. Malah aku menghabiskan waktu bersama Hana untuk menemaninya berbelanja keperluan sehari-harinya.

Saat waktu menunjukkan pukul 16:35 menit, artinya kurang dari setengah jam lagi tepat pukul 17:00. Hana pun meminta izin kepadaku untuk segera bergabung dengan kelompoknya. Karena dia tidak ingin mendapatkan masalah jika terlambat berkumpul. Tentu saja, angkatan ku adalah angkatan paling senior saat ini, sehingga kami memiliki waktu yang lebih longgar.

Aku pun berpisah dengan Hana saat itu, namun dia meminta agar dapat bertemu lagi denganku pada pesiar yang akan datang. _ aku berusaha menolaknya dengan berbagai macam alasan, akan tetapi Hana tetap keras kepala ingin bertemu.

Saat aku telah berpisah dengan Hana. Dan kemudian berjalan sendirian melewati restoran tadi, aku melihat Zizi yang sedang duduk sendirian tepat di paling pojok yang berdekatan dengan pintu masuk restoran, ditemani segelas minuman favoritnya. Pastinya, dengan perasaan yang sedikit kesal aku langsung datang menghampiri Zizi.

“Dari mana saja kamu zi?”. Tanyaku.

“Harusnya aku yang bertanya tom!”. Balasnya tanpa memandangku.

Aku pun duduk dihadapan Zizi, kemudian menanyakan “kamu kenapa?”.

Zizi tidak menjawab pertanyaanku, dan langsung pergi begitu saja. Tentunya aku tak tinggal diam, aku pun mengejar Zizi yang saat ini berada di pintu keluar restoran. Setelah keluar beberapa langkah, aku menggenggam tangan Zizi dan berupaya menahannya.

“Zizi, kamu kenapa sih?!”. Tanyaku dengan nada tinggi.

Mulailah Zizi meluapkan semua amarahnya “Dasar brengsek!. Siapa wanita tadi?”. Kata Zizi dengan nafas yang sesak, seolah-olah dadanya dipenuhi sesuatu hingga membuat dirinya sulit bernafas.

Ternyata emosi Zizi bergejolak karena merasa cemburu pada Hana. Dan yang lebih menakutkan, saat aku melihat mata Zizi yang sama persis seperti mata yang pernah aku lihat beberapa bulan yang lalu, tepat saat dia menghabisi kelompok mafia di Provinsi Sumnang.

“Oo… Maksudmu Hana. Dia temanku, aku mengenalnya saat berada di Vaski”. Jawabku dengan lembut. _ aku berusaha untuk tidak menambah api yang kini bergejolak didalam dadanya.

“Sejak kapan kamu punya teman seorang wanita yang begitu dekat di Vaski?!. Dan apa demi menemani nya belanja, kamu rela tidak menungguku disini!”. Bentak Zizi.

“Aku menunggumu sudah 2 jam disini”. Terangku.

“Sebelum aku datang, wanita itu telah lebih dulu menghampirimu, dan aku menunggu 2 jam agar wanita itu pergi. Tetapi kamu malah asik mengobrol bahkan menemaninya berbelanja!. _ Dan apakah hanya 2 jam batas waktu mu untukku?!”. Setelah mengatakannya Zizi pun langsung pergi.

Sepertinya aku yang salah, aku harus meminta maaf kepada Zizi sekarang juga. _ aku meneriaki namanya sambil berlari mengejarnya. Setelah sampai di belakang Zizi, aku menahan tangannya, kemudian memutar balik badannya. Ketika Zizi telah berhadapan denganku, sontak seluruh badanku melemas hingga tangan Zizi terlepas dari tanganku saat melihat air mata Zizi yang begitu banyak membasahi wajahnya.

Aku tak tau harus berbuat apa dan berkata apa kepada Zizi. Saat ini aku hanya bisa terdiam dan juga meneteskan air mata sambil memandang Zizi yang terus menangis.

Aku tak kuat untuk terus menatap matanya yang terus meneteskan air suci yang bersumber dari perasaan dan hati tersebut. _ Akhirnya, sambil menundukkan kepala, aku berkata “maafkan aku zi”.

Zizi tak menjawabku, bahkan dia tidak berbicara sepatah kata pun. Zizi lebih memilih berlari menjauh dariku setelah aku mengucapkan kata maaf yang tulus untuknya. Aku pun berfikir, mungkin aku harus membiarkan dia sementara waktu. Karena tidak ada gunanya aku menjelaskan kepada Zizi yang saat ini sedang dikuasai oleh emosinya.

Namun sepanjang perjalanan menuju Pusat Pelatihan, aku selalu menanyakan pada diriku sendiri “apakah dengan membiarkannya tadi, merupakan pilihan yang tepat?”._ aku tak bisa menjamin bagaimana hubungan kami setelah ini. Karena menurutku bisa saja dia semakin marah dan kecewa atas keputusanku yang membiarkannya pergi.

Aku semakin dihantui rasa bersalah serta gelisah , saat membayangkan Zizi yang kini mungkin saja terluka olehku. Dan hal itu sangat menggangguku selama berada didalam pusat pelatihan. Bahkan saat latihan menembak, aku berada di rangking terakhir. Padahal sebelumnya aku selalu masuk 5 besar. Bahkan sesekali aku menjadi yang terbaik.

Pada pesiar selanjutnya, aku berusaha mencari Zizi. Akan tetapi aku tak menemukannya. _ bahkan aku menunggunya di restoran tempat biasa kami melakukan pertemuan tersebut lebih dari 8 jam. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu ditempat kumpul para Taruni saat akan dijemput oleh bus milik AKPOL.

Tepat pukul 16:55 menit, satu persatu para Taruni mulai muncul, namun aku masih tak melihat Zizi. _ karena Zizi merupakan Taruni yang sangat berprestasi dalam segala bidang, dan selalu menjadi yang pertama. Jadi wajar saja dia sangat terkenal oleh para Taruna dan Taruni di AKPOL. _ Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya ke 4 orang Taruni yang saat itu sedang berkumpul tak jauh dari bus khusus taruni AKPOL.

Sesampainya didekat mereka. “Ehhmm… Ehmm… Maaf sebelumnya, apa kalian melihat Zizi?”. Tanyaku.

Mendengar pertanyaanku, mereka tertawa sambil meledekku “memangnya kamu siapa?, berani-beraninya mencari Zizi!”.

Wajar saja mereka bersikap seperti itu, sebab Zizi merupakan Taruni yang sangat sulit untuk ditaklukkan dalam hal apapun. _ telah begitu banyak pria yang ingin mendekatinya, termasuk anak-anak para jendral, mulai dari bintang 1 sampai bintang 3. Akan tetapi, Zizi tidak pernah menghiraukannya. Bahkan Zizi terlihat tidak tertarik untuk sekedar berbicara dengan mereka.

Bagaikan kemarau yang telah lama terjadi, kemudian tiba-tiba hujan turun tanpa diprediksi. Seperti itulah perumpamaan perasaan hatiku menunggu kehadiran Zizi. _ Akhirnya sang ‘putri’ pun datang bersama 2 orang temannya.

Aku berfikir, Zizi tidak akan menghiraukan keberadaanku, karena perasaan cemburu dan rasa sakit yang diterimanya sebulan yang lalu. Akan tetapi, Zizi terus berjalan menuju arahku.

Dan setibanya Zizi ditempat aku berdiri, salah seorang Taruni yang meledekku tadi langsung berkata “Zi, nih ada satu lagi pengagum rahasia yang tak jelas asal usulnya mencarimu dari tadi”. Kemudian dia tertawa bersama teman-temannya setelah mengatakan hal itu. Mereka berempat seperti berusaha mengajak Zizi untuk menjadikanku bahan lelucon mereka.

Pos terkait