“LAKUNA” Edisi XXXIX (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Masa Depan (Bagian V)

Aku sedikit kesal pada 4 Taruni bodoh yang dari tadi seolah-olah menghinaku, dan sepertinya mereka berempat merupakan orang-orang yang hanya bisa mengandalkan kekuasaan orang tua. Hal itu terlihat dari cara dan gaya mereka sungguh tidak profesional. Mungkin saja mereka masuk AKPOL karena ‘privilege’ yang mereka miliki, kemudian pamer kepada orang lain bahwa mereka adalah calon perwira. _ cuiiih… Mereka hanyalah bagaikan sampah yang mengotori sebuah ruangan VIP.

Saat para Taruni bodoh itu asik tertawa, Tiba-tiba saja Zizi mengatakan hal yang tak ku duga.

“Wahai pangeranku, tak seharusnya kamu mencariku”. Sambil membungkukkan badannya, sebagai tanda hormat.

Kejadian tersebut sontak membuat para Taruni bodoh tadi terdiam dan tercengang, serta merasa sangat malu hingga tak berani menatap kearahku.

Aku sepertinya pria yang paling beruntung di dunia ini, karena satu-satunya orang yang bisa menaklukkan Zizi hanyalah aku. Bahkan Zizi selalu melindungiku. Termasuk melindungi harga diriku, seperti yang baru saja dilakukannya. _ terkadang aku berfikir apa alasan Zizi menyukaiku?. Sebab jika dibandingkan dengan dirinya, aku hanyalah bagaikan sebuah planet, sedangkan dirinya bagaikan galaxi yang menjadi rumah bagi jutaan bahkan miliyaran planet.

Setelah menikmati kejadian yang sangat membuatku bangga itu hingga terdapat sedikit kesombongan dalam diri, aku mengajak Zizi untuk pergi dari gerombolan orang-orang bodoh tadi, untuk berbicara 4 mata dengannya.

Dibawah sebuah batang pohon yang cukup rimbun, aku meminta maaf sekaligus berterimakasih atas apa yang telah dilakukannya tadi untukku. Tentu dia tau konsekuensi yang akan diterimanya atas apa yang diucapkannya tadi. _ Zizi akan jadi bahan gosip yang akan mengguncang AKPOL dan seisinya, bahkan mungkin saja akan meruntuhkan gedung-gedungnya. Fikirku.

“Saat ini waktu kita sangat terbatas tom”. Kata Zizi.

Aku tau Zizi pasti masih marah padaku, dan berusaha untuk menghindari pembicaraan mengenai hubungan kami yang diambang kehancuran.

“Baiklah kalo begitu, apapun yang terjadi aku akan menunggumu ditempat itu pada pesiar-pesiar selanjutnya. _ aku bahkan tidak akan peduli kamu mau datang atau tidak!. _ aku akan tetap menunggu!”. Kataku, sebagai bukti bahwa aku sangat mengaharapkannya untuk tetap berada disampingku.

“Seperti yang kamu lakukan tadi ya?”. Sahut Zizi sambil tersenyum.

Aku sangat terkejut mendengar ucapannya. Ternyata Zizi tau aku menunggunya sepanjang hari. “Jadi kamu tau, aku menunggumu disitu?!”. Tanyaku dengan nada yang sedikit kesal.

“Aku hanya kebetulan lewat bersama 2 temanku tadi”. Jawab Zizi.

Tentu aku tidak percaya dengan jawabannya. Sepertinya Zizi sengaja melakukannya sebagai bentuk hukuman untukku. _ saat ini aku yang berbalik merasa sangat kesal, karena apa yang dilakukannya sungguh tidak lucu. Dengan membiarkanku menunggunya sendiri selama lebih dari 8 jam.

Kami berpisah sore itu dengan gejolak api didadaku, sedangkan Zizi merasa puas karena telah membalas sakit hatinya.

Sebulan sejak hari itu, kami kembali bertemu. Sebelum itu, aku menunggu Zizi selama lebih dari 7 jam dengan perasaan gelisah yang sangat menggangguku, namun didalam kegelisahan juga ada perasaan rindu yang seolah-olah akan membunuhku. Tak lama kemudian Zizi datang dan aku langsung ingin meluapkan semua yang aku rasakan saat ini.

“Apa kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan Zi!”. Tegasku.

Zizi hanya membalasnya dengan senyuman, kemudian dia mulai memelukku. Akan tetapi baru saja tanganku akan memeluknya, tiba-tiba saja Zizi langsung mendorongku, karena dia langsung menyadari bahwa saat ini kami berada ditempat umum. Pastinya akan sangat berbahaya bagi kami berdua jika ada yang melihat. _ setelah mendorongku Zizi tertawa, kemudian berkata “hampir saja aku kehilangan kendali atas perasaan yang aku miliki. _ apa kamu masih berprasangka aku tidak merasakan apa yang kamu rasakan?”.

Menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 17:22 menit. Kami pun mengakhiri pertemuan singkat hari ini, dan aku pun bergegas menuju tempat penjemputan para taruna yang hanya berjarak 300m dari situ. Namun, sebelum berpisah Zizi mengatakan “aku belum memaafkanmu sampai kamu jujur padaku siapa wanita itu!”.

Keesokan harinya, apa yang aku prediksi ternyata benar. Semua orang membicarakan tentang aku dan Zizi. Namun, aku tak menyangka berita itu akan beredar secepat ini. _ Zizi merupakan sosok wanita cantik yang bersikap seperti seorang pembunuh bayaran yang sangat dingin, bisa takluk dihadapanku?!. Tentunya hal itu sesuatu hal yang mustahil bagi para Taruna lainnya. Jangan kan membungkukkan badan, senyum nya saja sangat sulit didapatkan oleh para pria. Dan tentunya hal itu membuat seluruh Taruna bertanya-tanya apa kelebihan yang aku miliki dibanding mereka.

Saat berada di kantin 2 orang sahabat terbaikku selama di AKPOL yang bernama Boby dan Rafa mendatangiku sambil tersenyum, sepertinya mereka merasa bangga padaku. Benar saja, saat mereka duduk dihadapanku. Mereka menyatakan bangga, karena aku mampu menaklukkan wanita super yang ada di alam semesta ini. _ pujian mereka sungguh sangat berlebihan bagiku.

Dengan keadaan sekarang, aku bukannya bangga malah merasa malu. Walau semua orang membicarakan tentang aku dan Zizi. Namun, tentu saja akan banyak yang iri juga kepadaku. _ Aku selalu merasa akan diterkam oleh singa setiap aku bertemu Taruna yang pernah mencoba mendekati Zizi dengan membanggakan apa yang mereka punya. _ mereka menyangka Zizi butuh dan akan tertarik dengan segala yang mereka miliki?. Mereka tidak tau Zizi lebih dari yang mereka bayangkan dan asal mereka tau, Zizi memiliki lebih dari apa yang mereka miliki.

Isu tentang penaklukkan Zizi olehku terus mengudara, hingga Hana pun mengetahui hal itu.

Satu bulan kembali berlalu, dan pada kesempatan pesiar kali ini aku menunggu Zizi selama satu jam, hingga akhirnya dia datang. Sambil menikmati hidangan aku menceritakan pada Zizi suatu kebohongan. Bahwa Hana dan aku bertemu saat aku kelas 2 SMA sedangkan Hana masih kelas 1 SMA, pada saat perguruanku melakukan ‘show’ disekolahnya. Kemudian, saat kami melakukan sosialisasi tentang ilmu bela diri taekwondo. Ternyata Hana sangat tertarik, dan banyak bertanya kepadaku. Hingga dia ingin aku mengajarkannya langsung. _ semenjak itu, Hana sering mengirim pesan WA tentang apa yang telah dicapainya, mulai dari dia memasuki suatu perguruan taekwondo, hingga beberapa ujian yang telah dilaluinya. Walau aku sangat jarang membalas WA dari Hana, dia selalu saja mengirim berita tentang dirinya yang tengah serius mendalami seni bela diri taekwondo. _ begitulah cerita fiktif yang aku sampaikan ke Zizi.

Mendengar ceritaku, Zizi hanya tersenyum dan seolah-olah meledekku. _ aku membuat cerita palsu. Karena sepemahanku, wanita terkadang lebih suka dibohongi dari pada cerita yang sebenarnya. Dan aku beranggapan, ceritaku tidak akan membuat Zizi cemburu dari pada aku mengatakan yang sebenarnya.

Syukurlah, semenjak hari itu Zizi telah kembali sepenuhnya dipelukkanku. Dan kami pun kembali menjalin kisah cinta yang sangat membuatku bahagia.

Waktu terus berlalu, hingga tak terasa bulan ini menjadi bulan terakhir kami berada di pusat pelatihan dan pendidikan AKPOL. Pastinya semua orang merasa tegang, karena akan menghadapi ujian kelulusan dan sekaligus senang, karena sebentar lagi kami resmi menjadi Polisi Republik Donesivia.

 

Pos terkait