“LAKUNA” Edisi XXXVII (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Masa Depan (Bagian III)

Akhirnya aku, Zizi, Reza, Naresh, dan juga andra berhasil melewati Ujian Akhir Sekolah dengan nilai yang memuaskan. Dengan begitu, ini merupakan akhir sekaligus awal dari bagian lain kisah kehidupan kami.

3 hari setelah kelulusan, aku pun dengan berat hati mengantarkan Zizi ke bandara tanpa dikawal seorang pun oleh ‘bodyguard’ yang dimilikinya.

Tepat sebelum Zizi akan memasuki pintu yang hanya boleh dimasuki oleh penumpang, Zizi memegang kedua tanganku sembari berkata “jaga hatimu untukku ya?, dan satu lagi. _ jangan menangis, sebab aku akan kembali untukmu”.

Zizi sepertinya tau bahwa aku sedang berusaha menahan air mata yang akan jatuh ke pipihku.

“Zi, aku akan mendaftar Akademi Kepolisian (AKPOL), dan kita tidak punya banyak waktu. Aku berharap bisa bersamamu sebelum aku harus masuk ke pusat pelatihan”. Kataku dengan ekspresi yang penuh harap.

Zizi tersenyum, kemudian berkata sambil bercanda “kenapa kamu sangat percaya diri akan lulus tes?”. Kemudian Zizi memukul lembut dadaku. Seolah-olah pukulannya merupakan salam keteguhan untukku.

“Aku serius!, kamu harus kembali”. Tegasku.

“Kalo aku tidak sempat, maka kita akan bertemu disana”. Kata Zizi sambil tersenyum.

“Maksud mu di AKPOL?”. Tanyaku.

“Aku tak bisa pastikan kapan Tom. Tetapi yang pasti, aku akan menemui mu setelah urusanku selesai. Dimana pun tempatnya!”. Tegasnya. Kemudian Zizi memeluk dan mencium pipihku, tepat sebelum dia masuk kedalam ruang pembatas anatara penumpang dan pengantar di bandara.

Aku hanya bisa menatap nya yang terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Namun tepat saat jarak pandangku hampir tak lagi bisa melihatnya, Zizi menoleh ke belakang sejenak sambil melambaikan tangan sebelum melanjutkan langkahnya.

Aku pun pulang menggunakan mobil Audy milik Zizi. Karena sebelumnya, Zizi menitipkan serta memintaku untuk merawat mobilnya selama dia berada di Vervia. Saat berada diperjalanan menuju bandara tadi, Zizi sempat berkata “ini mobil kesayanganku Tom, dan hanya kepada orang yang aku sayangi aku mempercayakannya”.

Waktu terus berlalu, tak terasa Zizi telah berada di Vervia selama 1 bulan 2 minggu. Dan sejak dari bandara hingga sampai saat ini handphone Zizi tidak bisa dihubungi. Aku pun dibuat resah serta gelisah oleh hal itu.

Mengapa Zizi tidak bisa dihubungi?. Dan Sebenarnya apa yang dilakukannya di Vervia?. _ pertanyaan itu selalu menghantuiku setiap hari. Bahkan saat aku telah lulus tes awal untuk menjadi Taruna AKPOL pun, Zizi belum memberikan kabar sedikitpun tentang keadaannya disana.

Tak terasa, hari ini merupakan hari pertamaku memasuki pusat pendidikan & pelatihan AKPOL yang berada di Provinsi Hembang. Dan aku akan berada disini selama 4 tahun kedepan.

Aku diantarkan oleh kedua orang tua dan adikku Sherly. _ Ratusan Taruna saat ini diberi kesempatan berpamitan kepada keluarga yang mengantarnya, sebelum diperintahkan memasuki ‘camp’ masing-masing.

Setelah berpelukan pada suasana haru siang itu, aku kedatangan seorang tamu yang menepuk pundakku dari belakang. _ saat aku menoleh ke belakang, ternyata yang menepuk pundakku adalah Zizi, seseorang yang hampir membuat aku gila beberapa bulan belakangan ini. _ Tanpa kata dan tanpa rasa malu, aku langsung memeluk Zizi dengan erat. Tak lama kemudian papaku memberi kode dengan sebuah batuk kecil yang terus-terus dilakukannya, hingga aku sadar bahwa aku sedikit melewati batas. _ setelah berpelukan dengan Zizi, aku pun tertunduk malu didepan kedua orang tuaku, begitupun Zizi.

Aku tak menyadari bahwa Zizi juga merupakan Taruni yang akan melakukan pendidikan di AKPOL tahun ini. _ Tak lama kemudian, batas waktu pun berkahir “sudah waktunya kita harus berbaris di kelompok masing-masing tom”. Kata Zizi sembari berpamitan kepada kedua orang tuaku dan juga Sherly.

Sambil berjalan menuju kelompok masing-masing, Zizi berkata “aku sudah menepati janjiku untuk menemui mu kan?, jadi jangan marah ya?”. Kemudian Zizi menggenggam tangan ku.

Saat ini, aku tak tau harus marah atau senang, karena selama ini aku tidak mengetahui keberadaan serta keadaan Zizi, dan pastinya hal itu membuat aku sangat kesal. Namun perasaan bahagia yang aku rasakan saat ini pun tak dapat ditutupi, karena pada hari ini aku dapat meluapkan perasaan rinduku pada Zizi, perasaan itu seperti tsunami yang akan meluapkan seluruh air laut ke daratan.

Setelah aku dan Zizi berada dikelompok masing-masing, kami diberikan sedikit pengarahan oleh pimpinan tertinggi AKPOL. Kemudian setelahnya, para Taruna dan Taruni diantarkan ke tempat yang berbeda. Pusat pelatihan para Taruna (pria) dan Taruni (wanita) AKPOL berada dilokasi yang sama, namun berbeda tempat dan gedung. Ada tembok besar yang tingginya mencapai 3m, yang menjadi pembatas antara gedung Taruna dan Taruni selama pelatihan.

Dikarenakan selama menjalankan pelatihan, kami tidak diperbolehkan memiliki alat komunikasi dalam bentuk apapun, aku berusaha memikirkan cara agar tetap dapat berkomunikasi dengan Zizi. _ belum selesai aku berfikir, ternyata Zizi telah menemukan sebuah ide tentang bagaimana kami akan berkomunikasi.

Zizi menyarankan, setiap hari rabu kami akan saling mengunjungi salah satu sudut tembok belakang yang telah disepakati sebagai tempat saling bertukar surat. Akan tetapi, agar lebih aman dan rahasia, Zizi menyarankan untuk menggunakan kode ‘morse’.

Inilah Zizi ku. Terkadang aku merasa bangga padanya, karena dia selalu mempunyai solusi atas segala macam bentuk permasalahan. Namun terkadang aku merasa rendah dihapannya sebagai seorang laki-laki. _ oleh karena itu, aku bertekad untuk kedepannya harus lebih baik dan tidak boleh kalah dari Zizi.

Tak terasa waktu berjalan cepat. Kini aku telah berada ditahun ke 3 menjalani pendidikan dan pelatihan kepolisian. Pada tahun ke 3 ini, kami diberikan waktu 1 kali dalam 3 bulan selama 1 hari untuk keluar dari pusat pendidikan agar dapat berbaur dengan masyarakat sekaligus ‘refreshing’ bagi kami. Kegiatan ini disebut dengan ‘pesiar’. _ pada kesempatan itulah aku mengatur janji dengan Zizi untuk bertemu secara diam-diam. Kami sering melepas rindu pada suatu Mall yang ada di Provinsi Hembang. Bioskop Mall tersebut menjadi tempat favorit aku dan Zizi, karena disitulah tempat paling aman dan jauh dari pantauan pengawas senior yang disebut Polisi Taruna (Poltar). Kami lebih banyak menghabiskan waktu berbincang, berpelukan dan sesekali berciuman dari pada menonton film yang sedang diputar.

Pada suatu waktu Zizi bertanya padaku “Tom, sebagai polisi kamu lebih memilih menegakkan hukum atau menegakkan keadilan?”.

Pertanyaan Zizi sungguh sulit untuk dijawab, karena Hukum merupakan aturan yang harus dijalankan, akan tetapi keadilan terkadang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku.

“Mengapa kamu menanyakan hal itu?”. Balasku atas pertanyaan Zizi.

“Karena suatu saat kamu pasti akan dihadapkan pada pilihan seperti itu”. Zizi mengatakannya sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.

Aku pun membelai rambut Zizi yang indah, hingga dia terlena dalam dekapan ku, dan saat ini aku tidak ingin membahas sesuatu hal yang berkaitan dengan ideologi, aku lebih memilih menikmati waktu ku bersama Zizi. Akan tetapi, aku dapat mengetahui apa yang akan dipilih Zizi. Pastinya dia akan lebih memilih menegakkan keadilan dari pada menegakkan hukum. Karena dari semua yang pernah kami lalui, dia telah berulang kali menunjukkannya. Apalagi saat melihat aksinya sewaktu di Provinsi Sumnang.

 

Pos terkait