Masa Depan (Bagian II)
“Tom, bangun!”. Suara mama seperti terngiang dikepalaku. Ternyata benar, mama masuk ke kamarku kemudian membuka lebar tirai jendela. Sehingga mataku terasa perih saat sinar cahaya matahari siang yang begitu menyengat menerpaku.
“Kamu kemana saja tadi malam?!”. Tanya mama sambil sedikit membentak.

Aku tak dapat menjawab pertanyaan mama, karena aku tak memiliki alasan yang tepat untuk disampaikan.
“Ma, tomy mandi dulu ya”. Kataku sambil bergegas menuju kamar mandi. Tentunya ini juga merupakan alibi ku untuk menghindari pertanyaan mama tadi.
Setelah mandi, seperti biasa mama telah merapikan seluruh isi kamarku. Aku terkadang masih seperti anak kecil yang tidak bisa melakukan beberapa hal yang merupakan tanggung jawabku sendiri. Namun, seorang malaikat yang aku sebut dengan panggilan mama selalu dengan senang hati melakukannya untukku.
Setelah selesai mandi, aku melihat ada beberapa pesan masuk melalui WA di handphone ku. Diantaranya dari reza yang menanyakan keberadaan dan keadaan ku, adapun dari Hana yang mengatakan “terimakasih ya kak. Aku gak nyangka kamu seorang yang pemberani”. Aku hanya tersenyum membaca pesan dari Hana, dan kemudian membalasnya dengan sticker tersenyum. Dan yang ketiga dari sang Bidadari langit yang sedang terdampar di bumi, yakni Azizi Azahra.
Aku berfikir Zizi akan mengucapkan hal-hal yang romantis melalui pesan yang dikirimnya. Namun ternyata itu hanya harapanku saja. _ Zizi menanyakan tentang sepeda motorku, apakah aku akan menjemputnya sendiri atau diantarkan olehnya. Karena kesal yang disebabkan isi pesan dari Zizi tak sesuai ekspektasiku, aku pun memintanya untuk mengantarkan saja kerumahku.
Setelahnya aku membalas telfon reza, yang dari tadi pagi telah menelfonku sebanyak 7 kali. Kemudian aku menghabiskan waktu lebih dari setengah jam untuk menceritakan apa yang terjadi padaku dan Zizi malam tadi kepada reza. _ reza ternyata sangat senang mendengarkan kisahku. Bahkan kami sepakat akan merayakannya nanti.
Aku menghabiskan waktu di kamar selama 2 jam. Selama itu aku berkhayal tentang masa depanku bersama Zizi, bahkan aku mengkhayal menikah dan memiliki rumah tangga yang bahagia bersama Zizi.
Tiba-tiba Zizi mengirimkan pesan WA kepadaku. Pastinya aku masih berharap pesan tersebut berisi kalimat-kalimat romantis yang akan membuatku semakin terbang melayang hingga merusak atap rumahku.
Namun, apa yang aku dapatkan adalah suatu kalimat cacian ringan dari Zizi. “Hey pemalas, apa kamu akan dikamar seharian ini. Aku sudah sejam yang lalu berada disini”.
Aku menafsirkan isi pesan tersebut, bahwa Zizi telah berada dirumahku. Aku pun bergegas keluar kamar dan turun ke lantai bawah.
Ternyata Zizi telah berbincang cukup lama dengan mama. Aku melihat sinaran cahaya dimata mama, sepertinya mama baru saja selesai menangis. Saat aku mendekat, mama langsung memelukku sembari berkata “Zizi telah menceritakan semua yang terjadi padanya dan keluarganya beberapa tahun yang lalu dan mama sangat senang mendengar Zizi beserta adiknya “Luna” selamat dari kejadian itu Tom”. Kata mama yang masih menangis.
Setelah meluapkan perasaannya, mama mempersilahkan kami pergi belajar bersama. Setidaknya itu yang dikatakan Zizi tadi kepada mama. Bahwa kami akan belajar kelompok untuk menghadapi Ujian Akhir tingkat SMA yang kurang dari 3 minggu lagi. _ sebelum pergi, mama berkata “mama akan masak untuk kalian. Jadi, kamu dan Zizi harus makan malam bersama kami dirumah!”. Tegas mama kepadaku dan Zizi.
Aku menjawab mama dengan bahasa isyarat tangan, yang berarti ‘iya’.
Zizi memerintahkan salah seorang penjaga rumahnya mengantarkan sepeda motorku tadi pagi. sedangkan dia datang menggunakan mobil audy nya.
“Kamu yang nyetir ya!”. Kata Zizi sesampainya kami didepan rumah.
Sambil menyalakan mobil aku berkata “apa kamu akan terus-terusan membohongi calon mertua mu?!. Tanyaku yang sedikit kesal, karena Zizi telah membohongi mama dengan alasan belajar kelompok.
Sambil menahan tawa, Zizi memberikan tatapan nakal nya kearahku, tanpa menjawab pertanyaanku.
Selama kurang dari 3 minggu ini, menjelang ujian akhir sekolah, aku banyak menghabiskan waktu bersama Zizi. Kami seperti dua sejoli yang tengah menikmati indahnya dunia yang telah tersedia untuk kami berdua. Namun sesekali kami juga mengajak reza, naresh dan andra untuk belajar serta bermain bersama.
Hari-hari ku yang membosankan berubah drastis semenjak kedatangan Zizi setengah tahun yang lalu. Terkadang aku tertawa sendiri saat mengenang pertama kali Zizi memperkenalkan dirinya didepan kelas pada waktu itu. _ aku tak menyangka wanita itu yang awalnya seperti fatamorgana bagiku ditengah gurun pasir yang sangat tandus, ternyata merupakan pelepas dahaga yang absolut bagiku.
Ujian Akhir tingkat SMA/Sederajat akan dimulai serentak diseluruh sekolah yang ada di Donesivia besok pagi. _ setelah melewatinya, aku akan memulai lembaran baru tentang sebuah kisah yang disebut ‘masa depan’.









