Masa Depan (Bagian I)
“Zi, maukah kamu selalu berada didekatku dan menjadi istri ku bila tlah tiba waktunya?”. Aku merasa akan pingsan bahkan hampir meledak saat mengatakannya pada Zizi. Sebab, ini pertama kalinya aku mengatakan hal yang begitu romantis dan sangat dalam kepada seorang wanita. Apalagi mengatakannya pada Zizi yang merupakan wanita impianku sejak masih kecil, walau aku tak begitu mengingat kenangan itu.
“Aku benar-benar akan mengahajar mu tom”. Balas Zizi kepadaku dengan mata yang melotot tajam kearahku.

Aku dibuat sedikit takut oleh sikap Zizi. _ apa maksud perkataan Zizi. Sebenarnya aku takut kalau selama ini aku salah presepsi, hingga aku terlalu percaya diri Zizi menyukaiku. Sebab jawabannya tidak seperti yang aku harapkan.
Didalam kebingungan, aku mencoba untuk tetap tenang. Namun ekspresi dan tingkahku tidak bisa berbohong.
“Apa kamu yakin dengan yang kamu katakan?”. Tiba-tiba Zizi bertanya kepadaku tentang perasaan yang aku sampaikan tadi.
Aku sangat gugup menjawab pertanyaan Zizi. Apa yang sebenarnya terjadi?. Fikirku.
Karena aku tak menjawab pertanyaannya, Zizi pun berdiri dan mendekat kepadaku.
“Berdiri” Tegas Zizi yang saat ini tepat berada disebelahku.
Akupun memberanikan diri untuk berdiri. _ saat aku baru saja berdiri, Zizi langsung memelukku sangat erat. Tentunya, aku sangat senang dipeluk oleh Zizi. Akan tetapi, aku sangat ‘nervous’ saat ini, hingga tak dapat menahan badanku yang bergetar begitu cepat, dan begitu juga dengan jantungku yang berdetak mengimbangi getaran tubuhku.
“Tom, kamu seriuskan?. _ bukan sekedar main-main?!”. Tanya Zizi dengan nada suara yang bergetar.
“Andai aku bisa mengeluarkan hati dari tubuhuhku untuk memperlihatkan padamu sebagai bukti ada nama kamu didalamnya, maka akan aku lakukan Zi”. Aku mengatakannya sambil memegang wajah Zizi dengan kedua tanganku dan menghadapkannya ke wajahku. Kemudian aku memberanikan diri mencium kening Zizi yang begitu indah. Setelahnya Zizi kembali memelukku, seolah-olah dia tidak ingin melepaskanku dari pelukannya.
Ternyata Zizi sangat terkejut dengan perkataanku tadi, hingga membuat dia beranggapan aku tidak serius. _ Karena, mungkin saja dia tau bahwa aku belum pernah mengutarakan perasaan pada wanita mana pun. Sebab, selama disekolah aku selalu cuek dan tidak perduli pada gadis-gadis yang hampir setiap hari menggodaku. _ andai dia tau, bahwa selama ini aku memimpikannya, bahkan saat sebelum aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. _ walau aku baru mengenalnya, namun Zizi kecil sudah ada didalam mimpiku dan menghantuiku selama ini.
Zizi melepaskan pelukannya, kemudian mengambil kalung berlian yang telah aku kembalikan dari sakunya.
“Apa kamu tidak melihat huruf i kecil setelah huruf Z dikalung ini?”. Kata Zizi sambil memperlihatkannya padaku.
Ternyata kalung berlian itu, bertuliskan nama ZiZi. Namun selama ini aku tak pernah menyadari bahwa ada huruf i disetelah setiap huruf Z.
Setelah memperlihatkan namanya dikalung tersebut, Zizi memasangkan kalung berliannya itu ke leherku, sembari berkata “kalo begitu pegang ini sebagai pengingat janjimu”.
Tiba-tiba saja otakku membawaku terbang ke masa lalu, tepatnya 5 tahun yang lalu saat Zizi memberikan kalung itu padaku. Oleh sebab itu, aku sedikit mengerang kesakitan. “Aaagghhh…”.
“Tom, kamu kenapa?”. Tanya Zizi sambil memegang kepalaku dengan kedua tangannya.
“Apa kamu akan pergi dan meninggalkanku lagi?”. Tanyaku pada Zizi sambil menahan rasa sakit dikepalaku.
Tiba-tiba saja aku bisa mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, saat Zizi memberikan kalung tersebut sebagai hadiah perpisahan. Dan apa yang aku khawatirkan ternyata benar, Zizi mengatakan dia akan kembali ke Vervia untuk beberapa saat setelah ujian akhir sekolah.
Aku sangat merasa terpukul atas apa yang akan terjadi setelah ujian akhir sekolah nanti. Karena aku tidak ingin Zizi kembali ke Vervia, yang aku inginkan Zizi tetap disini bersamaku.
“Kali ini aku tidak akan pergi lama, aku hanya butuh waktu setidaknya sebulan, sebelum kembali kepelukanmu”. Kata Zizi yang berusaha membujuk dan menenangkanku.
Malam ini, merupakan malam yang begitu indah bagiku. Karena selama ini aku layaknya bulan tanpa cahaya matahari, dimana pada hakikatnya ada, namun tak dapat terlihat. Akan tetapi, kini bulan itu telah bersinar terang dan tampak indah, karena matahari telah memantulkan cahayanya. Sehingga membuat keberadaan suatu objek (bulan) dapat terlihat disetiap penjuru bumi.
Tak terasa mentari pagi telah hadir, dan hal itu menyadarkan kami bahwa malam telah berlalu. Kami pun segera pulang, setelah menghabiskan malam tanpa tersisa sedikitpun.









