“LAKUNA” Edisi XXX (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Aku Tidak Butuh Maaf (Bagian I)

Saat hendak masuk kedalam mobil, zizi berteriak “pinggirkan sepeda motormu!”.

“Zi, aku tidak punya alasan untuk menahanmu agar tetap disini. Akan tetapi, setidaknya biarkan aku untuk mengucapkan sesuatu”. Aku mengatakannya sambil berjalan kearah zizi.

“Apa pun alasanmu, aku tidak akan menerima permintaan maaf mu!. Tega-teganya kamu tom!”. Zizi berkata sambil menangis dan melemparkan handphone miliknya kearahku.

Aku tau, betapa marah dan kesalnya zizi saat ini. Akan tetapi, hal itu tidak akan menyurutkanku. Saat tepat berada didepan zizi aku berkata “kamu boleh menghajarku atau pergi kemanapun setelah ini. Akan tetapi, asal kamu tau. Aku kesini bukan untuk meminta maaf, melainkan ingin mengucapkan terimakasih”.

Mendengar ucapanku, zizi melotot kearahku. Mungkin saja dia heran, atau mungkin saja kemarahannya semakin memuncak. Namun, aku tetap memberanikan diri untuk melangkah lebih dekat. Hingga aku berada sangat dekat dengannya.

“Zi, terimakasih atas kisah yang telah kita lalui berdua selama beberapa bulan ini. Dan juga terimakasih atas kehadiranmu 8 tahun yang lalu, walau aku tak lagi bisa mengingatnya. _ asal kamu tau, bukan aku tidak ingin mengenangnya. Akan tetapi aku tidak bisa!. karena ada suatu insiden yang mengakibatkan otak ku tak lagi mampu menerima memori itu”. Aku mengatakannya sambil memegang tangan kanannya dengan tangan kiriku, kemudian memberikan kalung miliknya dengan tangan kananku.

Setelahnya aku pun pergi. Sedangkan zizi hanya terdiam melihatku berjalan menuju sepeda motor, kemudian pergi tanpa menoleh kearahnya lagi. Mungkin saja dalam hatinya, zizi merasa bingung atas apa yang aku ucapkan. Akan tetapi, kemarahannya menimbulkan ego yang cukup besar, sehingga membuatnya tidak ingin menanyakan maksud dari perkataanku. Tepat saat aku keluar dari gerbang rumah zizi, aku berselisih dengan naresh yang sedang diboncengi reza menggunakan sepeda motornya.

Aku terus berjalan tanpa arah, karena saat ini aku merasa tidak ada tempat yang tepat untuk akuu tuju. _ tak sadar aku terus berjalan kearah utara, dan kemudian berhenti tepat di perbatasan kabupaten camva dengan Kabupaten ‘Kanhu’ setelah menempu perjalanan hampir 2 jam. _ Akupun berhenti sejenak tepat didepan sebuah warung kecil untuk membeli air mineral dan sebungkus rokok. Aku termasuk perokok aktif, namun tidak seperti andra yang bisa menghabiskan 3 bungkus rokok setiap harinya. _ Setelah melepaskan dahaga dan menghabiskan 3 batang rokok aku melanjutkan perjalanan kearah utara, hingga aku tiba di kota ‘Vaski’ yang merupakan ibu kota kabupaten Kanhu. Sesampainya di kota Vaski, aku mendatangi sebuah cafe untuk beristirahat dan menghabiskan segelas kopi. _ tak terasa aku telah bersantai sambil melamun disini selama 30 menit dan saat kopi ku masih tersisa setengah cangkir, Tiba-tiba saja seorang perempuan cantik yang menggunakan dress berwarna hitam dengan sedikit motif berwarna putih serta ujung lengannya berwarna kuning, datang menghampiri.

“Apa kamu menunggu seseorang?”. Tanya wanita tersebut padaku.

Aku menatap kearahnya dan memperhatikannya secara seksama. Sebab wanita ini dari tadi hanya sibuk dengan handphone nya sejak awal aku memasuki cafe, dan dengan tiba-tiba dia menghampiriku yang berada disebelah mejanya.

“Kamu tidak boleh menatap seseorang yang belum kamu kenal seperti itu loh”. Sahutnya.

Wanita tersebut mengatakan hal itu bukan tanpa sebab. Karena dari tadi aku menatapnya seperti polisi yang tengah memperhatikan seseorang yang dicurigainya.

Kemudian aku berkata “Maafkan aku”. Sambil menundukkann kepala.

“Sepertinya kamu bukan orang sini”. Kata wanita tersebut sambil tersenyum.

Aku tak tau, harus mengatakan apa pada wanita yang sepertinya juga seumuran denganku. Belum sempat aku memikirkan jawaban. Wanita itu kembali berkata “tenang, aku bukan seorang paranormal. _ itu hanya intuisi ku saja”. Kemudian wanita tersebut menanyakan apakah dia boleh duduk di mejaku. Kebetulan aku tidak memiliki teman untuk mengobrol saat ini, jadi aku mempersilahkan dia duduk dihadapanku.

Setelah duduk dengan nyaman, wanita tersebut mengulurkan tangannya sambil menyebut namanya “aku Hana”.

” Tomy”. Balasku sambil bersalaman dengan hana.

Pos terkait