“LAKUNA” Edisi XXIX (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Andai Ku Bisa Menghentikan Waktu (Bagian V)

Saat malam hampir tiba, tak seorang pun dari sahabatku yang datang. Mungkin saja mereka tidak menjengukku hari ini, karena mereka ingin istirahat setelah 2 hari penuh menjagaku saat aku belum sadarkan diri.

Hingga keesokan harinya mereka datang cukup pagi, tepat saat jam menunjukkan pukul 09:00. Karena sahabat-sahabatku telah datang, mama, papa dan sherly meminta izin untuk pulang sebentar.

Selama 2 jam dirumah sakit, mereka asik menceritakan beberapa kejadian haru dan juga beberapa kejadian lucu yang mereka alami selama menjagaku beberapa hari yang lalu. Namun, tengah asik bersenda gurau. Tiba-tiba saja televisi menyiarkan sebuah berita tragedi yang menggemparkan hampir seluruh Donesivia. Sebuah gedung milik aktivis anti korupsi yang terkenal di negeriku hancur diledakkan oleh sebuah bom satu jam yang lalu. Kini, kami semua fokus melihat berita tragis tersebut.

Tangis pun pecah saat berita di televisi merilis daftar korban dari tragedi yang mengerikan itu. Ada nama dan foto zizi beserta orang tua dan juga adik perempuannya didalam daftar tersebut.

Seluruh badanku mati rasa, bahkan aku tak lagi merasakan pelukan dari sahabat-sahabatku yang terus menangisi kejadian tersebut. Tak ada alasan yang harus membuatku tegar saat ini.

Aku hanya bisa terdiam dan meneteskan air mataku untuk zizi. Kemudian aku merasakan sakit di kepala yang serasa akan membunuhku, hingga membuat aku berteriak sambil memegang kepala serta menarik rambut dengan sekuat tenaga yang masih tersisa, karena saat ini aku sangatlah lemah dan tak berdaya. Kemudian aku merasa seakan terbang melayang, hingga aku pun kehilangan kesadaran.

*******

“Sejak saat itulah tom, kamu tidak dapat mengingat masa lalu mu dengan baik, bahkan memori 3 tahun sebelumnya hilang dari ingatanmu”. Kata reza sambil memelukku dibangku taman.

“Kalo memang cerita kalian benar, lalu zizi…… ?”. Tanyaku pada reza dan naresh.

“Kami juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi saat melihatnya tadi, aku bisa memastikan itu zizi”. Sahut naresh.

“Setidaknya, kita bersyukur ternyata tidak terjadi apa-apa pada zizi”. Tambah reza.

Pantas saja, saat aku melihat zizi pertama kali, aku merasakan hal yang berbeda. Aku berfikir mengenalnya, namun aku tidak tau kapan dan dimana, apalagi saat dia tersenyum.

Akan tetapi aku benar-benar tidak bisa mengingat zizi kecil yang ada dimasa lalu ku.

Dalam keadaan yang masih bingung, Tiba-tiba saja reza menceritakan yang diketahuinya tentang apa yang telah aku alami selama ini. Dari cerita reza, aku mengalami penyakit ‘amnesia infantil’ yang diakibatkan benturan serta ditambah shock berat beberapa hari setelahnya saat mendengar kabar berita tentang zizi yang ikut menjadi korban ledakan tersebut. Kejadian itu mengakibatkan aku mengalami traumatik yang terlalu tinggi. Akan tetapi, yang aku alami sedikit berbeda menurut dokter, jenis amnesia yang aku alami merupakan pertama kalinya bagi sang dokter. Sebab amnesia infantil merupakan kehilangan ingatan oleh seseorang dalam rentan waktu 3 sampai 5 tahun diawal kehidupannya. Sedangkan aku kehilangan ingatan 3 tahun kebelakang, tepat setelah aku kehilangan kesadaran saat dirumah sakit. Inilah alasannya kenapa aku tidak bisa mengenal zizi. Aku kehilangan seluruh memori saat bersama zizi. Walaupun aku kehilangan zizi dimasa lalu, namun setiap senyuman zizi yang baru saja aku kenal saat ini, selalu berhasil membekukanku dan membuat memori otak ku terganggu.

Baru saja reza selesai menjelaskan hal yang selama ini ingin aku ketahui, tiba-tiba saja naresh berniat ingin mendatangi zizi “Kalian tunggu disini, aku akan menemui zizi”. Katanya sambil berdiri.

“Apa kamu tau dimana dia sekarang”. Tanya reza kepada naresh.

“Kemana lagi dia akan pulang, kalo bukan ke istana megahnya”. Jawab naresh.

Mendengar percakapan reza dan naresh membuat aku berkata didalam hati ” Ternyata saat itu bukan pertama kalinya aku kesana, dan sepertinya zizi berusaha untuk mengingatkan janji yang aku ucapkan padanya dulu”.

Saat naresh akan berjalan, aku memegang tangan naresh, sambil mengatakan “naresh, biar aku saja yang kesana. Aku tidak ingin dia menilaiku sebagai seorang yang pengecut”.

“Kalo begitu, kita kesana sama-sama. Karena bukan hanya kamu, aku juga ingin bertemu dengannya! ” Tegas naresh.

“Baiklah, tapi jawab dulu satu hal. _ bagaimana kalian tau soal kalung zizi yang ada padaku?”. Tanyaku pada naresh dan reza.

“Aku, naresh dan juga windi saat itu disana tom. Karena pintu kamar tidak tertutup, jadi kehadiran kami tidak diketahui. Akan tetapi, entah kenapa kami merasa saat itu bukan waktu yang tepat. Jadi kami memutuskan untuk pulang setelah mendengar percakapan itu”. Jawab reza.

Setelah mendengar jawaban reza, akupun berdiri dari bangku taman, sambil berkata “aku akan menemui zizi sendirian, dan kalian silahkan datang setelahnya”.

Naresh masih saja ingin mendatangi zizi bersama-sama. Namun sepertinya reza mengerti maksudku dan berusaha menahan naresh.

Sebelum mendatangi zizi kerumahnya, aku terlebih dahulu pulang untuk mengambil kalung yang aku simpan selama ini. Bahkan aku tidak pernah tau, kenapa aku menyimpan barang yang tak pernah aku ketahui siapa pemiliknya.

Hari pun mulai gelap, karena saat ini tepat pukul 17:50 sore. Aku memacu sepeda motor seperti seorang pembalap yang akan menjuarai kejuaraan dunia ketika melewati garis finish. _ sesampainya dirumah zizi, aku melihat pintu gerbang terbuka, sehingga aku langsung masuk dan menerobos penjaga yang berada didepan gerbang. Dari gerbang terlihat sebuah mobil fortuner terparkir di depan pintu rumah, seperti akan siap berangkat. Benar saja, saat itu juga zizi keluar dari rumah dengan salah satu penjaganya yang membawakan sebuah koper, kemudian memasukkan koper tersebut ke bagian belakang mobil. Tanpa fikir panjang aku langsung memarkirkan sepeda motorku tepat didepan mobil tersebut.

 

Pos terkait