“LAKUNA” Edisi XXII (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Entitas (Bagian IV)

Sejak hari itu. _ hampir setiap hari aku, reza, naresh, dan windi menghabiskan waktu bersama dengan zizi dirumahnya. Bahkan termasuk dihari selasa, kamis dan ahad.

Alasan kami lebih sering bermain dirumah zizi, dikarenakan zizi menawarkan kepada kami untuk ikut latihan taekwondo dan juga aikido bersamanya dihalaman belakang rumah.

Beberapa mingu berlalu, aku, reza, naresh, dan windi mulai kecanduan pada seni ilmu bela diri. Hingga tak ada hari yang kami lewatkan tanpa latihan bersama zizi.

Pada awalnya kami semua selalu kalah dari zizi, hingga suatu hari untuk pertama kalinya aku mengalahkan zizi. _ terlihat zizi sangat tidak Terima dengan kekalahannya. Zizi meminta pertandingan ulang, dengan sangat percaya diri aku menerima tantangannya. Namun, tepat sebelum pertandingan dimulai. Mama zizi datang menghentikan pertandingan, kemudian berkata “hari ini latihannya cukup, dan pulanglah segera, serta sampaikan pada orang tua kalian, bahwa om dan tante mengundang keluarga kalian untuk makan malam dirumah baru kami malam ini pukul 20:00”. Kata mama zizi sambil memberikan sebuah kartu nama kepada kami masing-masing. Pada kartu nama tersebut terdapat alamat rumah baru zizi.

“Apa ini berarti kamu akan tinggal disini selamanya, dan tidak kembali lagi ke vervia?”. Tanyaku sambil melihat kartu nama yang diberikan mama zizi.

“Rumahku yang sebenarnya di vervia, sedangkan yang baru saja selesai dibangun itu adalah bekas rumah nenek ku”. Kata zizi sambil menatap fokus kearahku, sehingga terlihat seperti sedang mengamatiku secara detail. _ akupun membalas tatapan zizi, hingga mataku dan mata zizi saling menatap satu sama lain.

Tatapan kami berakhir saat zizi membalikkan badannya sambil berkata “aku tunggu kalian semua nanti malam. Jangan buat aku kecewa!”. Kemudian zizi berjalan masuk kedalam rumah.

Pada malam harinya, kami semua menghadiri undangan keluarga zizi. Terlihat papa dan mama zizi, berusaha untuk membuat nyaman para tamunya. Karena mama dan papa zizi baru pertama kalinya bertemu dengan orang tua reza, naresh, dan windi. Tentunya berbeda dengan keluargaku yang telah mengenal baik keluarga zizi.

Sebelum makan, zizi mengajak kami berkeliling sebentar didalam rumah barunya. Kami semua terpukau melihat rumah baru zizi yang sangat besar dan mewah. Hingga tak sadar aku berkata “Ini bukan rumah, tapi istana”.

“Apa kamu mau tinggal di istana ini?”. Tanya zizi.

“Kalau begitu, kalian harus menikah dulu”. Sahut naresh.

Mendengar perkataan naresh kami semua tertawa terbahak-terbahak.

“Aku akan jadi penghalang pernikahan kalian”. Tambah windi.

Tawa kami semakin tak terkendali mendengar perkataan windi.

Persahabatan kami seperti suatu entitas yang kemudian membagi dirinya sendiri menjadi 5 bagian.

Tawa bahagia saat itu diakhiri oleh zizi yang mengajak kami kembali ke ruang makan. Karena sepertinya acara utama akan segera dimulai. Sesampainya diruang makan, terlihat suguhan yang sangat mewah serta makanan yang sangat lezat dan siap untuk disantap. Tak lama setelah kami sampai, makan malam pun dimulai.

Saat kami tadi berjalan ke ruang makan. Zizi menyampaikan, bahwa ada sesuatu yang ingin diperlihatkannya nanti setelah makan malam.

Hampir satu jam telah berlalu dan makan malam pun telah usai. Setelahnya zizi memberikan kode pertanda “ikuti aku”. Kami pun beranjak pergi bersama zizi, meninggalkan orang tuaku kami yang tengah asyik berbincang sesama mereka.

Zizi membawa kami ke halaman belakang rumahnya, kemudian berjalan menuju sebuah bangunan yang bergaya Jepang. Sesampainya pada bangunan tersebut, zizi langsung mengajak kami masuk kedalam nya sembari berkata “ini tempat latihan kita selanjutnya. Aku sengaja meminta bangunan ini ke papa ku”. Kata zizi sambil memamerkan apa yang didalamnya.

Kami semua takjub melihat tempat latihan yang dimiliki zizi. _ saat itu zizi sempat memamerkan kemampuannya memainkan pedang menggunakan ‘bokken’ (pedang kayu).

“Aku tidak sabar ingin latihan disini”. Kata reza, sambil berjalan kearah rak yang tersusun ‘bokken’ pada sudut kiri bangunan. _ reza pun ikut mengayun-ayun kan ‘bokken’. Kami pun mulai memegang ‘bokken’ masing-masing, layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Namun tidak dengan windi, dia tampak tidak tertarik pada mainan baru tersebut.

“Aku penasaran dengan kamu, karena selama latihan kamu tidak pernah ingin sparing partner”. Tantang zizi kepada windi sambil meunjuknya dengan tangan kiri.

Awalnya windi tidak tertarik, namun zizi selalu berusaha untuk memprovokasi windi agar mau bertarung. Zizi sepertinya sangat penasaran dengan windi.

“Kita bertarung bebas”. Tantang zizi lagi. _ maksud zizi, pertarungan ini boleh menggunakan tekhnik taekwondo maupun aikido.

Tak disangka windi akhirnya menerima tantangan zizi. Kami bertiga sedikit khawatir dengan windi, karena saat latihan windi terlihat tidak berbakat.

Setelah mengambil posisi masing-masing, pertarungan pun dimulai. Zizi mendominasi pertandingan, karena windi hanya berusaha menghindari zizi. Tentunya zizi berhasil memenangkan pertandingan dengan melakukan tendangan berputar yang tepat mengenai perut windi. Untungnya zizi menahan kekuatan tendangannya, sehingga windi tidak sampai muntah mengeluarkan seluruh isi makanan yang ada diperutnya.

“Ayo lakukan sekali lagi!”. Tegas windi sambil mengambil posisi.

Kami sempat melarang tantangan windi, namun windi tetap bersikeras ingin melakukannya satu ronde lagi. Tentu saja dengan senang hati zizi menerimanya.

Pada ronde kedua ini, masih terlihat sama seperti ronde pertama tadi. Zizi mendominasi jalannya pertarungan. Akan tetapi, pada saat zizi melakukan serangan kepada windi, dia berhasil menghindar dengan memutarkan badannya berulang kali, hingga tepat berada didepan zizi. Kemudian dengan cepat windi mengunci pergelangan tangan zizi dan melakukan bantingan. Tekhnik ini disebut ‘koshi nage’ dalam beladiri aikido.

Aku, reza, dan naresh sungguh terkejut melihat kejadian yang baru saja terjadi. Kami tidak akan pernah menyangka windi bisa mengalahkan zizi. Akan tetapi, zizi seperti tersenyum puas. Sambil berdiri, zizi berkata “ternyata benar, apa yang aku fikirkan selama ini”.

Sebanarnya zizi telah memprediksi, bahwa windi lebih baik dalam tekhnik aikido dari pada taekwondo. _ kekalahan zizi malam ini membuat naresh dan reza termotivasi untuk mengalahkan zizi. Karena yang mampu mengalahkan zizi selama ini, hanya aku dan windi. Hasil pertandingan windi dan zizi adalah 1:1 (seri). Sedangkan aku baru mampu mengalahkan zizi sekali, setelah puluhan kali kalah darinya. Kami semua memiliki guru yang sama, namun perbedaannya dengan zizi hanyalah soal penguasaan tekhnik serta pengalaman, karena zizi jauh lebih dulu belajar seni bela diri dibanding kami berempat.

Malam yang indah pun berakhir saat salah satu pembantu yang bekerja dirumah zizi memanggil kami semua, karena para orang tua telah selesai dengan urusannya dan akan bersiap-siap pulang.

Sebelum meninggalkan dojo, dengan lagak yang sedikit sombong zizi berkata “aku akan berikan hadiah bagi siapapun yang bisa mengalahkanku dalam 3 ronde di pertandingan berikutnya”. Kemudian zizi berjalan kedalam rumah tanpa menoleh kebelakang lagi.

 

Pos terkait