Entitas (Bagian III)
Sesampainya dirumah zizi, kami bukannya diajak masuk melalui pintu depan, melainkan kami mengendap-endap masuk melalui taman belakang rumahnya.
“Kenapa kita seperti pencuri begini?”. Tanya naresh.

” Sssttt….. Jangan berisik”. Balas zizi dengan suara berbisik.
Tiba-tiba seseorang memanggil zizi, tepat saat kami mengendap-endap menuju pintu. “Nona, apa yang sedang kamu lakukan? “.
Saalah satu penjaga rumah memergoki kami, zizi pun langsung berdiri tegap dan menarik nafas yang panjang, seperti orang yang sudah menyerah dan telah tertangkap basah.
Tak lama kemudian, keluar seorang wanita dari pintu belakang. _ Kami berempat terkejut, karena wanita tersebut adalah wanita yang mengejar zizi pada saat kami bertemu dengannya setahun yang lalu.
Wanita tersebut dengan sopan membawa kami semua masuk kedalam rumah. Didalam rumah kami dihidangkan makanan dan minuman yang terlihat sangat lezat. Tidak butuh waktu yang lama, kami langsung menyerbu hidangan yang telah tersedia dihadapan kami berlima. Tepat setelah wanita itu mempersilahkan kami untuk menikmatinya_ aku, reza, naresh dan windi sangat menikmati makanan ala eropa tersebut. Sedangkan zizi, sama sekali tidak tertarik, bahkan tidak menyentuh satupun makanan yang tersedia.
Sambil menikmati makanan, aku bertanya pada zizi “ssprtina didpn lg bnyk tmu”.
Sambil melirik tajam kearahku, zizi berkata “kamu ngomong apa sih?. Habiskan dulu yang ada di mulutmu, baru ngomong!”.
Setelah menelan makanan yang memenuhi mulutku, aku berkata ” Sepertinya didepan lagi banyak tamu”.
“Mana aku tau”. Balas zizi yang terlihat kesal.
Naresh langsung menyahut zizi “kamu kenapa jadi jutek begitu?!”.
“Aku tuh lagi kesal tau!”. Sahut zizi.
Kami berempat serentak menatap zizi. Seolah-olah kami mengatakan tidak terima, jika rasa kesalnya dilampiaskan kepada kami, sedangkan kami tidak mengetahui sebab kenapa zizi kesal.
Tak lama kemudian seorang wanita yang sepertinya sebaya dengan mama ku datang menghampiri. Wanita itu menatap kami satu persatu, kemudian tersenyum, bahkan hampir seperti tertawa.
Kami berusaha bersikap sopan, dengan menundukkan kepala kepada wanita tersebut, sebagai tanda sapa tanpa kata.
Sambil berjalan mendekat kepada zizi, wanita itu berkata “jadi mereka alasan kamu selalu hilang setiap sore zi?”.
Zizi hanya diam, begitupun aku, reza, naresh, dan windi yang hanya terdiam sambil kebingungan.
“Bukan kah kamu anak ‘zahra’ istrinya ‘faresh’. Kata wanita tersebut sambil tersenyum. _ aku semakin kebingungan, karena wanita itu mengenal kedua orang tuaku.
Wanita itu menggeser kursi dan duduk tepat disebelah zizi, kemudian menceritakan, bahwa dia adalah mama nya zizi. Dan papa zizi yang saat ini sedang melayani tamu di ruang depan adalah teman papa ku semasa kecil.
Mama zizi mengenaliku dari foto keluarga yang terpajang dirumahku saat mereka baru pindah ke kota bankin. Pada hari pertama mereka disini, tepatnya setahun yang lalu. Orang tua zizi langsung mendatangi rumahku. _ alasan mereka datang, dikarenakan papa ku dan papa zizi adalah sahabat lama. Persahabatan mereka terjalin sejak mereka SMP hingga papa zizi merantau ke vervia setelah lulus dari SMA. Itulah alasan keluarga zizi mendatangi rumahku di hari pertama kali datang ke kota bankin setelah sekian lama meninggalkan kampung halamannya.
“Apa kamu ikut saat itu?”. Tanyaku pada zizi.
“Zizi lah yang pertama kali melihat foto itu, dan menanyakan kepada mama mu tentang kamu tom”. Jawab mama zizi, karena zizi sepertinya sedikit malu untuk menjawab dan hanya menundukkan kepala serta diam seribu bahasa.
Dengan senyuman yang sangat ramah, mama zizi menanyakan nama yang lainnya dan menyalami kami satu persatu.
“Kalau memang mereka alasan kamu selalu menghilang dari rumah, mama gak akan melarang kamu lagi zi”. Ungkap mama zizi kepadanya.
Ternyata selama ini zizi lari dari rumah, hanya untuk bermain dengan kami. Seperti seekor rubah licik, zizi selalu berhasil kabur. Namun alasan zizi tidak pernah muncul hari selasa dan kamis, karena hari itu adalah jadwal latihan taekwondo, sedangkan hari ahad adalah jadwal latihan aikido. Mama zizi bercerita banyak tentang zizi.
Diantaranya, tentang kebiasaan zizi yang selalu melihat langit selama lebih kurang 15 menit sebelum tidur. Juga tentang koleksi jacket hoodie yang jumlahnya puluhan. Dan zizi tidak pernah mau latihan piano, apalagi menari, karena zizi lebih tertarik pada dunia bela diri. _ zizi bercita-cita menjadi seorang polisi, karena zizi ingin membantu papa nya dalam menegakkan kebenaran, sekaligus melindungi keluarganya.
“Kalau begitu, aku akan menjadikanmu kepala Polisi negara ini, saat aku jadi presiden nanti”. Celotehku.
“Apa kamu ingin jadi seorang politisi tom?”. Tanya mama zizi kepadaku.
Dengan polos aku bertanya balik kepada mama zizi. “Politisi itu apa tante?”.
Mama zizi tersenyum dan menjelaskan kepadaku makna politisi. Setelah mendengar penjelasannya, aku kembali berceloteh “ya, aku akan jadi seorang politisi, dan menjadi presiden suatu saat nanti”.
Setelah sekian lama membisu, akhirnya zizi tertawa mendengar celotehanku.
“Jika benar kamu akan jadi seorang presiden nantinya, aku orang pertama yang akan memukul kepalamu”. Balas zizi atas celotehanku.
“Ya udah. Mulai sekarang kamu gak perlu kabur sembunyi-sembunyi lagi. Mama izinkan kamu main bersama mereka”. Kata mama zizi sambil mengusap kepala zizi, kemudian kembali ke ruang tamu.
Setelah percakapan yang menyenangkan dengan mama zizi serta menikmati semua makanan yang tersedia, kami pun bermain di taman belakang. Mood zizi pun kembali ceria, setelah tadi sempat tidak baik.
Kami menghabiskan sore ini dengan permainan-permainan yang menyenangkan. Namun diantara permainan yang kami mainkan, aku paling menyukai permainan perang-perangan yang menggunakan senjata serta kaca mata 3D (tiga dimensi) milik zizi. Seolah-olah kami semua ingin menjadi pahlawan dan menghabisi semua penjahat yang ada di muka bumi ini.
Tak terasa hari mulai gelap, kami pun segera pulang. Namun sebelumnya, tepat setelah aku melangkahkan sebelah kakiku keluar dari pintu belakang yang kami masuki tadi, aku berkata “besok kita main lagi ya, tapi main disini”.
Zizi hanya menjawab dengan menggelengkan kepala, kemudian tersenyum. _ itu menandakan ‘tidak’ namun senyumnya seperti menandakan ‘iya’.
Sesampai dirumah, aku menceritakan tentang yang aku alami dirumah zizi. Mama ku sangat terkejut. “Pantas saja, mama merasa mengenalnya saat pertama memandangnya. _ ya mama ingat sekarang!.” Tegas mama, setelah aku menyampaikan cerita mama zizi tadi.









