Burung Hantu (Bagian III)
Setelah makan malam, aku dan Zizi berkeliling kota untuk menikmati keindahan malam bersama.
Ditengah perjalanan yang menyenangkan, tiba-tiba Zizi melihat salah seorang anggota sang Herder yang aku foto saat mereka akan memasuki gedung tadi sore.

“Tom bukankah itu salah satu anggota Herder?”. Kata Zizi sambil menunjuknya dari dalam mobil.
“Sepertinya iya”. Jawabku.
“Ayo kita ikuti si ‘Borzoi’ itu”. Kata Zizi. _ aku pun berhenti dan memarkirkan mobil.
Lagi-lagi nama sandi untuk sang target merupakan nama jenis Anjing. Sepertinya Zizi akan memberi nama-nama Anjing sebagai nama sandi untuk para seluruh penjahat yang menjadi target kami. Apa mungkin Zizi menyamakan mereka dengan anjing?. Fikirku.
Setelah keluar mobil, kami pun mulai memantau target dari kejauhan. Kemudian Zizi menghubungi informannya yang sepertinya kebetulan ada disitu.
Dari jarak yang cukup jauh, aku melihat 2 orang pengamen mendatangi Borzoi dari belakang secara diam-diam. Karena sedikit terkejut, sang pengamen yang belum sempat bernyanyi di usir oleh Borzoi. Ternyata pengamen itu adalah informan Zizi.
Tak lama kemudian, pengamen tersebut menelfon Zizi dan mengatakan, mereka hanya mendengar si Borzoi mengatakan kepada 2 orang temannya “tenang, kita punya orang dalam pada Bank tersebut”.
“Sepertinya mereka sedang merencanakan untuk merampok Bank”. Kata Zizi padaku.
Walau Zizi tau mereka akan melakukan perampokan pada Bank. Akan tetapi, Zizi masih belum mengetahui Bank mana yang akan mereka rampok.
Setelah Borzoi dengan 2 teman lainnya bubar. Zizi langsung mengirimkan pesan WA kepada seluruh anggota tim untuk datang ke kantor esok hari, tepat pada pukul 07:00.
Setelah itu Zizi mengajakku pulang, agar dapat beristirahat malam ini.
Keesokan harinya, aku mendatangi rumah Zizi pada pukul 06:20. Setibanya dirumah Zizi, dia langsung berkata. “Tom, aku meminjamkan mobil, bukan untuk menjadi supir ku. Jadi kamu gak perlu menjemput ataupun mengantarku setiap hari”.
” Aku tau kok. Aku hanya ingin selalu bersamamu”. Balasku, sambil menggoda Zizi.
“Kalo begitu tinggal lah disini bersamaku, masih ada 2 kamar kosong. Kamu pilih saja yang mana”. Sahut Zizi.
Sejujurnya aku sangat ingin tinggal di sini bersamanya, untuk meluapkan seluruh rasa dihatiku.
Hampir setiap hari aku merindukan Zizi, bahkan setiap detik aku selalu merindukannya.
Akan tetapi, soal tawarannya tinggal serumah sedikit menggangguku. Sebab, bisa saja Zizi hanya menguji bagaimana reaksi ku ketika memiliki kesempatan yang begitu leluasa kepada seorang wanita.
Menghadapi Zizi tidak bisa hanya menggunakan perasaan, melainkan harus menggunakan dasar logika yang kuat. Karena dia bukanlah wanita biasa pada umumnya. _ kalau pun Zizi serius meminta ku tinggal bersamanya, aku berfikir akan lebih baik bagi kami untuk tidak tinggal bersama. Karena mungkin saja akan banyak masalah yang hadir jika kami tinggal bersama. Apalagi kami baru berusia 22 tahun, pastinya belum bisa mengontrol emosi diri.
“Hey, kamu pasti belum sarapan?. Ayo kita sarapan dulu”. Kata zizi padaku. Hal itu sedikit mengejutkanku sekaligus mengakhiri analisa serta asumsi bodohku tentang tawarannya tinggal serumah.
Karena kami masih memiliki waktu, sebelum berangkat ke kantor. Aku pun menerima tawaran Zizi untuk sarapan bersamanya.
Sesampainya di ruang makan, bibi yang dulu merawat Zizi saat masih kecil menyediakan nasi goreng untukku.
“Silahkan tuan”. Kata sang bibi.
Ternyata bibi tersebut masih mengenalku, bahkan ia menanyakan kabar teman-teman lainnya. Sang bibi masih mengingat kenangan-kenangan saat kami dulu sering bermain di rumah Zizi yang berada di Kota Bankin. _ setelah menjawab beberapa pertanyaan dari bibi, aku pun mulai menyantap makanan yang terlihat lezat itu. _ Aku tak menyangka nasi goreng tersebut sangat enak.
“Itu aku yang bikin loh”. Celetuk Zizi.
Mungkin Zizi tau aku sangat menikmati nasi goreng ini. Sebab aku tidak bisa menyembunyikan betapa aku menikmatinya.
Awalnya aku kurang percaya, sampai bibi tersebut membenarkan perkataan Zizi tadi.
“Aku mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tuan, kecuali memasak. Lagi pula memang masakan nona Zizi sangatlah enak”. Kata sang bibi.
“Wooow… Beruntungnya yang menjadi suami mu kelak. Karena sebagai seorang istri, kamu sepertinya tidak memiliki kekurangan”. Kataku sambil berusaha menggoda Zizi.
Terlihat wajah Zizi begitu merah mendengarnya, dan mulailah Zizi salah tingkah hingga tak sengaja menjatuhkan gelas minumannya.
Melihat kejadian itu, sang bibi pun tertawa tipis.
“Habiskan cepat sarapan mu. Kita harus segera ke kantor!”. Tegas Zizi yang berusaha menetralisir keadaan.
“Kamu yang menjatuhkan gelas, kok marahnya sama aku?”. Balasku.
Sang bibi tidak dapat lagi menahan, akhirnya dia pun melepaskan tawanya.
“Maaf tuan, nona. _ Bibi ke belakang dulu ya, masih ada kain kotor yang harus di cuci”. Kata sang Bibi sambil tersenyum-senyum melihat tingkah kami berdua.
Ini pertama kalinya aku melihat Zizi gerogi, hingga dia bertingkah seperti orang ‘bodoh’.
Setelah menikmati keindahan ‘sunrise’ pagi ini diwajah Zizi, kami pun berangkat ke kantor.
***
Sesampainya dikantor, Zizi langsung mengemukakan Hipotesa nya. Bahawa Herder merupakan pimpinan kelompok, sedangkan gudang penyimpanan narkoba tidak ada kaitannya dengan Herder, hanya saja sang Induk Anjing merupakan anggota Herder sekaligus salah satu anggota rantai narkoba di Kota ini. Sepertinya Unit Burung Hantu akan bekerja keras beberapa hari ini. Karena, kelompok Herder sedang merencanakan perampokan salah satu Bank, dan kami harus bisa menggagalkan rencana mereka.
“Melalui Induk Anjing, kita bisa mendapatkan info dari kedua kelompok tersebut!”. Kata Zizi sambil meletakkan foto dan bukti-bukti didepan tim.
Kemudian Zizi mengaktifkan CCTV yang telah dipasang oleh Ayam Jantan dan Kelinci Kurus tadi malam.
Setengah jam berlalu. Namun kami belum menemukan aktifitas apapun didalam gedung tersebut. Zizi meminta Rubah Kuning dan Jerapah Bungkuk untuk bergantian mengamati CCTV, kemudian memerintahkan Ayam Jantan dan Kelinci kurus kembali kerumah untuk istirahat sejenak, karena mereka berdua terlihat lelah setelah menjalani misi tadi malam.
Zizi menyuruh mereka istirahat, agar bisa kembali beraksi nanti malam. Sedangkan aku, Zizi dan yang lainnya kembali turun ke lapangan untuk mengumpulkan informasi penting lainnya.
Zizi membagi kami menjadi 3 tim. _ sebelum memulai aksi, Zizi berkata “Gunakan semua informan yang kalian punya!”.
Seperti biasa, aku satu tim bersama Zizi. _ Dan kami pun segera pergi mengelilingi kota untuk mencari informasi terbaru yang mungkin dapat membantu.
***
Kami telah menghabiskan waktu selama 5 jam berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, namun belum juga mendapatkan informasi apapun. Bahkan sesekali kami melewati gedung kelompok Herder dan juga gudang penyimpanan narkoba oleh kelompok satu lagi yang belum kami ketahui siapa pemimpinnya.
Karena belum juga mendapatkan informasi terbaru, Zizi memberikan waktu untuk seluruh tim agar dapat menenangkan fikiran sejenak, agar dapat kembali refresh.
“Aku beri waktu 2 jam untuk menghilangkan kejenuhan. Kalo aku boleh saran, kalian lebih baik pulang dan mandi, agar bisa fresh kembali”. Kata Zizi melalui ‘earphnoe’. Kemudian tak lupa Zizi menelfon Ayam Jantan dan Kelinci Kurus untuk bersiap kembali beraksi 2 jam lagi.
“Apakah kita juga akan pulang?”. Tanyaku pada Zizi.
“Aku ingin memanjakan diri dulu, jadi antarkan aku ke Green Leaf”. Kata Zizi.
Green Leaf merupakan salon khusus para wanita. _ Wanita memang biasanya menyukai salon yang memiliki banyak pelayanan untuk dapat membuat tubuh mereka merasa lebih rileks dan segar.
***
Setelah 2 jam berlalu, kami pun segera kembali kekantor. Tentunya sebelum menuju kantor, aku terlebih dahulu menjemput Zizi di Green Leaf.
Akhirnya saat dikantor, Beruang Kutub menyampaikan informasi yang didapat dari informan nya. Bahwa kelompok Herder berjumlahkan 6 orang termasuk sang Herder itu sendiri. Bahkan ada 2 diantaranya merupakan mantan anggota polisi yang diberhentikan secara tidak hormat, karena terlibat kasus narkoba.
Setelah Beruang Kutub selesai memberikan informasinya. Tak lama kemudian, Elang Putih memberitahukan ada aktifitas didalam gedung. Kami semua pun fokus memperhatikan layar CCTV yang memperlihatkan satu persatu anggota Herder termasuk dirinya memasuki gedung.
Sang Herder membentangkan sebuah peta. kemudian memaparkan rencananya kepada seluruh anggota kelompok. _ kami mendapatkan visual yang jelas dari CCTV yang dipasang. Akan tetapi, karena jarak CCTV dengan tempat target berkumpul cukup jauh, membuat audio CCTV tidak dapat menangkap suara dengan jelas.
Zizi meminta tim IT untuk memperlebar gambar peta yang sedang mereka gunakan, kemudian dicetak ulang.
Sambil memegang peta, kami terus mengamati pergerakan kelompok Herder melalui layar. Ada 2 Bank yang hanya berjarak 400m didalam peta, jadi kami harus terus mengamati Bank mana yang menjadi target kelompok Herder. Akhirnya kami mendapati target Bank yang akan di rampok oleh kelompok Herder.
Disaat yang sama, seorang informan yang aku miliki memberitahukan tentang akan terjadi transaksi narkoba terbesar di kota ini 4 hari lagi oleh si pemilik gudang dengan bandar besar yang menjadi pemasok utama narkoba diseluruh Provinsi Vervia selama beberapa tahun belakangan ini. Saat memberitahu Zizi mengenai hal itu, Zizi mengatakan “aku sudah tau!”.
Ternyata saat di salon tadi, Zizi telah mendapatkan informasi itu dari salah seorang infoman nya. Bahkan Zizi telah mengetahui si pemilik gudang yang diberi nama ‘Bay Retriever’ sedangkan bandar besarnya juga telah diberi nama ‘Clumber Spaniel’ oleh Zizi, walau dirinya belum mendapatkan ciri-ciri fisik mereka.
Setelahnya Zizi meminta Pak Kasat mendatangi kantor sekarang juga, untuk melaporkan hasil pengintaian kami beberapa hari ini. _ setengah jam kemudian Pak Kasat tiba dikantor. Tanpa banyak basa-basi, Zizi langsung memaparkan serta melaporkan hasil kerja Unit Burung Hantu.
Pak Kasat sangat terkesan dengan kerja tim Unit Burung Hantu saat ini. Dari waktu yang diberikan selama 1 bulan, hanya perlu waktu kurang dari 1 minggu untuk kami mendekati progres 100%. Bahkan, bukan hanya 1 kasus yang akan kami selesaikan. _ kami bisa memperlebar informasi, hingga terkuak kasus peredaran narkoba terbesar di kota Vervia Barat.
“Pertahankan, kalo bisa tingkatkan lagi kinerja kalian”. Kata Pak Doni sebelum bertepuk tangan untuk Unit Burung Hantu.
Kami terus menggali informasi tentang 2 kelompok yang menjadi prioritas utama KAPOLTABES Vervia Barat saat ini. Akan tetapi, 2 hari setelah kami melaporkan kepada Pak Kasat. _ kami mendengar berita, salah satu Tim Sergap POLTABES Vervia Barat melakukan penangkapan pada gudang penyimpanan narkoba milik Bay Retriever, sedangkan Bay Retriever itu sendiri tidak berada dilokasi. _ Saat mendengar berita tersebut, Zizi mengamuk, mengobrak-abrik kursi serta mengoceh sendiri dengan kata-kata kasar didalam kantor. Sontak hal itu membuat kami semua terdiam.
“Brengseek… Kenapa mereka melakukan penangkapan sekarang!”. Teriak Zizi.
Aku mencoba menenangkan Zizi. _ Setelah memberikannya segelas air mineral, Zizi menceritakan alasan dirinya mengamuk.
Zizi merasa dirinya dikhianati. _ aksi penangkapan yang dilakukan oleh Tim Sergap, membuat kami kehilangan Clumber Spaniel sekaligus Herder. Harusnya mereka melakukan penangkapan saat transaksi dilakukan, agar bisa mendapatkan Clumber Spaniel. Ditambah lagi penangkapan tersebut akan membuat ‘shock terapy’ bagi si Induk Anjing dan 2 mantan polisi anggota Herder, karena mereka bertiga memiliki afiliasi dengan Bay Retriever. _ walaupun pada saat penangkapan mereka bertiga tidak berada di TKP. Akan tetapi dapat dipastikan mereka akan melarikan diri untuk beberapa saat, agar polisi sulit dalam melakukan pengembangan kasus. _ dengan menghilangnya 3 anggota Bay Retriever yang juga merupakan anggota Herder tersebut, maka dapat dipastikan mereka akan membatalkan rencana perampokan untuk semntara waktu. _ Jadi, operasi yang dilakukan hari ini hanya untuk menangkap anak buah Bay Retriever yang telah dijadikan tumbal.
Mendengar penjelasan Zizi, kami semua pun merasa kesal. Sebab apa yang telah kami upayakan selama ini, terasa sia-sia karena satu tindakan yang tidak tepat.
“Coba kalian bayangkan, jika kita bisa menangkap seluruh gembong narkoba tersebut beserta 3 anggota Herder yang ada didalamnya. Pastinya kita bisa menangkap Herder setelahnya”. Teriak Zizi kepada kami semua.
Kemudian, Zizi mengambil handphone nya dan langsung menghubungi Pak Kasat. Dia menanyakan soal penangkapan yang terjadi.
“Bukankah saya sudah berikan kepada bapak rencana penangkapan yang tepat, agar kita mendapatkan keduanya!”. Zizi sedikit membentak Pak Doni yang merupakan atasan kami.
Pak Kasat meminta kami menunggu, karena dia akan segera menuju kantor. Sebab masalah ini tidak bisa dibicarakan melalu media handphone.
Sesampainya Pak Kasat dihadapan kami semua, dia menjelaskan bahwa ini perintah langsung dari Pak KAPOLTABES. _ Saat Pak Kasat melaporkan progres kerja tim nya. Tak lama kemudian KAPOLTABES langsung menginstruksikan kepada Kasat Reskrim untuk melakukan penangkapan 2 hari lagi.
“Aku fikir, KAPOLTABES yang baru ini akan lebih baik. Ternyata sama saja!”. Gerutu Pak Kasat.
Kami pun terkejut mendengar gerutunya, sehingga menanyakan “apa maksud bapak?”. Tanya Elang Putih.
“Tanyakan saja pada Anak Kucing yang aku maksudkan, dia pasti mengerti”. Jawab Pak Kasat. Sontak kami langsung menoleh kearah Zizi. Dari ekspresi wajahnya, Zizi masih sangat kesal atas apa yang terjadi. Namun Zizi mengerti betul apa yang dimaksudkan Pak Kasat _ sebelum Pak Kasat akan pergi meninggalkan kami dikantor, dia berkata “terimakasih atas kerja keras kalian. Dan satu hal yang perlu kalian ketahui, mengapa aku mengganti seluruh personil Unit Burung Hantu sebelumnya?. _ hal itu dikarenakan, sebagian besar dari mereka polisi yang korup. Saat ini, walaupun sepertinya akan sulit, aku tetap sangat berharap pada kalian!”.
Zizi masih saja tidak Terima, hingga dia melempar semua benda yang ada diatas meja, lalu kemudian menangis. _ kami berusaha untuk menghibur Zizi, namun zizi hanya diam seribu bahasa sambil duduk dan menundukkan kepalanya.
Rubah Kuning mengumpulkan semua foto anggota kelompok Herder dan juga foto kosong untuk melambangkan Bay Retivier serta Clumber Spaniel, kemudian menempelkannya ke papan kerja.
“Kalian boleh lolos kali ini. Tetapi, tak lama lagi kami akan menangkap kalian semua!!!”. Kata Rubah Kuning dengan semangat.
Mendengar hal itu, Zizi pun berdiri dari kursinya dan mengarahkan pandangannya ke Papan Kerja. Kemudian Zizi mengatakan “Maafkan aku, dan terimakasih atas kerja keras kalian”.
Sambil tersenyum tipis, Rubah Kuning berkata “kalo sampai Anak Kucing mundur sebagai ketua, maka aku yang akan menggantikannya. Termasuk menggantikan posisinya pada Kucing Kampung”.
Mendengar perkataan Rubah Kuning aku berkata di dalam hati “brengsek, apa Rubah Kuning sedang mencoba memprovokasi Zizi sambil merusak hubunganku dengan Zizi?!”.
Bukannya bertambah marah, malah Zizi tersenyum mendengar perkataan Rubah Kuning.
“Aku tidak akan mundur, sebelum mereka diringkus!”. Kata Zizi dengan optimisme yang sangat tinggi. _ “dan kamu Kucing Kampung, jangan coba macam-macam denganku”. Sembari tersenyum, Zizi menatap tajam kearahku sambil mengarahkan jari telunjuknya padaku.
“Siap Ketua”. Kata rubah Kuning sambil memberi hormat kepada Zizi.
Kami semua pun ikut memberikan hormat kepada Zizi. _ ternyata Rubah Kuning berhasil memprovokasi Zizi untuk kembali memimpin kami agar keadilan dapat ditegakkan di negeri ini serta memberantas para ‘Sampah’ yang merusak negeri ini.
Karena keadaan saat ini dirasa tidak kondusif, maka Zizi memerintahkan kami pulang untuk beristirahat sejenak. Namun sebelum bubar, Rubah Kuning sempat mencandai Anak Kucing, dengan berbisik “kalo soal Kucing Kampung tadi bagaimana?”. Rubah Kuning mengatakannya sambil tertawa.
“Kamu coba saja. Apakah aku dapat tergantikan atau tidak?”. Zizi pun membalas sambil tertawa.
Kemudian Rubah Kuning menatap kearahku, sembari melempar senyuman termanisnya. Awalnya aku sedikit salah tingkah, namun aku tidak ingin membuat Zizi kembali merasa cemburu, oleh karena itu aku tidak menghiraukan Rubah Kuning.
7 bulan berlalu begitu saja, dan saat ini kami hanya bekerja sebagai bayangan untuk membantu bagian intelejen POLTABES Vervia Barat mengumpulkan informasi tanpa diketahui, karena keberadaan kami yang sangat dirahasiakan pada publik.
Tepatnya hari senin, sebelum menuju ke kantor. Aku menyempatkan diri untuk membeli beberapa makanan ringan untuk dinikmati bersama tim lainnya dikantor. Karena hari ini Zizi akan mengadakan pertemuan, setelah hampir 2 minggu kami tidak pernah ke kantor. Karena kami lebih fokus untuk memgamati sembari mengumpulkan segala macam bentuk informasi disekitar Kota Vervia Barat.
Pada saat berada dikasir untuk melakukan pembayaran, ternyata orang yang sedang berada di depanku adalah ‘Borzoi 4’. Zizi menamai semua anggota Herder dengan nama Borzoi 1,2,3 dan 4. Hanya Herder dan Induk Anjing yang berbeda.
Setelah melakukan pembayaran, aku segera melihat daftar foto target dari dalam mobil untuk memastikan dia adalah Borzoi 4. Ternyata aku tidak salah lihat, dan pria tadi adalah Borzoi 4.
Secara diam-diam aku berusaha mengambil foto mobil yang digunakannya, tepat saat dia melewatiku.
Aku bergegas menuju kantor, untuk menyampaikan informasi ini kepada Zizi. Sesampainya dikantor aku terengah-engah sambil meletakkan makanan ringan keatas meja rapat.
“Waaaah… Kucing Kampung memang teman yang perhatian. Tau aja kalo kami sedikit lapar”. Kata Rubah Kuning.
Aku heran, Rubah Kuning seringkali menggodaku. Namun aku tidak terlalu merespon nya, karena aku tidak ingin Zizi cemburu dan menjadi masalah yang serius bagi hubungan kami berdua.
“Aku ada hadiah untuk kalian semua”. Kataku sambil mengambil handphone.
Sembari menunjukkan foto mobil yang kuambil tadi. Aku menceritakan bahwa saat di mini market, aku bertemu Borzoi 4. Dimana artinya, Herder juga pasti bisa ditemukan di sekitar Vervia Barat.
Zizi langsung mengambil handphone ku, kemudian memberikannya pada bagian IT untuk mencari tau siapa pemilik mobil tersebut dengan cara melacak nomor polisinya.
“Ketemu!”. Kata salah satu anggota bagian IT.
Dari informasi yang didapat, mobil tersebut milik seseorang yang bernama ‘Yudha’. _ Seseorang yang saat ini bekerja pada Bank yang pernah menjadi target kelompok Herder.
“Jadi dia orang dalam yang mereka maksud”. Kata Zizi.
Dengan penuh semangat, Zizi meminta seluruh tim untuk bersiap melakukan pengintaian sore ini kepada ‘Border Collie’ (nama sandi untuk Yudha).
Setengah jam sebelum Border Collie pulang dari kantornya, aku dan Zizi telah ‘standbye’ menunggu di tempat Parkir ‘Bank Kemandirian Masyarakat’ yang disingkat dengan sebutan BKM (Nama Bank tempat Yudha bekerja, sekaligus yang menjadi target Herder 7 bulan yang lalu).
Tak disangka ternyata Border Collie akan dijemput oleh Borzoi 4 yang juga sedang menunggu ditempat parkir. _ dan kami pun mulai berakting. kami masuk kedalam Bank untuk berpura-pura ingin membuka tabungan. Kami sengaja melakukannya, karena kami tau bahwa jam operasional Bank telah ditutup. Akan tetapi, agar tidak terlihat setingan, kami memohon kepada pegawai Bank agar diberikan waktu sebentar untuk membuka tabungan di Bank ini. Saat itu, ternyata Border Collie yang merupakan wakil kepala cabang Bank tersebut memberikan pengertian dan menawarkan datang pagi esok, serta berjanji akan menyediakan nomor antrian pertama untuk kami.
Akhirnya kami pun menerima tawaran tersebut, sambil bertengkar menuju tempat parkir.
“Kamu sich, keras kepala. Aku sudah bilang kalo jam segini, Bank sudah tidak beroperasi!”. Kataku seolah-olah memaki Zizi.
“Tapi kita akhirnya dapat keuntungan nomor antrian pertama kan?. Kalo kita gak datang hari ini, kita belum tentu mendapatkan nomor pertama”. Bantah Zizi.
“Aagghh… Terserah kamu aja, dasar keras kepala”. Sahutku.
Sebelum memasuki mobilnya, Border Collie sempat tersenyum dan menyapa kami dengan isyarat kepala. Kami pun membalas sapaan nya dengan cara yang sama.
Sepertinya Border Collie dan Borzoi 4 berteman baik. Mungkin saja Borzoi 4 yang menjadi jembatan antara Herder dengan Border Collie. Akan tetapi, kenapa si wakil kepala cabang ingin melakukan perampokan pada Bank yang dipimpinnya?. Ini menjadi tanda tanya bagiku dan Zizi.
Kami pun mengikuti mereka berdua sepanjang 100m. Kemudian memberitahukan kepada Elang Putih bahwa target sedang menuju kearahnya.
Zizi dengan sigap berkata “Elang Putih bersiap. Dan untuk selanjutnya, kalian akan bermain tanpa kami berdua. Karena kami telah melakukan kontak langsung dengan target saat berada didalam Bank”.
Sementara tim yang lain sedang bekerja, Zizi berinisiatif untuk mendatangi si Anak Anjing. _ sesampainya ditempat Anak Anjing biasa menghabiskan waktu, Zizi mengirim pesan untuk mendatangi kami ke seberang jalan. Setibanya Anak Anjing, Zizi membuka pintu belakang mobil dari dalam, kemudian memerintahkan Anak Anjing masuk untuk ikut bersama kami berkeliling kota sejenak.
Zizi mulai meminta Anak Anjing untuk mencari informasi mengenai Clumber Spaniel. Tentunya Anak Anjing menolak, ditambah lagi dia sedang kesusahan membiayai keluarganya saat ini. Dikarenakan oleh penangkapan terhadap Bay Retrivier, sehingga membuat dia kehilangan mata pencaharian.
Tiba-tiba Zizi mengeluarkan uang tunai sebanyak 2.000.000. Kemudian memberikannya pada Anak Anjing.
“Ini berikan pada istrimu untuk keperluan sehari-hari dan sekolah anak mu. _ Aku akan memberikan 5.000.000 lagi setelah kamu mendapatkan informasi mengenai Clumber Spaniel”.
Kemudian kami mengantar si Anak Anjing kembali ke tempat kami menjemputnya.
“Oh iya, siapa namamu?”. Tanya Zizi saat Anak Anjing akan bersiap keluar dari mobil.
“Randi”. Jawab Anak Anjing.
Kemudian Zizi berkata “Jika kamu mau pekerjaan yang lebih baik untuk menghidupi keluargamu, aku bisa membantumu setelah misi kita selesai”. Kata Zizi pada Randi yang baru saja keluar dari mobil
“Kamu tidak membohongiku kan?. Lagi pula aku tidak mempunyai ‘skill’ apapun”. Tanya Randi dengan penuh harap.
Zizi hanya tersenyum mendengarnya, kemudian berkata “apa kamu bisa menyuci piring Dan membersihkan kitchen untuk sebuah restaurant?”.
Randi menganggukkan kepalanya berulang kali. Setelah itu, kami pun pergi setelah Zizi membuat tanda ‘oke’ menggunakan tangannya.
Sejak saat itu, kami tidak pernah lagi memanggil Randi dengan nama sandinya.
Zizi menceritakan dia baru saja membuka cabang Cafe & Resto miliknya di Vervia Pusat yang bernama A2-FC. _ aku sangat terkejut mendengarnya. Ternyata Cafe & Resto yang sangat terkenal di Kota Penfaru yang merupakan ibukota camva adalah milik Zizi. Bahkan dia menjelaskan arti A2-FC (Azizi Azzahra – Fairy Cat). Namun Zizi memintaku untuk merahasiakannya.
Sebenarnya Berapa banyak lagi rahasia Zizi yang tidak aku ketahui. Sepertinya aku bisa saja pingsan, saat dia memberitahu segalanya ketika kami telah menikah nanti.
15 menit kemudian, Ayam Jantan memberitahukan bahwa tugas mereka telah selesai. Dan saat ini mereka semua sedang menuju kantor, begitupun dengan aku dan Zizi yang sangat bersemangat karena merasa target telah masuk didalam permainan kami.









