Aku Tidak Butuh Maaf (Bagian IV)
Apa yang aku takutkan menjadi kenyataan. Sebab saat seorang pria yang kira-kira berumur diatas 50 tahun keluar dari pintu gerbang, dan dengan wajah yang terlihat sedikit pucat Hana memanggilnya dengan sebutan “papa”.
” Dari mana saja kamu Hana, jam segini baru pulang?!. Kata papa Hana dengan nada tegas.

“Hana tadi dari rumah teman, kemudian mampir sebentar ke sebuah cafe”. Jawaban serta alasan Hana ke papanya.
“Apa laki-laki itu teman yang kamu maksud?!”. Kata papanya sambil menunjuk kearahku.
Aku pun sontak menjawab “Gak om, aku hanya…”.
Belum selesai aku berbicara, papa Hana langsung menyela “aku tidak bertanya kepada kamu!”.
“Pa, dia itu Tomy. Orang yang telah menyelamatkan aku”. Sahut Hana.
Hana mengarang cerita, bahwa tadi aku menolong dirinya dari 2 pemuda yang tengah mabuk. Kedua pemuda tersebut menggoda Hana di perjalanan pulang. Karena Taxi Online yang dipesan Hana belum juga datang, dia memutuskan berjalan kaki ke persimpangan jalan. Namun saat melewati suatu ruko yang kosong, ada 2 orang pria yang tengah asyik berbincang sambil memegang botol minuman keras menggoda Hana. _ Hana tidak memperdulikan 2 pria tersebut, dan terus berjalan. Kemudian 2 pria tersebut mengejar Hana, bahkan memaksa berhenti dengan menarik tangannya. Mereka berdua berani melakukan itu pada Hana dikarenakan suasana jalan pada malam ini sangatlah sunyi. Saat terjadi tarik-menarik, kebetulan aku lewat dan langsung berhenti untuk membantu Hana. Saat aku bertarung dengan 2 pria yang tengah mabuk tersebut, Hana sempat hendak pergi dari tempat itu. Akan tetapi, dia merasa bersalah jika membiarkan aku sendiri disana.
Akhirnya aku pun berhasil membuat salah seorang dari mereka terkapar dan yang satunya lagi melarikan diri ketakutan. Kemudian aku menawarkan diri untuk mengantar Hana pulang yang terlihat masih sedikit ketakutan. _ begitulah cerita fiktif Hana kepada papanya.
“Apa benar yang Hana ceritakan?”. Tanya papa Hana kepadaku.
Aku hanya menganggukkan kepala, dengan perasaan yang khawatir atas kebohongan Hana.
“Itulah kenapa dari dulu papa suruh kamu untuk latihan bela diri”. Papa Hana menceramahinya dengan menunjukkan rasa kesal, karena Hana tidak pernah sejalan dengan pemikiran papanya.
Hana hanya menundukkan kepala, dan tidak membantah sepatah katapun.
“Mulai besok, kamu papa daftarkan latihan karate dikantor papa”. Tegas papa Hana.
“Maaf om, bukannya saya tidak sopan. Tetapi saya harus pulang dulu om, sebab sudah terlalu malam”. Kataku tepat setelah papa Hana selesai menasehatinya.
Raut wajah papa Hana yang tadinya seperti menahan amarah berubah menjadi ramah ketika menatapku, kemudian dia berkata “Baiklah. Terimakasih banyak ya, kamu sudah menolong Hana. _ oh iya, apa bela diri yang kamu tekuni? “.
“Taekwondo om. _ mohon maaf saya permisi dulu ya om”. Jawabku sambil meminta izin.
Saat ini telah pukul 00:33, sedangkan aku masih berada di kota Vaski. Artinya aku pasti akan sangat terlambat untuk pulang. _ tanpa fikir panjang, aku terus memacu sepeda motorku dengan harapan dapat pulang sebelum Adzan Subuh berkumandang.
Sepanjang perjalanan, aku membayangkan beberapa kecocokan antara Zizi dan Hana. Apalagi sepertinya mereka berdua sama-sama ahli dalam mengarang cerita. “Apa semua wanita cantik itu pintar berbohong???”. Tanyaku didalam hati.
Akhirnya perjalanan yang harusnya memakan waktu lebih dari 2 jam, dapat aku tempuh hanya selama 1.5 jam.
Setibanya di Kota Bankin, aku langsung menuju rumah. Akan tetapi, saat aku melewati taman, ada sebuah mobil Audy milik zizi terparkir dengan keadaan mesin yang tetap menyala. Tepat sesaat aku melewatinya, mobil tersebut langsung berputar balik dan segera mengejarku. Tak butuh waktu lama untuk mobil tersebut menyusul serta menghentikanku, dengan posisi melingang dihadapanku. _ Zizi pun langsung keluar dari mobil mewahnya tersebut, kemudian berjalan kearahku dengan ekspresi wajah yang sangat marah namun terlihat air mata yang menetes dipipihnya.
Sesampainya dihadapanku, zizi menarik bajuku hingga sepeda motorku terjatuh, karena posisiku yang tidak stabil saat zizi berusaha menarikku. Dan kini aku berdiri tepat didepan zizi dengan jarak 3cm. Wajahku hampir tertempel diwajah zizi, karena sangat dekatnya jarak antara kami berdua.
“Dari mana saja kamu?!. _ Katakan padaku bahwa kamu tidak mencintaiku tom!”. Teriak zizi padaku di malam yang sunyi ini.
“Bagaimana aku bisa mengatakan itu. Sedangkan aku telah kehilangan sebagian hidupku oleh dirimu”. Akupun mengatakannya sambil meneteskan air mata.
“3 tahun memori ku hilang. Apa kamu fikir aku baik-baik saja?!. Aku tersiksa oleh itu selama ini. _ andai kamu tau seperti apa rasanya saat otak terus-menerus menghapus tinta yang selalu dituliskan oleh hatiku”. Tambah ku, untuk menjelaskan apa yang aku rasakan selama ini pada zizi.
“Zi, memang otakku telah menghapusnya. Akan tetapi, hatiku terus saja membisikkan sesuatu serta memberikan bayangan seseorang yang harus aku tangisi. _ sedangkan aku tidak tau!, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh hatiku melalui bayangan tersebut hingga saat ini!”. Tegasku dengan nada penuh gejolak yang tak menentu dihatiku.
Setelah mendengar semua ucapanku, Zizi langsung memelukku sambil berkata dengan terisak-isak “maafkan aku tom”.
Semakin banyak air mata yang keluar, semakin erat pula zizi memelukku.
Saat ini, aku tidak tau harus berbuat apa dan berkata apa pada Zizi. Karena berada dalam pelukannya sambil memeluknya, membuat aku merasa hangat di dinginnya malam.









