Aku Tidak Butuh Maaf (Bagian III)
Tak terasa aku telah menghabiskan waktu lebih dari 2 jam berbincang bersama Hana, dimana artinya saat ini telah mendekati tengah malam. Sejak awal hingga sampai sekarang ini, aku telah menghabiskan waktu hampir 3 jam di cafe tersebut. Aku terkejut melihat jam tangan yang terpasang disebelah kiri tanganku. Benar saat ini tepat pukul 23:15 menit. Dan sepertinya aku harus mengakhiri pertemuan yang menarik ini, karena jika tidak, aku bisa saja subuh sampai ke rumah.
“Apa tidak masalah bagimu, hingga jam segini masih berada diluar rumah?”. Tanyaku pada Hana.

“Tentu saja ini akan menjadi masalah”. Jawab Hana dengan nada yang datar.
Kemudian aku mencoba memberikan saran kepada Hana “Kalo begitu, pulang lah sekarang. Karena aku juga akan bersiap-siap kembali ke bankin”. Kataku sambil memanggil pelayan cafe untuk membayar minuman aku dan Hana. _ melihat hal itu, Hana tersenyum tipis sembari berkata “aku bisa membayarnya sendiri kok”.
Mendengar ucapan itu, aku kembali teringat akan kejadian saat pertama kali aku makan dikantin sekolah bersama Zizi. Sepertinya banyak kemiripan antara Hana dan zizi, dan yang pasti mereka berdua bukan wanita sembarangan. Namun perbedaannya zizi selalu berpenampilan tomboy sedangkan Hana lebih terlihat seperti wanita modis namun tetap anggun.
Saat itu, Hana berusaha untuk membedakan pembayarannya dariku, bahkan terlihat akan membayar minumanku juga. Akan tetapi, aku sedikit memohon agar membiarkan aku melakukan pembayaran.
“Hana, aku mohon. Aku tidak bermaksud apa-apa, ini hanya bentuk terimakasihku atas waktu mu untuk ku hari ini”. Kataku kepada Hana dengan ekspresi memohon.
Akhirnya Hana pun bersedia “Baiklah, kalo begitu ada syaratnya”. Kata Hana kepadaku.
Aku menganggukkan kepala, pertanda menerima syarat yang akan dia ajukan. Dan Hana pun tersenyum sambil berkata “kakak harus mengantarku pulang”.
Didalam hati aku berkata “syarat macam apa ini?!”.
Hana menjelaskan, bahwa dia sudah 3 hari tidak menggunakan mobil yang dibelikan oleh papanya 2 tahun yang lalu. Hana menganggap itu sebagai bentuk perlawanan terhadap desakan orang tuanya yang menginginkan dia untuk menjadi seorang polisi. Sedangkan Hana hanya menggunakan ‘Taxi Online’ kemanapun dia pergi selama 3 hari belakangan ini.
“Kamu tidak akan membiarkanku sendirian menggunakan taxi online tengah malam begini kan kak?”. Tanya Hana sambil mendekatkan mukanya kepadaku, kemudian menatapku dengan memiringkan kepalanya kekanan.
Aku seperti memakan buah simalakama. Disatu sisi, aku sedikit khawatir jika dia pulang sendirian tengah malam begini. Namun disis lain, apa yang harus aku katakan pada orang tuanya, jika mereka bertanya kepadaku. Aku akan seperti orang yang dimintai pertanggung jawaban atas apa yang tidak aku lakukan. Dan hal yang lebih ekstrim, bisa saja aku dituduh membawa lari Hana dari rumah untuk hari ini.
Tak lama kemudian, aku tersentak dari asumsi-asumsi yang aku bayangkan di otak ku oleh Hana. “Kak, sekarang udah jam 23:37. Waktu terus berjalan loh”. Kata Hana sambil berdiri.
Aku seperti dijebak, hingga tak lagi memiliki pilihan lain. Ini adalah sebuah kesepakatan yang telah aku setujui sebelumnya.
Akhirnya dengan terpaksa aku bersedia mengantarkan Hana pulang kerumah. Akan tetapi aku kadang merasa ini bukanlah keterpaksaan, sebab sepertinya aku memang secara sukarela pun akan mengantarkannya pulang. Apalagi, tidak baik bagi seorang wanita muda pulang sendiri larut malam seperti ini.
Sepanjang perjalanan Hana memelukku erat dan menyandarkan kepalanya ke bahu belakang sebelah kiri ku. Sesekali dia menegakkan kepalanya untuk menunjukkan arah setiap ada persimpangan, kemudian menyandarkan kembali kepalanya.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 3km, akhirnya kami pun sampai dirumah Hana. Rumah yang cukup besar, fikirku. Hal itu sangat wajar, karena papa Hana merupakan seorang perwira menengah Polisi.
Belum sempat aku berpamitan, Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Aku sedikit ketakutan, sebab bagaimana kalau yang ada dibalik pintu itu adalah papa Hana.









