“LAKUNA” Edisi XXVII (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Andai Ku Bisa Menghentikan Waktu (Bagian III)

Setelah seminggu lamanya, setelah kejadian yang membuat kami ketakutan itu, ini pertama kalinya kami berani keluar rumah dan bermain di taman seperti biasa.

Liburan akhir sekolah hanya tersisa 2 minggu lagi, sebelum kami akan memasuki sekolah tingkat SMP. Aku, reza dan naresh berada di sekolah yang sama, sedangkan windi dan zizi berbeda sekolah dengan kami. Pilihan sekolah kami saat ini didominasi oleh keinginan orang tua, dan kami tidak dapat ikut campur terlalu banyak, kecuali reza. Aku mendengar isu, reza bersikeras ingin sekolah di SMPN 37, dimana naresh juga akan melanjutkan pendidikan disitu. Walau kami berbeda sekolah, namun kami tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, seperti bermain bersama di taman pada sore hari, hingga latihan bela diri bersama di dojo zizi. 3 bulan telah berlalu, walau sekarang aku memiliki seorang teman baik disekolah yang bernama andra, namun tetap saja aku lebih memilih bermain bersama zizi, reza, naresh dan windi ketika diluar jam sekolah.

Pada suatu hari, saat aku baru saja sampai dirumah setelah pulang dari sekolah. Mama mengatakan sesuatu hal yang membuat aku mati rasa. “Apa kalian telah memberikan kenang-kenangan untuk zizi?. Tanya mama padaku.

“Kenang-kenangan untuk apa ma?”. Tanyaku balik.

“Apa zizi belum mengatakan pada kalian kalo dia bakal pindah ke vervia besok?, padahal mama zizi telah menceritakan hal ini seminggu yang lalu ke mama”. Balas mama.

Aku tak bisa berkata-kata dan hanya terdiam ketika mama menjelaskan bahwa Zizi akan kembali ke vervia, karena pekerjaan papanya telah lama selesai di camva. Awalnya papa zizi masih ingin tinggal di sini sampai zizi menyelesaikan sekolahnya. Namun, ada hal besar yang harus diselesaikan papa zizi di vervia, dan hal itu jauh lebih besar dari pada apa yang telah diperjuangkan nya untuk masyarakat camva.

Setelah mendengar penjelasan mama, aku langsung pergi begitu saja. Aku harus bertemu zizi, fikirku.

“Kamu mau kemana tom?”. Tanya mama berteriak, karena aku telah berada didepan pintu dan bersiap menuju rumah zizi.

Aku berlari sekuat tenaga menuju rumah zizi. Selama di perjalanan, aku berfikir “kenapa zizi menyembunyikan hal ini dari kami semua”.

Saat ini perasaanku tak menentu, karena perasaan marah dan perasaan sedih bercampur layaknya air yang dicampur kedalam wadah yang berisi minyak. Walau mereka berada dalam wadah yang sama, namun tetap tak bisa menyatu.

Sesampainya dirumah zizi, tentu saja aku langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawalnya. Karena mereka telah mengenal aku dan juga teman-teman lainnya dengan sangat baik, bahkan mereka pun sepertinya juga patuh pada perintah kami.

Benar saja. Sesampainya didalam rumah Zizi, aku melihat para pembantu tengah sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa keluarga zizi ke vervia.

Tak lama kemudian, zizi turun dari lantai II rumahnya. Sepanjang langkahnya menuruni tangga, kami saling menatap satu sama lain.

Sesampainya zizi dihadapanku, zizi menangis dan langsung memelukku.

“Maafkan aku……. Aku merasa berat dan tidak sanggup mengatakannya kepada kalian, kalo aku bakal pindah ke vervia”. Kata zizi, sambil memeluk erat diriku sembari terus menangis.

Air mataku tak lagi dapat tertahan, hingga aku meluapkan semuanya dalam pelukan zizi. Kami berpelukan cukup lama, hingga memakan waktu lebih dari 3 menit. Sungguh saat ini waktu terasa cepat bagiku, aku merasa ingin berada dipelukan zizi lebih lama lagi.

Akhirnya kami pun melepaskan pelukan satu sama lain, namun zizi hanya menangis dan mengarahkan pandangannya kebawah.

“Zi, tatap aku”. Aku berkata sambil memegang kedua pipih zizi, dan mengarahkannya ke wajahku.

“Aku berjanji, akan mencarimu saat dewasa nanti. Jadi, aku berharap kamu bisa menungguku hingga hari itu tiba”. Tambahku saat wajah zizi telah berhadapan dengan wajahku.

Tiba-tiba saja zizi membuka kalung yang melingkar indah dilehernya, kalung tersebut berwarna putih mengkilap yang bertuliskan 2 huruf Z yang cukup besar pada bagian tengah untuk hiasan didada pemakainya.

“Kalo begitu, pegang ini sebagai pengingat janjimu!”. Kata zizi sambil memasangkan kalung miliknya ke leherku.

“Tom, apa kamu akan menepati janjimu?”. Tanya zizi, setelah memasangkan kalungnya padaku.

“Aku tak mampu menghentikan waktu. _ Akan tetapi, aku tidak peduli walaupun langit akan runtuh. Aku tetap akan mencarimu kelak”. Balasku.

“Pulanglah tomy. _ aku tak bisa lama-lama menatapmu, karena itu hanya akan membuat air mataku mengalir tanpa henti”. Kata zizi sambil mendorong bahu kiriku dengan tangan kanannya.

“Tidak! . _ aku akan tetap disini, hingga malam tiba!”. Tegasku.

“Apa kamu ingin aku menghabiskan air mataku untuk mu hari ini!”. Terang zizi.

“Aku mohon tom. _ mengertilah!”. Tambah zizi.

Kemudian zizi pun berpaling, dan pergi sambil berlari kembali ke kamarnya yang berada di lantai atas. Sedangkan aku hanya terdiam seperti sebuah patung untuk beberapa saat dalam jangka waktu yang cukup lama.

Tak lama kemudian, reza, naresh, dan windi pun datang. “Dimana zizi?”. Tanya naresh.

Mereka mengetahui berita tentang zizi akan pindah ke vervia dari mama ku, karena sebelum menuju taman, mereka sempat mampir kerumah untuk mengajakku pergi ke taman bersama.

Sambil melangkah kearah pintu, aku berkata “Aku pulang dulu. Karena urusan ku telah selesai”.

“Apa maksudmu tom?!”. Teriak naresh.

Aku menjelaskan pada mereka, bahwa aku telah bertemu zizi, dan dia tidak ingin aku terlalu lama disini. Karena hal itu, hanya akan membuatnya semakin bersedih.

“Aku harap kalian juga jangan terlalu lama disini, aku tidak ingin zizi bersedih oleh kita”. Kataku sambil terus melangkah.

 

Pos terkait