Andai Ku Bisa Menghentikan Waktu (Bagian II)
Setelah mencari beberapa batang bambu, kami kembali kerumah reza untuk mengembalikan parang yang dipinjam dari papa nya, sebelum membawa bambu-bambu tersebut ke taman.
Sesampainya ditaman naresh dan windi telah menunggu kami cukup lama.

“Kenapa kalian lama sekali?”. Tanya naresh.
“Andai kamu tau susahnya menyediakan bambu-bambu ini”. Balas reza dengan nada sedikit kesal.
Setelah mendengar perkataan reza, naresh langsung melemparkan senyuman manis nya untuk reza. Mungkin saja naresh sadar betapa susahnya mencari bambu-bambu itu, hingga dia ingin mengucapkan terimakasih sekaligus permintaan maaf kepada reza.
“Oh iya, mana zizi?”. Tanyaku pada naresh.
Naresh menjelaskan, bahwa zizi tadinya juga telah bersama mereka disini. Namun karena dia memprediksi aku dan reza mungkin masih akan lama dalam menyelesaikan tugas. Zizi kembali pulang untuk mengambil gunting satunya lagi, karena sepertinya satu gunting akan membuat pekerjaan menjadi lambat. Fikir zizi.
Sembari menunggu zizi, aku mengajak yang lainnya bermain ayunan agar tidak bosan. Karena menunggu merupakan hal yang paling membosankan bagiku.
Tanpa disadari, ditaman telah ada dua orang dewasa yang berdiri dibelakang reza dan windi. Kemudian orang dewasa tersebut menarik rambut reza dan windi hingga terjatuh dari ayunan. _ saat aku melihat ke mereka, ternyata mereka berdua adalah penjaga pintu tempat anak-anak SMA pesta narkoba pada gedung tua yang kami investigasi saat itu.
Setelah reza terjatuh, pria tersebut menginjak pipih reza, sehingga menempel ke tanah. Aku pun berlari kearah pria tersebut sambil melakukan tendangan terbang yang tepat mengenai perutnya. Akhirnya reza pun lepas dari pijakannya.
“Dasar bocah brengsek”. Seru nya sambil berjalan kearahku.
Sesampainya pria itu didepan ku. Dia langsung menampar keras ke wajahku, kemudian membalas tendangan ku tadi yang membuat aku terpental. Sedangkan pria yang satunya menahan naresh dan windi dengan cara menarik rambut naresh dan windi.
Saat hendak berdiri sambil menahan kesakitan, aku melihat zizi yang berlari kearah kami. _ dengan gunting yang berada di tangannya, tanpa fikir panjang zizi langsung menusuk pria yang menendang ku tadi. Namun sebelum pria tersebut ingin memukul zizi, dengan sigap zizi memutar lalu menarik gunting tersebut, hingga pria tersebut tidak sempat melayangkan pukulan, karena mengerang kesakitan yang disebabkan oleh luka dan darah yang keluar begitu banyak dari perutnya.
Dengan tatapan kosong dan penuh amarah zizi berjalan kearah pria yang satunya. Sikap dingin zizi membuat pria yang satunya lagi ketakutan, apalagi saat melihat temannya yang tergeletak sambil menahan darah yang terus keluar dari perutnya, sehingga membuat pria tersebut berlari meninggalkan temannya yang terluka parah.
Karena keributan yang terjadi ditaman sejak tadi, membuat beberapa warga keluar dan menghampiri taman. Saat melihat salah seorang pria yang tertusuk tadi, warga yang hadir di taman segera mengantarkannya ke rumah sakit, agar segera diberikan pertolongan.
Kami pun diantarkan kerumah masing-masing oleh ketua RW (Rukun Warga) yang baru saja datang.
Sesampainya dirumah, aku menceritakan semuanya pada orang tua ku, termasuk tentang investigasi kami beberapa bulan yang lalu pada gedung tua tersebut. Orang tua ku langsung memelukku dengan erat, aku tau mereka pasti sangat khawatir atas tingkah kami. Sebab bisa saja kami yang akan berada di rumah sakit seperti anak SMA yang ditusuk zizi tadi, jika kami tertangkap saat berada di gedung tua tersebut.
Papa ku langsung menelfon papa zizi untuk menanyakan bagaimana keadaan zizi, dan apa yang harus dilakukan setelah ini. Sepertinya papa zizi meminta papa ku datang ke rumahnya beserta orang tua naresh, reza dan windi untuk membahas lebih lanjut, agar tidak salah langkah. Entah kenapa aku merasa yakin, bahwa papa zizi mampu menyelesaikan kasus ini dengan mudah, karena aku tau papa zizi adalah orang hebat.
Keesokan harinya, kami berlima dibawa ke kantor polisi untuk membuat laporan. Sekaligus menyerahkan bukti-bukti pesta narkoba yang ada di Handphone zizi. Karena kami masih dibawah umur, kami mendapatkan pelayanan yang sedikit berbeda agar tidak membuat kami trauma nantinya. Kami juga langsung didampingi oleh papa zizi serta salah seorang yang berasal dari Badan Perlindungan Anak yang langsung dibawahi oleh pemerintah.
Setelah semua proses selesai, kami melihat sekitar 20 orang lebih polisi tengah dipersiapkan untuk melakukan penggerebekkan di gedung tua tersebut, serta akan melakukan penangkapan pada setiap orang yang ada pada video dan foto yang direkam zizi melalui handphonenya.
Sebelum pulang, kami dinasehati oleh seorang yang bekerja pada Badan Perlindungan Anak yang mendampingi kami dari awal tadi yang ternyata berteman baik dengan papaku, karena papaku seorang Pegawa Negeri Sipil (PNS) yang saat ini sedang menjabat sebagai Kepala Bidang Perizinan di salah satu Instansi Pemerintah Daerah. Salah satu pesan yang disampaikan kepada kami ialah: “jika kalian mengetahui hal seperti ini lagi, segera laporkan pada polisi atau orang dewasa lainnya, karena kalian masih anak-anak. _ apa yang telah kalian lakukan sangatlah heroik, tapi juga dapat membahayakan diri kalian. Jadi ingat ya, jangan bertindak seolah-olah seperti orang dewasa, lebih baik kalian laporkan. Dengan melaporkannya, kalian juga telah menjadi pahlawan dikota ini”. Terang petugas Badan Perlindungan Anak tadi.
Syukurlah, masalah ini pun akhirnya selesai, dan zizi selamat dari jeratan hukum. Karena kami hanya melakukan pembelaan diri, sedangkan orang yang ditikam zizi dapat diselamatkan, walau sekarang masih harus dirawat selama beberapa minggu kedepan dirumah sakit. Bagaimanapun, kami tetap harus berhati-hati karena yang kami hadapi adalah salah satu “anak burung” (Pesuruh) bandar narkoba terbesar di kota ini.









