“LAKUNA” Edisi VIII (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Didalam mobil, Lia (wanita yang kami selamatkan) itu bercerita bahwa saat sekolah dulu, dia menjalin hubungan percintaan dengan Dodi (pria yang dihajar zizi sewaktu dicafe) . Dodi adalah seseorang yang tempramen dan kasar, semakin hari sikap dodi semakin kasar pada lia. Suatu waktu lia memutuskan hubungan mereka, namun dodi dengan kekuasaan yang dimilikinya sering memberikan teror kepada lia, bahkan keluarganya. _ akhirnya lia kembali menjalin hubungan bersama dodi hanya untuk memastikan keselamatan dirinya dan keluarganya.

Hubungan yang dijalin sejak kelas III SMA pun berjalan, hingga 2 bulan sebelum hari ini. Hal yang menyebabkan lia mengakhiri hubungannya dengan dodi 2 bulan yang lalu, disebabkan oleh dodi menjerat adik laki-laki satu-satu yang dimiliki lia, bernama Jeri. _ jeri dijadikan kurir narkoba oleh dodi, karena jeri seorang pecandu judi. Hal ini dimanfaatkan dodi, _ dodi selalu memberikan pinjaman uang kepada jeri untuk bermain judi, hingga totalnya mencapai 400.000.000. Karena hutang yang tak mungkin terbayarkan, dodi menjadikan jeri kurir sebagai pengganti pembayaran hutang. _ saat lia mengetahui hal ini, lia sangat murka dan marah-marah kepada dodi. Terjadilah keributan diantara mereka, hingga satu minggu yang lalu jeri tertangkap dan masuk penjara. _ lia berinisiatif untuk membebaskan adiknya dengan menukarkan informasi serta bukti bisnis ilegal orang tua dodi, karena hubungan mereka telah cukup lama, lia mengetahui seluruh tentang rahasia keluarga dodi. Ternyata rencana lia tidak berjalan lancar, karena didalam kepolisian banyak oknum yang telah disuap dan menjadi ‘anjing peliharaan’ orang tua dodi. Mengetahui hal itu, dodi sangat marah kepada lia dan mencarinya agar dapat memberi pelajaran ke lia, untuk memastikan lia tidak mengulangi perbuatannya lagi. Lia mencoba kabur dan sampailah ke kota Bankin. Hingga terjadilah perkelahian dicafe yang kami alami tadi.

Setelah bercerita, lia bertanya “boleh aku meminjam handphone?, aku ingin menelfon orang tuaku. _ untuk memastikan mereka baik-baik saja”.

Aku meminjamkan handphone ku kepada lia. Namun, saat lia menelfon beberapa kali, tidak ada jawaban dari orang tua lia.

Aku menyarankan lia untuk melapor ke polisi. Namun mendengar hal itu, zizi tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala dan berkata “apa kamu masih percaya polisi setelah mendengarkan ceritanya?!”.

“Laporkan pada polisi disini, bukan yang disana!”. Bantah ku.

Zizi menjelaskan, jika mereka bisa membeli polisi di provinsi Sumnang, pastinya mereka juga bisa membeli kepolisian disini. Karena mereka memiliki koneksi sesama polisi.

” Lalu apa yang harus kita lakukan?!”. Tanyaku dengan penekanan.

Zizi menjawab “apa kamu siap dihukum sekolah nantinya?”.

Aku bingung dengan pertanyaan zizi. Karena apa hubungannya dengan sekolah kami?.

Zizi kembali bertanya padaku, dengan penekanan “Jawab aku”.

Masih dalam kebingungan aku menjawab “Kalaupun harus, aku bersedia. Asalkan kak lia bisa terlepas dari masalahnya”.

Dengan elegan zizi membalas “oke, kalau kamu ingin jadi pahlawan, aku akan merealisasikannya”. _ setelah itu zizi melakukan drift putaran 90° kemudian melaju kencang.

” Bersiap-siap kita akan ke Sumnang malam ini” Tegas zizi.

“Apa kamu gila?”. Tanyaku.

Dengan tersenyum manis zizi menjawab “Bukankah kamu ingin jadi pahlawan?, ayo kita jadi pahlawan”.

Zizi berencana untuk menyelesaikan masalah lia, dengan mendatangi kelompok pulsan secara langsung. Aku berfikir ini adalah ide gila, tetapi entah kenapa, aku merasa yakin pada zizi. Namun sebenarnya, rasa takut juga sedikit menghantuiku, sebab yang akan kami hadapi bukanlah preman biasa, melainkan pengedar narkoba terbesar di provinsi sumnang.

Selama perjalanan zizi terus bertanya pada lia, tentang kelompok pulsan secara detail, sehingga zizi menapatkan seluruh informasi yang diinginkannya. zizi seperti melakukan interogasi kepada lia. Setelah melakukan interogasi selama kurang dari satu jam, zizi mendapatkan informasi, bahwa ada kelompok pesaing yang selama ini sedikit tertindas oleh kelompok pulsan, nama kelompok pesaing itu adalah ‘Basang’. _ zizi terus mengorek informasi tentang kelompok pulsan dan kelompok basang.

“Apa kakak tau, dimana kita bisa menemukan kelompok basang?”. Tanya zizi.

Lia menjawab dia punya teman yang menjadi anggota kelompok basang. Kemudian zizi mengajak lia untuk menemui temannya itu. _ sepertinya zizi memiliki rencana untuk menyelesaikan masalah ini.

Akupun bertanya kepada zizi “apa rencanamu? “.

Zizi hanya menjawab “kamu ikut dan lihat saja nanti”. _ Adrenaline ku semakin terpacu melihat keyakinan zizi.

1 jam berlalu, zizi memintaku mengendarai mobil, karena perjalanan yang akan kami tempuh lebih kurang 3 jam 30 menit. Dan zizi ingin beristirahat, agar saat sampai di Sumnang zizi tidak kelelahan, sehingga bisa fokus menjalankan rencananya dengan baik. _ ini pertama kalinya aku merasakan mengendarai mobil mewah seharga miliyaran.

Ternyata zizi mengetahui apa yang aku fikirkan. “Anggap saja mobil sendiri, jadi gk usah nervous gitu”. Kata zizi sambil tersenyum.

Akupun membalas tersenyum padanya. _ kemudian zizi membaringkan kursinya, agar dapat istirahat sejenak.

Sesekali aku memantau lia melalui kaca tengah, terlihat lia sangat khawatir dan gelisah. Apalagi dia tidak dapat menghubungi orang tuanya. _ akupun memberikan handphone kepadanya. Agar dapat kembali mencoba menghubungi orang tuanya. Namun, berkali-kali lia melakukan panggilan, tetap tidak ada jawaban. Kemudian lia mencoba menghubungi teman terdekatnya untuk mencari tau keadaan orang tuanya.

Setengah jam kemudian, lia mendapatkan kabar, bahwa orang tuanya tidak berada dirumah. Namun tak ada satupun dari tetangga yang mengetahui kemana mereka pergi. Pastinya hal ini membuat lia semakin gelisah dan ketakutan.

Kamipun terus melaju dengan kecepatan tinggi menuju sumnang. Saat melihat lia menangis dikursi belakang, aku serasa ingin menyiksa dan memukul wajah dodi sampai tak berbentuk. Karena bajingan seperti ini harus tau bagaimana rasa sakit yang sebenarnya.

 

Pos terkait