Supernova IV (Bagian IV)
Setelah berjalan lebih kurang 5 menit, aku sampai pada cafe dimana zizi berada. Akupun masuk dan langsung menuju meja zizi. _ sesampainya dihadapan zizi, “terimakasih kamu sudah mau datang ” Kataku sebelum duduk.
Zizi hanya membalas dengan sebuah senyuman, kemudian bertanya padaku “apa yang akan kamu lakukan setelah lulus sekolah nanti?”.

Aku menjawab pertanyaan zizi penuh semangat “aku ingin masuk akademi Kepolisian, dan memberantas semua penjahat di negeri ini!”.
Mendengar ucapanku zizi tertawa terbahak-bahak. Kemudian kembali bertanya “apa statement mu barusan serius atau hanya sebuah candaan?”.
Aku menjelaskan pada zizi, bahwa aku serius dengan impianku itu. Namun zizi tidak percaya aku mampu melakukannya, karena zizi berpendapat bahwa penjahat sebenarnya didunia ini ada pada tempat dimana orang-orang ingin jadi pahlawan. _ awalnya aku sedikit bingung dengan statement zizi, setelah memikirkannya sejenak, akhirnya aku paham maksudnya. _ banyak instansi yang harusnya jadi pengadil, namun tidak berlaku adil di negeri ini, termasuk instansi kepolisian.
Tapi aku tetap berusaha meyakinkan zizi “kenapa aku ingin menjadi polisi, karena aku muak dengan ketidakadilan di negeri ini”
Mendengar perkataanku, zizi kembali tertawa terbahak-bahak. Sambil menahan tawa, zizi berkata ” Tomy… Tomy…, impianmu masih seperti anak-anak”.
Aku sedikit tersinggung, karena zizi bukan hanya sekedar menghina impianku, tetapi juga menghina nilai-nilai prinsip yang sampai saat ini aku pegang. Dengan nada yang sedikit kesal, aku mengembalikan pertanyaan itu kepada dirinya. _ dan setelah meneguk minumannya, zizi menjawab “aku ingin menjadi politikus, agar bisa memiliki kekuasaan. Dan akan kugunakan kekuasaan itu untuk memerangi para mafia negeri ini”.
Mendengar perkataan zizi, membuatku merasa rendah dihadapannya. Secara fundamental kami memiliki prinsip yang sama, namun sepertinya cara zizi lebih masuk akal, dan apa yang dia impikan jauh melebihi batas pemikiran anak SMA, ditambah gaya penyampaiannya yang terlihat keren.
Tak lama kemudian, masuklah seorang gadis berpakaian seksi yang kira-kira berumur 24 tahun kedalam cafe secara terburu-buru dan terlihat ketakutan, gadis itu berusaha mencari tempat sembunyi. Belum sempat bersembunyi datanglah 4 orang pria dan langsung berlari kearah gadis seksi tersebut. _ dua orang diantaranya menarik tangan kanan dan tangan kiri gadis yang sedang ketakutan itu.
Secara refleks naluri manusiawi ku membuat aku mendatangi mereka. _ aku menanyakan permasalahan yang terjadi. Namun mereka tidak menjawab. Akhirnya aku berusaha melepaskan gadis tersebut dari genggaman dua orang pria yang memegangnya.
“Hey, ini bukan urusanmu! “. Kata salah seorang pria yang berdiri tepat di hadapan kami. Dan sepertinya dialah pemimpin mereka.
“Kamu memang bukan urusanku, tapi kakak ini sekarang menjadi urusanku”. Kataku sambil menarik gadis itu kebelakang ku.
Dua orang yang tadinya memegang tangan gadis yang saat ini berada dibelakangku, berdiri tegap didepanku, seolah-olah ingin menakutiku. _ karena mereka berjumlah 4 orang dan lebih tua serta lebih besar dariku, pastinya membuat aku sedikit takut. Namun saat salah satu dari mereka memegang leherku, Tiba-tiba dengan gerakan yang sangat cepat zizi melepaskan tendangan tepat diperut pria tersebut, hingga membuat pria tersebut bergeser sejauh 1 meter didepanku serta tertunduk dan memegang perutnya. Tidak cukup sampai disitu, zizi melepaskan tendangan ‘dol’ochogi’ (tendangan dengan cara mengangkat kaki diatas kepala lawan, kemudian mengahantamkannya kearah bawah).
Seluruh orang dicafe saat itu tercengang melihat aksi zizi, termasuk aku. _ lalu pria yang satu nya mulai bergerak dan melayangkan pukulan kearah zizi, dengan agility yang dimiliki zizi, pastinya sangat mudah bagi zizi untuk menghindar dan menyerang balik dengan tendangan ‘Yap chagi’ (tendangan samping kearah kepala. _ kemudian seorang pria yang dari tadi hanya berdiri disebalah pemimpin mereka ingin mengambil kesempatan untuk segera menyerang zizi. Akupun langsung melompat kearah pria tersebut dan menghajarnya dengan variasi tendangan ‘yap chagi’ (tendangan menyamping kearah kepala lawan), aku melakukannya sambil melompat.
Bukannya mendapat pujian, malah komentar sinis dari zizi lah yang aku dapatkan _ zizi berkata “kamu diam saja dan jaga kakak itu, aku bisa mengurusnya sendiri”.
Kalimat zizi tersebut membuat aku tidak dapat melontarkan satu kata pun. _ aku hanya berusaha untuk membantu dan menjadi pahlawan, namun semua orang tau pahlawan sebenarnya saat ini adalah zizi. _ apa yang aku lakukan diawal tadi terlupakan oleh aksi zizi yang sangat memukau.
Zizi berjalan dengan tatapan kosong kearah pria yang menjadi pemimpin mereka. Tatapan kosong zizi bukanlah tatapan kosong pada umumnya, karrna tatapan kosong zizi itu sangatlah menyeramkan. Itu seperti menandakan dia adalah orang yang tidak takut pada apapun dan akan menyingkirkan semua yang ada dihadapannya. Pria yang didatangi zizi sangat ketakutan saat ini, karena semua pengawalnya telah terkapar dilantai sambil menahan kesakitan.
Sesampainya dihadapan pria tersebut zizi berkata “kamu fikir uang mu bisa membeli segalanya?!”. _ setelah itu zizi berpaling membelakangi nya, namun zizi bukannya pergi, melainkan hanya diam sambil memejamkan mata serta menggeleng-gelengkan kepala selama beberapa detik. Kemudian zizi membuka matanya dengan wajah yang penuh amarah, zizi berteriak sambil melepaskan tendangan berputar tepat kearah kepala, yang membuat pria tersebut terpental berguling-guling di udara kemudian jatuh ke salah satu meja. Aku melihat mulut pria itu penuh dengan darah serta beberapa giginya patah terlempar keluar karena tendangan zizi.
Aku berkata didalam hati “aku tidak salah, dia adalah supernova!”
Sembari mengenakkan tutup kepala jacket hoodie nya zizi berkata “ayo, kita pulang”. Kemudian zizi mengeluarkan uang 100.000 yang berjumlah lebih kurang 10 lembar dan menaruh nya ke meja sambil memberi kode kepada pelayan cafe.
Aku dan gadis yang kami selamatkan tadi berjalan dibelakang zizi. _ sesampainya disebelah mobil ‘audi 8 L’ miliknya, _ zizi menoleh kebelakang dan sedikit terkejut, kenapa wanita itu terus mengikuti kami. _ wanita itu sangat ketakutan dan menceritakan bahwa pria yang baru saja dihajar zizi merupakan anak dari kelompok ‘Pulsan’ orang kaya dan pengedar narkoba terbesar di provinsi ‘Sumnang’ yang bertetangga langsung dengan provinsi kami ‘Farie’.
Dengan santai zizi berkata “memangnya kenapa?”.
Wanita tersebut takut, jika nanti mereka kembali dengan pasukan yang lebih banyak, dan mencari kami bertiga. Menanggapi hal itu zizi hanya tersenyum menyindir (seolah-olah dia menganggap remeh mereka). Aku bertanya-tanya didalam hati, siapa zizi sebenarnya, karena tidak ada raut wajah gelisah apa lagi takut pada dirinya. _ akhirnya zizi mengizinkan wanita tersebut masuk kedalam mobilnya, dengan syarat ceritakan awal kejadian yang membuat malam ini harus dilalui dengan kekerasan, serta semua cerita yang wanita itu ketahui tentang kelompok ‘Pulsan’.









