“LAKUNA” Edisi IX (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Claw Wolves (Bagian II)

Setelah menempuh perjalanan 3 jam, kamipun akhirnya sampai di kota ‘Dapang’ yang merupakan ibu kota provinsi sumnang. Kami dapat menghemat waktu setengah jam, karena jalanan yang tidak terlalu ramai dan ditambah lagi audi 8 L milik zizi sungguh nyaman dan sangat stabil, hingga tidak terasa aku melaju dengan kecepatan diatas rata-rata.

Tidak ingin menghabiskan waktu secara percuma, lia langsung menghubungi temannya yang menjadi anggota kelompok basang. Dan kami pun bersepakat untuk bertemu di sebuah cafe yang terletak di pinggiran kota. Sesampainya di cafe, aku langsung membangunkan zizi. _ saat hendak membangukannya, aku sempat terdiam sejenak, karena terpukau melihat zizi, dan tanpa sadar tersenyum sambil berucap “dalam keadaan tidur, dia sungguh lucu dan menggemaskan”.

Saat tanganku baru saja menyentuh bahunya, Tiba-tiba zizi terbangun dan langsung mengunci pergelangan tanganku. Tentunya aku mengerang kesakitan. Setelah zizi melepaskan pergelangan tanganku, zizi langsung duduk dan melihat area sekitar dengan seksama.

“Kamu ini kenapa sich?”. Tanyaku.

“Dimana kita? “. Tanya zizi.

Aku menceritakan kepada zizi, bahwa kita akan bertemu teman lia yang menjadi anggota kelompok basang.

Dengan nada yang datar zizi mengatakan “Ooowh”.

Sambil memegang pergelangan tangan, aku berkata “tanganku masih sakit nih”.

“Salah sendiri, siapa suruh menyentuhku”. Balas zizi.

” Hey, aku cuma ingin membangunkanmu, aku tidak bermaksud apa-apa”. Bantahku dengan tegas.

“Tapi, bukankah kamu menatapku lama, sebelumnya”. Balas zizi sambil tersenyum.

Awalnya aku terkejut dengan perkataan zizi, karena dari mana dia tau, aku menatapnya cukup lama, sedangkan zizi masih tertidur pulas. _ tapi aku berfikir, sepertinya ini cuma asumsi zizi saja. Karena tidak mungkin dia tau.

Aku mencoba mengelak dengan beralibi “kamu terlalu kepedean”.

Mendengar alibiku, zizi memandangku dengan bola mata nya yang diarahkan kesamping kanan kearahku, kemudian tersenyum. _ aku sedikit salah tingkah (gugup) karena tingkahnya yang lucu itu.

Akhirnya kami bertiga keluar dari mobil dan memasuki cafe. Saat lia melihat ‘Dani’ (teman lia yang tergabung di kelompok basang), kami langsung dituntun lia untuk menghampirinya. Sesampainya dihadapan dani, aku dan zizi bersalaman dan saling mengenalkan diri.

Lia menceritakan kepada dani semua kejadian yang dialaminya. Mendengar cerita lia, terlihat raut wajah yang penuh amarah dari dani. _ setelah cerita lia berakhir, zizi langsung mengambil alih pembicaraan. Tanpa basa-basi zizi langsung memberikan informasi yang didapatnya dari lia, bahwa akan ada transaksi narkoba secara rutin oleh kelompok pulsan 4 hari lagi, sebanyak 6 ton dari berbagai jenis narkoba. _ aku tidak melihat sosok anak sekolah tingkat akhir pada diri zizi malam ini, karena dia sepertinya sangat mahir berurusan dengan mafia. Malam ini zizi seperti ketua kelompok mafia yang sedang melakukan perundingan.

“Bukankah kalian ingin menghancurkan pulsan, dan menguasai daerah ini?. Tanya zizi kepada dani.

Dani meremehkan zizi dengan berkata “bagaimana aku bisa percaya dengan anak kecil seperti kalian”.

“Kami yang kamu anggap anak kecil ini, telah menyelamatkan nyawa temanmu, dan menghajar anak ketua kelompok pulsan. _ kalau saja aku tau dia anak pemimpin salah satu kelompok mafia pengedar narkoba, aku akan membuatnya sekarat saat itu. _ dan jika kamu mau aku bisa membuatmu sekarat malam ini, silahkan berdiri!”. Tantang zizi.

Kalimat yang dilontarkan zizi membuat dani tak bisa berkata apa-apa, ditambah dengan bahasa tubuh lia yang membenarkan semua perkataan zizi.

“Kalau memang benar, dimana lokasi transaksi tersebut?”. Tanya dani.

Zizi membalas “Soal itu, kami harus bertemu dengan pimpinan kalian”.

Awalnya dani ragu, namun akhirnya dani menelfon salah satu ‘tangan kanan’ ketua basang, untuk meminta izin agar dapat mempertemukan kami dengan ketua kelompok basang. _ tentunya dengan menceritakan semua hal yang dialami lia dan informasi yang kami miliki, sang ketua mengundang kami di kediamannya. _ kamipun keluar dari cafe untuk menuju kediaman ketua basang dengan tuntunan mobil dani yang berada didepan kami.

Tepat sebelum memasuki gerbang kediaman ketua basang, zizi berkata “tom, bersikaplah seolah-olah kamu seorang mafia, dan jangan norak melihat sekelilingmu nanti. Karena, ini merupakan rumah salah satu pemimpin mafia”.

Aku mengerti dengan maksud zizi, pastinya banyak hal baru yang mungkin belum pernah aku lihat, seperti wanita-wanita cantik yang setengah telanjang, senjata, narkoba, minuman keras, serta hal-hal lain yang melekat pada dunia hitam. Untuk itu, aku tidak boleh terlihat seperti seorang yang amatir. _ karena, akan berpengaruh pada proses kesepakatan yang akan dibuat zizi nanti.

Sesampainya didalam rumah, kami langsung diantarkan kepada ketua basang yang telah menunggu diruang khusus pertemuan. _ tidak ingin memakan waktu lama, zizi langsung membuat kesepakatan “aku akan membantu kalian menghancurkan kelompok pulsan, dengan syarat basang harus memastikan kak lia beserta keluarganya mendapatkan jaminan kehidupan tanpa ada gangguan dari kelompok manapun dikota ini, _ dan satu lagi berikan 10 miliyar uang tunai kepadaku setelah perang ini kita menangkan”.

Aku sangat terkejut dengan kesepakatan soal uang 10 miliyar yg dibuat zizi. Aku berfikir, apa zizi mencari keuntungan dari masalah ini.

Ketua basang membalas “ceritakan semua rencanamu dahulu, setelahnya aku akan memberikan jawaban atas kesepakatan kita”.

Mulailah zizi memaparkan rencana yang dibuatnya. _ aku dapat melihat Ketua basang sangat tertarik dan takjub dengan rencana zizi.

Setelah memaparkan semua rencananya, zizi berkata “Perang ini, aku yang pimpin langsung. Anda cukup penuhi semua yang aku butuhkan, agar rencanaku berjalan lancar”.

Tanpa fikir panjang Ketua basang langsung menyetujuinya. Menurutku, Ketua basang sangat kagum dan yakin dengan rencana serta cara bicara zizi yang terlihat seperti seorang profesional. Karena, akupun beranggapan seperti itu. _ kesepakatan telah dibuat dan disetujui oleh ketua basang.

“Antarkan mereka ke kamarnya masing-masing”. Perintah ketua kelompok basang kepada salah satu pengawal pribadinya.

Zizi langsung menolak tawaran itu, dengan berkata ” Kami tidak punya rencana untuk tinggal disini. Kami akan datang lagi H-1 untuk memastikan kesiapan kalian. Dan terimakasih atas keramahan serta tawaran ketua”.

Kemudian kami pun berjalan kearah pintu keluar. Tepat, saat kami akan melangkah keluar ruang pertemuan, ketua basang bertanya kepada zizi “apa kamu seorang pemimpin mafia?”.

Zizi membalasnya dengan senyuman yang manis “Kami berdua hanyalah anak sekolah tingkat akhir”. Sembari melanjutkan langkahnya.

Aku sungguh kagum pada zizi, karena dia bisa memposisikan serta mengganti karakternya kapanpun. _ dari tadi zizi terlihat seperti seorang profesional didunia hitam, namun saat hendak melangkah keluar ruangan, zizi langsung berubah menjadi seorang anak sekolah yang cantik dan lugu.

 

Pos terkait