“LAKUNA” Edisi XIV (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Claw Wolves (Bagian VI)

Akhirnya musuh yang ditunggu-tunggu pun datang. _ saat para musuh memasuki area pelabuhan, zizi menadakan kepalanya keatas sambil menarik nafas yang panjang, lalu mengeluarkannya. Setelah itu, zizi mengatakan kepada seluruh anggota basang untuk bersiap.

Setengah jam telah berlalu, sepertinya tidak ada tanda-tanda akan terjadi transaksi yang ditunggu-tunggu. Malahan anggota pulsan seperti bersiap-siap untuk berperang. _ Zizi terus memantau keadaan sekitar. Kemudian berkata melalui alat komunikasi yang digunakannya “sepertinya rencana kita telah diketahui”. Zizi masih terus memantau selama beberapa menit, hingga zizi melihat ada celah untuk menyerang.

“Habisi mereka!”. Perintah zizi kepada unit kedua kelompok basang. _ perang pun dimulai.

Dalam sekejap kelompok pulsan banyak yang mati karena serangan kejutan dari kelompok basang. Namun ternyata kelompok pulsan telah bersiap untuk menyerang balik, dari luar pelabuhan datang lah pasukan yang berjumlah lebih dari 100 orang menggunakan mobil dan sepeda motor.

Ternyata pasukan yang berjumlah 40 orang tadi hanyalah jebakan, untuk mencari tau keberadaan pasukan basang yang saat itu sedang bersembunyi.

Pertempuran tahap II pun dimulai. Lebih dari setengah kelompok pulsan mati. Namun kelompok basang hanya menyisakan belasan orang.

Zizi mencabut alat komunikasi yang dikenakannya tadi, kemudian mengganti dengan alat komunikasi yang baru. _ melalui alat komunikasi yang baru zizi berkata “serigala putih, bersihkan area ini!”.

Kemudian zizi mengajakku pergi dan meninggalkan pelabuhan. Tepat sebelum kami pergi, aku melihat sekelompok pasukan yang menggunakan seragam serba hitam serta memakai topeng berbentuk serigala. Dan pada bagian belakang seragam mereka bertuliskan ‘Claw Wolves’. Jumlah mereka sekitar 50 orang.

Didalam mobil aku bertanya pada zizi “siapa mereka”.

“Jalankan saja mobilnya”. Balas zizi.

Pasukan Claw Wolves yang baru saja masuk ke area pelabuhan, terlihat seperti pasukan yang sangat terlatih. Firasat ku mengatakan kelompok pulsan dan kelompok basang yang tengah berperang akan sangat mudah dihabisi oleh pasukan Claw Wolves.

Didalam mobil zizi menghubungi kelompok basang yang telah bersiap menyerang markas kelompok pulsan. Kemudian memberi perintah untuk menyerang sekarang juga.

“Kemana kita akan pergi?”. Tanyaku pada zizi.

” Ke markas kelompok pulsan”. Jawabnya.

Aku kembali bertanya “dimana itu?”.

“Ikuti ini”. Sambil memberikan handphonenya yang telah mengarah ke lokasi markas kelompok pulsan melalui GPS.

Zizi kembali berbicara dengan alat komunikasinya. “Serigala hitam, bagaiman keadaan kalian?.”

Dari pembicaraan zizi, aku menangkap poin pentingnya, bahwa serigala hitam juga telah selesai melakukan misi, namun aku masih tidak tau apa misi serigala hitam.

Zizi kembali berbicara, kali ini dengan unit serigala merah. _ zizi memerintahkan serigala merah untuk bersihkan seluruh area.

Namun pada akhir pembicaraan aku sedikit terkejut mendengar zizi berkata “sisakan pria yang bernama dodi untukku”.

Dodi adalah anak ketua kelompok pulsan yang kami hajar malam saat pertama kali bertemu lia. Saat ini aku tidak ingin banyak bicara serta bertanya. Namun setelah perang berakhir, aku harus mendapatkan semua jawaban dari pertanyaanku, fikirku.

Sesampainya di markas kelompok pulsan, aku dan zizi bergegas masuk. Salah seorang unit serigala merah memberitahukan posisi mereka dan dodi.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi dodi, aku melihat mayat anggota kelompok pulsan dan basang di setiap sudut rumah. _ akupun merasakan mual melihat keadaan sekitar, namun syukurnya aku dapat menahan agar tidak muntah. Apa yang terjadi disini persis seperti yang terjadi di pelabuhan. Kelompok pulsan dan basang saling tembak, dan dalam keadaan baku tembak, datanglah claw wolves menghabisi mereka semua.

Kamipun sampai keruangan yang berada di lantai 4. _ didalam ruangan telah tergeletak mayat ketua kelompok pulsan, sedangkan dodi sedang diikat di sebuah kursi.

Sambil berjalan menuju dodi, zizi bertanya “apa ada yang terluka?”.

Ketua unit menjawab “negatif”.

Sebelum sampai didepan dodi, zizi memerintah seseorang untuk membuka ikatan nya. Setelah ikatan terbuka, dodi langsung berdiri dan berkata dengan badan yang bergetar karena ketakutan “aku akan berikan semua harta papi ku pada kalian, aku tau semua persembunyian hartanya”.

Mendengar hal itu, wajah zizi berubah sangat merah. Tepat tiga langkah jarak zizi dan dodi. _ zizi langsung melayangkan tendangan ‘dolke chagi’ (tendangan memutar 360°). _ dodi terpental dan melayang ke udara.

Sambil berjalan untuk kembali menghampiri dodi, zizi berkata “bukankah sudah pernah aku katakan. Kamu fikir uang mu bisa membeli segalanya!” _ dasar brengsek!”.

Sesampainya didepan dodi yang tengah bersandar di salah satu kaki meja yang ada diruangan tersebut, zizi mengeluarkan kekasih gelapnya (baikal makarov).

“Apa kamu tau, kenapa hanya kamu yang masih hidup?”. Tanya zizi.

Dodi hanya menggelengkan kepala, dan meminta ampun karena ketakutan. Ditambah lagi melihat baikal makarov yang saat ini dipamerkan zizi.

“Apa kamu mengampuni jeri dan orang tua lia?!”. Tegas zizi.

Dodi hanya bisa menangis dan meminta ampun, tanpa menjawab pertanyaan zizi.

“Jawab aku, brengsek!”. Bentak zizi kepada dodi.

“Saat keluarga lia meminta ampun, kamu tertawa dan memukul mereka. Sekarang aku adalah malaikat yang akan membalas itu semua. Setidaknya kamu beruntung, aku tidak akan tertawa melihatmu menderita, seperti yang kamu lakukan terhadap keluarga lia!”. Tambah zizi.

“Dooor…”

Zizi menembak kaki dodi.

Tak lama kemudian zizi kembali menembak kaki sebelah nya. _ tentunya dodi menjerit kesakitan.

Zizi memerintahkan salah satu anak buahnya untuk melakukan panggilan video call dengan keluarga lia. _ saat video call berlangsung dodi meminta ampun kepada lia beserta keluarganya. Karena, sebelumnya zizi berkata “aku akan mengampuni mu, jika keluarga lia bersedia memgampunimu”.

Jeri dan lia tidak ingin mengampuni dodi, namun kedua orang tua lia bersedia mengampuni dodi, karena mereka merasa kasihan melihat derita yang dialami dodi saat ini. _ akhirnya lia beserta jeri dengan berat hati mengikuti orang tuanya untuk mengampuni dodi.

Setelah keputusan diambil, zizi langsung mengakhiri video call, dan mengajakku pulang. Kami pun pergi meninggalkan dodi dan claw wolves yang ada diruangan itu.

Sesampainya dibawah, aku mendengar teriakan.

“Aaaaaaaaaagghh…. ”

“Dubraaakkk”.

Ternyata yang tergeletak itu mayat dodi yang dilempar dari ruangan yang berada di lantai 4, tempat dimana dodi tadi berada.

“Bukannya kamu sudah mengampuninya?”. Tanyaku pada zizi.

“Memang aku sudah mengampuninya, tapi sepertinya mereka (claw wolves) tidak bisa mengampuninya”.

Aku merasa tidak Terima dengan alasan zizi. Karena apa yang claw wolves lakukan saat ini adalah perintah zizi. Aku dapat mengetahui dengan pasti, bahwa claw wolves tunduk dan tidak berani berbuat sesuatu tanpa perintah zizi, apalagi melanggarnya.

Dengan perasaan yang masih tidak Terima atas alibi yang dikemukakan zizi, kami pun melanjutkan langkah menuju mobil audi 8 L miliknya, yang telah diantarkan oleh salah satu anggota claw wolves ketempat ini. Namun, saat aku dan zizi hendak memasuki mobil, Tiba-tiba salah satu anggota claw wolves mengejar zizi, dan memberikan gelang tangan yang diberikan zizi pada pria yang menuntun kami ke mobil ford saat berada di markas kelompok basang sebelumnya, kemudian anggota claw wolves tersebut memberikan handphone yang sedang berlangsung video call, sambil berkata “maaf nona, ketua bilang anda tidak pernah mengangkat telfonnya”.

Zizi menerima handphone, kemudian bertanya tentang keadaan pria yang terjebak didalam kelompok basang tersebut. Anggota claw wolves tadi memberikan isyarat bahwa pria tersebut telah aman. Kemudian zizi berkata “berikan 300.000.000 padanya dan berikan 500.000.000 pada keluarga lia dari harta rampasan perang”.

Setelah mengatakan hal itu, zizi dengan wajah imut dan senyumnya yang manis memanggil orang yang sedang video call, dengan sebutan. “Kakeeeek…” Zizi mengatakannya dengan nada yang sangat antusias, seolah-olah dia sangat merindukan kakeknya itu.

Kakek zizi sedikit kesal serta risau saat ini, karena zizi tidak pernah mengangkat telfonnya beberapa hari belakangan. Namun dengan tingkahnya yang lucu dan manis, rasa kerisauan sang kakek terobati.

Dengan tingkah yang seperti itu, aku yakin zizi bisa menipu semua orang. Fikirku.

Pos terkait