“LAKUNA” Edisi VI (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Supernova (Bagian III) 

Malam ini merupakan malam ujian kenaikan tingkat. Akupun telah siap untuk ujian malam ini. Sebelum keluar rumah sambil menunggu Andra diteras depan, aku berpamitan dan minta do’a restu papa dan mamaku. _ 5 menit menunggu akhirnya Andra datang menggunakan mobil yang dipinjamkan orang tuanya, kami langsung bergegas menjemput Reza, kemudian pergi bersama ketempat ujian kenaikan tingkat.

Ujian kali ini diadakan di Gelanggang Olahraga Kota Bangkin. _ sesampainya ditempat tujuan aku selalu memperhatikan setiap mobil yang terparkir. _ “sepertinya zizi tidak datang”. Kataku dengan nada berbisik sambil terus memperhatikan setiap mobil. Karena tiga hari yang lalu saat disekolah, aku meminta zizi hadir saat ujian kenaikan tingkat berlangsung, dan zizi menyetujuinya. Namun aku tidak melihat mobil audi mewah di area parkir. Aku terus melihat kesegala penjuru parkiran mobil sambil memasuki gelanggang olahraga.

Sesampainya didalam gelanggang, kamipun langsung bersiap-siap dan memasang dobok. _ Peserta ujian kali ini cukup banyak, karena ujian yang berlangsung hari ini merupakan ujian gabungan dari 3 perguruan terkenal yang ada di kabupaten Camva. Tentunya penonton/pendukung yang hadir juga cukup ramai. _ aku selalu melihat kearah penonton yang hadir dalam setiap kesempatan, karena entah kenapa aku merasakan zizi ada disini, walau aku tak melihatnya dari tadi. Namun ternyata naresh sahabat kami berada didalam gelanggang untuk memberikan dukungan kepadaku dan reza. Bahkan, naresh membentangkan spanduk kecil yang bertuliskan “I trust you Tommy and reza”.

Aku, reza dan andra berhasil melewati setiap step materi ujian. Namun, saat aku melakukan ujian tendangan kombinasi serta variasi dengan sambil melompat dan salto kebelakang untuk mematahkan papan yang memiliki tinggi 3 meter. _ mataku tertuju pada seorang wanita memakai jacket hoodie berwarna merah serta memakai masker yang duduk dibangku penonton paling belakang. Aku beranggapan wanita itu adalah zizi, alasannya karena zizi menyukai jacket hoodie.

Setelah setiap peserta melakukan aksi tendangan kombinasi variasi, tibalah saat ujian ‘fight’ atau sparing partner. Aku berhadapan dengan seseorang bernama zacky dari perguruan lain. Gemuruh penonton membuat ku sedikit gerogi, namun mentalku meningkat saat aku melihat kearah naresh yang meneriaki namaku, sambil melompat-lompat kegirangan dengan spanduk kecil dikedua tangannya.

Tepat sebelum kami memberikan salam penghornatan sebagai tanda pertarungan akan dimulai, aku melihat wanita yang memakai jacket hoodie merah itu melambaikan tangannya padaku, kemudian bertepuk tangan penuh semangat.

Pertarungan pun dimulai dan berlangsung sengit, aku sangat kelelahan dan hampir kehabisan energi. Untungnya aku masih mengingat pesan yang disampaikan zizi, setelah kami melakukan sparing partner dulu. Zizi berkata “kunci agility yang kupunya bukan hanya dari kelincahan gerakan, namun aku selalu berusaha bergerak efektif sehingga dapat meningkatkan kecepatan”.

Pada akhirnya aku berhasil memenangkan pertarungan dengan bergerak secara efektif, sehingga kecepatanku terlihat meningkat. Aku mampu melakukannya, karena zizi telah mengajarkan padaku tekhnik dasar Aikido selama 3 hari belakangan. Aikido merupakan bela diri yang mengandalkan gerakan, kuncian, serta serangan balik dengan gerakan lembut yang efektif dan efisien. Keberhasilanku disusul oleh reza dan andra.

Malam ini kami resmi pemegang sabuk hitam taekwondo, setelah dinyatakan lulus ujian kenaikan tingkat.

Setelah ceremonial selesai, naresh langsung menghampiri kami untuk memberikan selamat. Spontan aku menatap ke reza sambil tersenyum, karena mengetahui rahasia perasaannya.

Akupun berusaha memberi ruang yang cukup kepada reza, dengan beralasan ingin mengganti pakaian. Saat berada didalam ruang ganti, Tiba-tiba ada pesan WA masuk. Ternyata pesan itu dari zizi, didalam pesan tersebut zizi mengucapkan selamat atas keberhasilanku, zizi juga mengirim foto-foto ku selama ujian berlangsung.

Berarti zizi menepati janjinya untuk hadir malam ini. _ akupun membalas pesan zizi dengan ucapan terimakasih sekaligus menanyakan keberadaannya. Namun, zizi tidak menjawab pertanyaanku itu.

Setelah selesai mengganti pakaian aku langsung keluar dan mencari posisi ‘angle’ atau sudut dari mana foto-foto itu diambil. Akhirnya aku menemukan tempat zizi berada saat ujian berlangsung. Ternyata posisi zizi tidak jauh dari naresh, tepatnya zizi berada pada baris ke 3, sedangkan naresh berada di barisan pertama bangku penonton.

Tak lama kemudian, zizi kembali mengirim foto melalui WA, dengan tulisan “apa kau mengenalnya? “. Foto yang dikirim zizi adalah foto naresh yang diambil dari belakang namun tepat saat naresh menoleh kearah kiri, sehingga wajahnya dapat terlihat.

Aku membalas zizi dengan mengatakan bahwa naresh adalah sahabatku sejak kecil. _ zizi menceritakan betapa beruntungnya naresh, karena sahabat-sahabat yang dia miliki sejak masih kecil tidak melupakannya. Sedangkan zizi telah terlupakan oleh salah satu sahabat terbaiknya semasa kecil dahulu. Tentunya aku berusaha untuk memberikan semangat serta berusaha membuatnya tidak terlarut dalam kesedihan yang diakibatkan kekecewaan pada seorang sahabat yang telah menghancurkan perasaannya. _ aku mencoba untuk menemui zizi dengan menanyakan keberadaannya saat ini. Entah kenapa jantungku berdetak kencang menunggu balasan WA zizi. Beberapa menit kemudian zizi membalasnya, dia memberikan alamat suatu cafe yang berjarak kurang dari 200m dari gelanggang olah raga, akan tetapi zizi memberi syarat, aku harus datang seorang diri. _ akupun menyampaikan kepada andra dan reza bahwa aku harus pergi duluan dan tidak pulang bersama mereka.

Aku memilih jalan kaki menuju tempat dimana zizi berada. _ selama perjalanan, aku teringat seseorang yang menggunakan jacket hoodie merah saat ujian berlangsung. “Jika zizi berada dibelakang naresh, lalu siapa wanita yg melambaikan tangan padaku dibangku atas belakang tadi?”. Fikir ku sepanjang jalan.

 

Pos terkait