“LAKUNA” Edisi XXXI (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Aku Tidak Butuh Maaf (Bagian II)

Setelah berkenalan, hana mulai menceritakan tentang dirinya yang suka mengamati perilaku orang lain, lalu membuat suatu asumsi dari objek yang diamatinya. Hana menemukan bakatnya ini saat masih duduk dibangku kelas I SMP. Ditambah lagi semenjak itu, Hana suka membaca buku tentang psikologi milik kakak perempuannya yang saat itu sedang menyelesaikan pendidikian profesi untuk menjadi psikiater forensik. _ saat ini kakak tertua nya itu bekerja pada salah satu instansi pemerintah yang bertugas membantu para penegak hukum. Akan tetapi, Hana bukanlah orang yang bergantung pada teori psikologi sepenuhnya, melainkan Hana orang yang lebih mengedepankan intuisinya dari pada empirisnya.

Saat ini Hana sangat merasa kesal, karena orang tua nya memaksa dirinya untuk menjadi seorang polisi. Papa Hana merupakan seorang perwira polisi yang berpangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) yang saat ini menjadi Kepala Polisi Resort (Kapolres) Kabupaten Kanhu.

2 dari 3 anak yang dimiliki orang tuanya nya tidak ada yang ingin menjadi polisi, orang tua Hana memaksa dirinya untuk meneruskan langkah sang papa. Selain kakak perempuan Hana yang sekarang menjadi seorang psikolog, Kakak laki-laki Hana saat ini bekerja pada Bank Rakyat Donesivia (BRD), yang merupakan salah satu Bank milik Negara. _ Satu-satunya harapan yang tersisa hanyalah Hana.

Hana yang baru saja melewati Ujian kenaikan kelas 3 SMA telah di intervensi serta di doktrin setiap hari oleh kedua orang tuanya untuk menjadi seorang polisi wanita (POLWAN). Tentunya Hana sangat kesal, seolah-olah dia tidak bisa menentukan masa depannya sendiri. _ Hana lebih tertarik pada bidang ilmu psikologi seperti kakak pertamanya.

“Dari caramu berbicara, sepertinya kamu tidak menyukai polisi”. Aku bertanya pada Hana sambil menyeruput sedikit kopi yang tersisa.

“Yang benar saja kak, didunia ini lebih banyak persentase orang yang tidak menyukai polisi tau. _ apakah kakak berfikir mereka dapat dipercaya?!”. Tegas Hana.

Hana beranggapan polisi bukanlah penegak hukum apalagi penegak keadilan, mereka hanyalah orang-orang yang bekerja sesuai perintah atasan dan terkadang menggunakan hukum sebagai alasan untuk kepentingan dirinya. Ditambah lagi menurut Hana, sebagian besar polisi memiliki sifat arogan.

“Sepertinya kamu terlalu sentimen terhadap polisi”. Sahutku setelah mendengar penjelasan Hana.

“Aku bisa berikan bukti saat ini juga”. Balas Hana.

Kebetulan ada 2 orang pria yang baru saja memasuki cafe. Dan Hana menyuruhku untuk memperhatikan mereka, setelahnya Hana berkata “apa menurutmu 2 orang itu terlihat sombong kak?. Tanya Hana padaku.

Aku tidak bisa mengatakan tidak, sebab 2 orang yang baru saja masuk kedalam cafe memang sedikit berlagak.

Kemudian Hana memberikan komentarnya terhadap 2 pria tersebut. “Mereka adalah polisi yang baru saja lulus kira-kira 1 atau 2 tahun yang lalu lah”. Sambil berekspresi sedikit merendahkan 2 pria itu.

“Dari mana kamu tau?”. Tanyaku.

“Intuisi”. Jawabnya dengan segera.

“Kamu tidak boleh seperti itu, bisa saja mereka bukan polisi. Atau malah mungkin saja mereka militer”. Balasku.

“Seorang militer tidak pernah menunjukkan statusnya pada orang lain kak, sebab semua orang bisa mengetahuinya. Sedangkan polisi belum tentu semua orang tau, jadi dia ingin menunjukkan identitas dirinya kepada semua orang, bahwa dia adalah aparat penegak hukum”. Sahut Hana, membantah komentarku.

“Tunggu disini, aku akan membuktikannya”. Tambah Hana.

Kemudian Hana berjalan kearah 2 pria tadi, dan berbincang-bincang selama 4 menit. Setelahnya mereka saling bertukar nomor handphone.

Hana kembali ke mejaku, kemudian memperlihatkan foto profil WA salah seorang pria tadi yang sedang mengenakan seragam polisi sambil memegang senjata laras panjang.

“Dia fikir aku tertarik dengannya, karena dia seorang polisi?”. Kata Hana dengan nada sindiran.

Hana menceritakan, di sekolahnya telah terjadi pembulian kepada seorang anak yang satu kelas dengannya. Akan tetapi, Hana tidak tau harus melaporkan kepada siapa, karena Hana merasa takut. Jadi saat melihat 2 pria tadi, Hana tau dan yakin bahwa mereka adalah polisi, jadi Hana meminta bantuan agar dapat datang ke sekolah ketika terjadi pembulian lagi. _ begitulah cara Hana mengarang ceritanya.

Setelah menunjukkan foto profil salah satu polisi tadi, Hana langsung melakukan blokir pada kontak tersebut.

“Kenapa kamu blokir?”. Tanyaku.

Sambil memegang gelas minumannya, Hana berkata “aku tidak ingin dia mengganggu ku setelah ini, dan lagi pula aku hanya berusaha memberikan kakak bukti”.

Aku berkata didalam hati “sepertinya dia ada kemiripan dengan zizi, karena cara pandangnya tidak seperti anak SMA”.

Tiba-tiba saja aku teringat zizi, setelah sempat terlupakan beberapa saat, semenjak Hana datang ke meja ku.

Zizi kembali bergentayangan di fikiranku, sehingga membuat mood ku berubah dan ekspresi wajahku kembali murung serta fikiranku pun seperti mengawang ke angkasa.

“Ada apa kak?!”. Tanya Hana.

“Gak ada apa-apa kok”. Jawabku.

“Kamu tidak mahir berbohong sepertinya kak. Dari awal aku sudah tau, kamu sedang tidak baik-baik saja. _ asal kakak tau, kenapa aku mendatangimu, karena kamu terlihat sangat rapuh tadinya”. Balas Hana sambil memberikan senyuman termanisnya.

Aku hanya menatap Hana tanpa memberikan jawaban apapun. _ Hana pun menatapku, sambil berfikir serta memprediksi tentang yang aku alami saat ini.

Setelah mengamatiku selama 5 menit, tiba-tiba saja Hana berkata “jangan berlagak sok kuat, jika kamu tidak mampu pergi darinya kak”.

Pos terkait