Aku Tidak Butuh Maaf (Bagian V)
Ternyata Zizi telah mengetahui apa yang terjadi padaku dari Reza dan Naresh, mereka telah menceritakan semuanya kepada zizi.
Dan saat mengetahui kejadian tersebut, Zizi sangat merasa sangat bersalah hingga tak henti-hentinya mencariku sepanjang malam.

“Tom, ayo ikut aku”. Kata zizi sambil menarik tanganku kedalam mobil.
“Bagaimana dengan sepeda motorku?”. Tanyaku pada zizi saat berada di dalam mobil.
“Berikan kuncinya padaku”. Jawab zizi.
Setelah aku memberikan kunci. Zizi keluar dan membawa sepeda motorku kedalam taman, kemudian meletakkan kuncinya dibawah salah satu pohon.
Saat Zizi kembali masuk kedalam mobil, dia berkata “tenang saja, sebentar lagi akan ada yang menjemput sepeda motor mu”. Kata Zizi sambil mengirim WA kepada seseorang.
Kami pun memulai perjalanan yang aku tidak tau tujuannya. Aku tidak pernah bertanya kemana Zizi akan membawaku.
Zizi terus melaju kearah timur, hingga 1 jam kemudian kami sampai diperbatasan Kabupaten Camva dengan Kota ‘Penfaru’ yang merupakan ibu kota Provinsi Farie. Kota Bankin adalah ibu kota kabupaten yang paling dekat dengan ibu kota Provinsi Farie.
Sesampainya di pusat kota, Zizi berhenti disalah satu cafe & resto yang baru berdiri sekitar 2 tahun lalu. Akan tetapi, cafe dan resto ini sangat terkenal di kota itu bahkan di seluruh Donesivia. Cafe & resto yang bernama “2A-FC” ini selalu dipenuhi oleh orang-orang penting dari berbagai kalangan, termasuk pejabat-pejabat negara yang tengah melakukan kunjungan ataupun liburan ke kota Penfaru. Ditambah lagi tempat ini selalu terbuka 24 jam, dengan kualitas menu-menu yang terbaik.
“Apa kita akan bertemu seseorang?”. Tanyaku pada zizi.
“Tidak. Aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersamamu, dan aku fikir ini tempat yang tepat”. Balas zizi.
Kami pun masuk kedalam cafe & resto, kemudian langsung diantarkan ke ruang VVIP terbaik yang dimiliki cafe & resto tersebut.
Sambil menunggu pesanan, zizi kembali mengutarakan permintaan maaf kepadaku “maafkan aku tom. Andai aku tau apa yang terjadi, aku pasti akan datang menemuimu saat itu”.
“Sudahlah zi, aku tidak butuh permintaan maaf mu. Aku hanya butuh dirimu selalu berada disampingku”. Aku mengatakannya sambil memegang kedua tangan zizi.
“Aku tidak tau, seberapa besar dulu aku mencintaimu. Akan tetapi, walau aku tidak mengingatnya lagi, aku masih dapat merasakannya”. Aku mengatakannya sembari memegang erat tangan Zizi dari sebelumnya.
Tanpa disadari, pelayan wanita pun datang mengantarkan pesanan kami. Sambil menikmati hidangan, aku menanyakan soal bagaimana Zizi bisa selamat dari kejadian yang telah menewaskan kedua orang tuanya itu.
Zizi menceritakan bahwa dirinya tidak pernah berada didalam gedung tersebut, begitupun adik perempuannya. Berita yang beredar saat itu adalah informasi yang diperoleh pihak jurnalis dari kakeknya, sebab kakek zizi memang sengaja ingin membuat sebuah skenario untuk membuat para mafia yang berada di Pemerintahan saat itu tidak menyadari keberadaan Zizi. Sehingga akan lebih mudah untuk mencari tau siapa dalang dibalik itu semua, agar Zizi dapat membalas apa yang telah mereka perbuat.
“Jadi itu alasannya, kamu ingin jadi politikus?”. Tanyaku pada Zizi.
“Balas dendam hanya satu bagian kecil dari tujuanku. Sebab tujuan utama ku adalah membasmi seluruh mafia yang bersembunyi dibalik wajah pemerintahan selama ini!. Jawab Zizi dengan tegas.
“Zi, bagaimana kami bisa berfiki seperti ini?!”. Sedangkan kamu masih berumur 17 tahun!”. Tanya ku pada zizi.
Zizi menjelaskan, bahwa sejak kecil dia banyak mendapatkan pengetahuan yang melebihi anak seumuran dari kakeknya. Bahkan kakek nya sering mengajak dia bertemu bos-bos besar mafia bahkan para petinggi negara tanpa sepengetahuan orang tua zizi. Dan memberikan pemahaman serta ‘experience’ pada dunia politik, bisnis, dan juga beberapa bagian dari dunia hitam yang kelam.
Hal yang paling membuat aku ‘shock’ adalah ternyata Zizi telah memiliki anggota nya sendiri sejak dia kehilangan orang tuanya. Saat itu, kakek Zizi langsung mendidiknya lebih dari sebumnya. Melalui didikan dan bantuan kakeknya, saat ini Zizi telah memiliki anggota sebanyak 33 orang yang tengah menjalankan beberapa bisnis miliknya, salah satu bisnis yang sedang dijalankan oleh Zizi bergerak dalam bidang kuliner. Namun mereka sebenarnya adalah pasukan yang siap tempur kapanpun Zizi butuhkan. _ anggota yang dimiliki Zizi tidak tergabung didalam Claw Wolves. Karena, kakek Zizi menginginkan Zizi memiliki kerajaannya sendiri yang bernama ‘Fairy Cat’.
Nama Fairy Cat yang dicetus oleh Zizi memang belum begitu dikenal, bahkan masih disembunyikan keberadaannya. Selain Zizi dan kakeknya, aku adalah orang ketiga yang mengetahui hal itu.
Mendengar penjelasan Zizi membuat aku kehabisan akal, dan kebingungan untuk melanjutkan pembicaraan. Namun, Tiba-tiba saja “apa kamu takut tom?. Tenang saja, yang aku bangun saat ini bukanlah mafia seperti yang kamu bayangkan. _ aku lebih memilih langkah yang diambil kakekku saat ini”. Zizi menjelaskan bahwa kelompok Fairy Cat bukanlah kelompok mafia yang akan sepenuhnya bermain pada dunia hitam.
Sepertinya Zizi lebih tertarik membuat pasukan keamanan swasta seperti apa yang telah dibuat kakeknya setelah keluar dari dunia hitam.
“Tom, apa kamu tau mafia yang paling berbahaya?”. Tanya Zizi padaku.
Aku menggelengkan kepala sembari berkata didalam hati “Mana aku tau soal dunia mafia!”.
“Mafia yang paling berbahaya adalah mereka yang berlindung, apalagi yang mengatasnamakan Pemerintah”. Terang Zizi kepadaku.
Menurut Zizi, Pemerintah tidak boleh ada hubungan kerjasama apalagi terjadi hutang politik terhadap mafia. Karena hal itu akan membuat kebijakan yang dikeluarkan tidak lagi menimbang kepentingan rakyat, melainkan kepentingan kelompok.
“Bagaimana tom?”. Tiba-tiba Zizi bertanya padaku.
“Bagaimana apanya?”. Balasku.
“Apa kamu masih mau menerimaku?”. Tanya Zizi kembali.
Zizi menceritakan padaku semua tentang dirinya malam ini, agar aku tidak terkejut nantinya dan memastikan apakah aku bisa menerima dirinya yang ternyata seorang ketua kelompok yang mirip seperti mafia.
Aku tidak tau, apakah aku harus senang atau takut pada apa yang dimiliki Zizi selama ini. Namun satu hal yang pasti, aku merasa bahagia saat ini, karena aku bisa bersamanya dan ingin memiliki Zizi selamanya.
Aku mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku pada Zizi. Akan tetapi, aku sepertinya belum siap. _ badanku bergemetar dan jantungku berdetak kencang saat ingin mengungkapkannya.
Namun, sebagai lelaki aku tidak boleh kalah mental darinya. Apapun yang terjadi, aku harus menyatakan seluruh isi hatiku padanya malam ini juga. Fikirku.









