“LAKUNA” Edisi XV (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Yang Terlupakan

Aku dan zizi bergegas kembali ke bankin, setelah zizi selesai melepas rindu melalui video call bersama kakeknya yang berada di kota ‘vervia’. _ vervia merupakan ibukota dari negeri kami yang bernama ‘Donesivia’.

Aku memacu laju mobil audi milik zizi, karena tak lama lagi pagi akan tiba, dan zizi berencana untuk masuk sekolah hari ini, karena aku dan zizi telah meninggalkan kota bankin sejak sabtu malam dan telah menghabiskan waktu 4 hari di provinsi sumnang, yang artinya 3 hari kami membolos sekolah tanpa keterangan.

Selama perjalanan aku bertanya pada zizi, apa yang sebenarnya terjadi malam ini. _ zizi menceritakan bahwa, dia telah merencanakan semuanya. Saat kami pergi ke pelabuhan, markas kelompok basang yang saat itu minim penjagaan di serang oleh claw wolves, atas perintah zizi. Dan pertempuran yang terjadi di pelabuhan memang sengaja diciptakan, agar kedua kelompok saling bunuh sehingga mudah untuk membasmi mereka. _ alasan kelompok pulsan tau tentang penyerangan yang akan dilakukan di pelabuhan oleh kelompok basang, disebabkan oleh informasi yang diberikan zizi kepada kelompok pulsan melalui salah satu anggota claw wolves. Namun, informasi ini tidak gratis, mereka harus menukar informasi ini dengan keluarga lia. Itulah sebab, kenapa sebelum pertempuran dimulai, keluarga lia telah berhasil diselamatkan. Dan hal yang terjadi di markas kelompok pulsan, mirip dengan yang terjadi di pelabuhan. Mereka membiarkan kedua kelompok saling menyerang, sehingga memudahkan claw wolves untuk mengeksekusi mereka semua.

“Lalu apa itu claw wolves?, _ dan siapa kamu sebenarnya”. Tanyaku dengan penuh penasaran.

“Claw wolves adalah salah satu kelompok mafia terbesar di negeri ini”. Jawab zizi.

Masih penasaran tentang siapa zizi, aku kembali bertanya “siapa kamu sebenarnya?!”.

Zizi kembali mengeluarkan senyuman manisnya, sambil menjawab “aku zizi”. Kemudian tertawa kecil.

“Aku serius!, _ kenapa kamu bisa memerintah claw wolves?!”. Aku menegaskan kepada zizi, bahwa aku ingin tau yang sebenarnya.

Zizi menceritakan, bahwa ketua claw wolves adalah kakek yang video call bersamanya tadi. _ zizi kehilangan kedua orang tuanya saat baru pindah ke vervia. Orang tua zizi merupakan seorang ahli hukum yang terkenal. Dahulu orang tua zizi tinggal di vervia, kemudian saat berusia 10 tahun mereka pindah ke sebuah kabupaten, karena orang tua zizi ingin membela permasalahan sengketa lahan 100.000 hektar yang terjadi antara sebuah perusahaan dengan masyarakat asli di kabupaten tersebut. _ setelah kasus itu dimenangkan papa zizi, dan lahan pun kembali menjadi milik masyarakat. _ zizi dan keluarganya tinggal selama kurang dari 3 tahun di kabupaten tersebut, sebelum papa zizi diminta oleh salah satu kelompok aktivis anti korupsi untuk mengungkap konspirasi politik yang mengakibatkan kerugian negara sebesar lebih dari 100 triliyun. Akhirnya zizi beserta orang tuanya kembali ke ibukota untuk mengungkap konspirasi terbesar yang pernah ada di negeri ini _ namun pada suatu pertemuan di kantor milik aktivis anti korupsi yang meminta bantuan papa zizi tersebut, terjadilah sebuah insiden besar, gedung tersebut meledak oleh sebuah bom, semua orang didalam gedung tewas, termasuk papa zizi. Yang lebih tragisnya, saat itu mama zizi ikut mendampingi papanya hadir dalam pertemuan tersebut. _ semenjak kejadian itu, zizi bersama adik yang berjarak 3 tahun lebih muda darinya, dibesarkan oleh kakek mereka yang merupakan ketua kelompok claw wolves. Selama 5 tahun ini mental zizi ditempa seperti mental seorang mafia, dan zizi beserta adiknya mempelajari bela diri aikido serta taekwondo secara private dengan guru terbaik dinegeri ini.

Aku sekarang mengerti, mengapa zizi ingin menjadi seorang politikus, dan pantas saja dia sangat ahli bela diri serta memiliki cara berfikir seperti mafia kelas atas.

“Apa kelompok pulsan dan basang adalah pesaing kakekmu, sehingga kamu menghabisi mereka semua?! “. Tanyaku dengan tegas.

“Apa kamu fikir claw wolves seperti itu. _ tolong jaga ucapanmu. Saat ini claw wolves bergerak pada bisnis yang legal. Seperti, pertanian yg jumlahnya ratusan ribu hektar di beberapa tempat negeri ini, kami juga memiliki peternakan. Dan juga claw wolves bergerak dalam bisnis pengamanan swasta. _ memang dulunya claw wolves merupakan penguasa bisnis malam terbesar di negeri ini. Akan tetapi, claw wolves telah keluar dari dunia hitam tersebut. _ Asal kamu tau, terkadang kami menjadi mitra pemerintah dalam bidang pengamanan!”. Zizi menjelaskan dengan ekspresi yang sangat serius.

Tak terasa kisah cerita tentang zizi dan claw wolves telah mengantarkan kami ke kota bankin, saat ini tepat pukul 07:15. _ Kamipun langsung kerumah zizi untuk berganti pakaian, setelahnya zizi memerintahkan kerumahku, agar aku juga mengganti pakaian. Karena, zizi berencana untuk masuk kesekolah hari ini _ tentunya ini tidak semudah saat dirumah zizi, pastinya aku akan dimarahi serta diceramahi oleh orang tuaku, karena telah menghilang begitu saja selama 4 hari. Saat berada di sumnang, tepatnya setelah bertemu dani, aku mematikan handphone untuk menghindari panggilan telfon dari siapapun, karena kami memiliki misi yang sangat penting dan sangat berbahaya.

Sesampainya dirumah, benar saja, _ aku langsung dimarahi dan dimaki oleh kedua orang tuaku. _ alasan mereka marah, karena selama 4 hari aku menghilang tanpa kabar. Untung adik perempuan ku ‘sherly’ yang saat ini berada di bangku sekolah kelas 3 SMP (Sekolah Menengah Pertama) telah pergi sekolah. Jika adikku saat ini dirumah, dia pasti akan memprovokasi kedua orang tuaku, hingga menjadi lebih murka dari saat ini.

Selama 5 menit aku diceramahi tanpa perlawanan, karena aku tidak punya alasan yang bisa aku sampaikan, Tiba-tiba saja zizi masuk dan menyapa kedua orang tuaku. _ melihat zizi amarah orang tuaku sedikit mereda.

“Om tante, maaf ya, aku mengajak tommy ke vervia untuk menjenguk kakekku yang tiba-tiba jatuh sakit. _ saat di vervia aku panik, untung nya ada tommy yang bisa mengurus segalanya. Dan Handphone tommy hilang saat di vervia”. Zizi memberikan alasan kepada kedua orang tuaku, tentang menghilangnya kami selama 4 hari.

Untung saja sebelum masuk kerumah, zizi memintaku untuk meninggalkan handphone didalam mobil. Zizi telah memprediksi kejadian ini, dan tanpa aku sadari zizi telah mempersiapkan skenario penyelamatan untuk diriku.

Saat melihat dan mendengar alasan zizi, mama dan papaku tersenyum pada zizi. Dan mulai menurunkan nada bicaranya.

“Kenapa kamu gak bilang dari awal tom?”. Kata mama kepadaku.

Sedangkan papaku tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mamaku bertanya pada zizi tentang keadaan kakeknya. _ dan zizi mengarang sebuah cerita yang dramatis, serta menjadikan aku sebagai pahlawan bagi dirinya dan kakeknya yang saat ini telah sembuh.

Aku berkata dalam hati “brengsek, _ aku hanya bisa diam melihat zizi membohongi kedua orang tuaku!”.

Mama papaku mempersilahkan serta mengajak zizi untuk duduk dan minum teh dirumah. Mereka sedikit malu karena telah memarahiku didepan gadis cantik, anggun, dan lucu seperti zizi.

“Makasih om, tante atas tawarannya, tapi kami harus segera ke sekolah sekarang, sekaligus menjelaskan kepada para guru alasan kami tidak hadir selama beberapa hari yang lalu”.

Tiba-tiba mamaku berlari mempersiapkan pakaian sekolah, kemudian memintaku segera mengenakkannya. _ aku langsung bergegas memasuki kamar sherly, karena kamar sherly berada dibawah, sedangkan kamarku berada di lantai atas.

Setelah semua persiapan selesai, aku dan zizi berpamitan dan bergegas untuk berangkat ke sekolah. _ sebelum pergi, mamaku bertanya “nak, apa kita pernah bertemu sebelumnya?”.

Zizi hanya membalas mama dengan senyuman yang hangat.

Mama kembali bertanya “kalau tante boleh tau, siapa namamu?”.

Zizi menjawab dengan lembut dan senyuman yang memukau “namaku ‘azizi azzahra’, tante”.

Percakapan singkat itupun berakhir. Aku dan zizi bergegas menuju mobil dan segera menuju ke sekolah.

Selama didalam mobil zizi menyindirku. Dan berpendapat orang tuaku sangat menyukainya.

“Kamu jangan kepedean. _ mereka seperti itu, karena aku tidak pernah membawa satu orang pun teman wanita kerumah. _ jadi sebenarnya mereka merasa heran dengan kehadiranmu”. Bantahku kepada zizi.

“Bukannya kamu cukup populer disekolah?”. Tanya zizi.

Aku menjawab dengan menujukkan sedikit kharisma diriku kepada zizi “dinda, indah dan yang lainnya memang cantik, akan tetapi tidak satupun dari mereka yang menarik bagiku!”.

“Sepertinya kamu mulai sombong ya?”. Balas zizi.

Kemudian zizi bertanya sesuatu yang tak bisa aku jawab “bagaimana dengan aku?”.

Mendengar pertanyaan zizi tersebut, membuat aku berkeringat dan terdiam selama beberapa detik.

Tak lama kemudian zizi tertawa, seperti meledekku.

Aku berusaha mengganti topik pembicaraan, karena pertanyaan serta tawanya sangat membuatku kurang nyaman dan ‘nervous’.

“Kalau aku boleh bertanya, apa alasanmu tidak mengampuni dodi?”. Tanyaku pada zizi.

Zizi menjawab “lia bukanlah satu-satunya. Si brengsek itu telah banyak menghadirkan teror kepada orang-orang yang lemah, dan juga telah memakan korban cukup banyak_ penegak hukum tidak mampu mengadili nya. Oleh karena itu, aku yang menjadi pengadil baginya”.

Jawaban zizi terdengar sangat elegan, namun juga menakutkan. _ jika aku diminta untuk mendeskripsikan sosok zizi, mungkin akan sangat membingungkan, karena deskripsiku akan berisi ‘kontradiktif’. Hal itu disebabkan oleh sisi terang dan sisi gelap zizi telah menjadi suatu entitas yang terintegrasi.

“Tom, apa kamu masih ingat apa yang aku katakan pada selembar kertas saat hari pertamaku dulu”. Tanya zizi. _ Aku terkejut dengan pertanyaannya itu.

Akupun menjawab ” Ya, aku masih ingat. Akan tetapi, aku rasa kamu tidak punya alasan untuk itu”.

Sambil tersenyum separuh, zizi berkata “aku memiliki alasan yang sangat kuat untuk melakukan itu sejak hari pertama!”.

Mendengar perkataan zizi tersebut, serasa ada hembusan angin yang sangat dingin datang kepadaku.

Aku kembali segera mengganti topik pembicaraan. Karena hingga saat ini, aku tidak mengerti apa maksud tulisan zizi tersebut. _ sambil menggaruk kepala aku berkata “sepertinya latihan menembakku sia-sia, karena tak satupun peluru aku lesatkan saat peperangan malam tadi”.

Zizi menjawab dengan sebuah analogi “apa saat pertama kali kamu belajar taekwondo dulu, kamu langsung menghajar seseorang setelahnya?”. Tanya zizi.

Aku berfikir, analogi yang zizi sampaikan itu, 100% benar.

Tak terasa, sambil berbincang-bincang kami telah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Namun, zizi melarangku memasuki sekolah dan memerintahkan terus berjalan. Kemudian, sekitar 300m dari gerbang sekolah, zizi memintaku untuk berhenti di depan sebuah swalayan. _ zizi tidak ingin orang lain, apalagi para guru tau tentang kemewahan yang dimilikinya. Oleh karena itu, kami akan berjalan kaki dari swalayan ke sekolah, dan meninggalkan mobilnya didepan swalayan tersebut.

Pos terkait