Yang Terlupakan (Bagian III)
Selama 3 hari zizi tidak masuk sekolah, tepat setelah kejadian yang membuat zizi sangat marah padaku. Aku dihantui rasa bersalah, dan beranggapan buku catatan itu sangat berharga baginya. Aku menyimpan buku catatan zizi didalam tas dan selalu membawanya ke sekolah, tanpa melihat satu lembar pun isinya sejak hari itu, karena aku telah bertekad tidak akan membuka buku catatannya tanpa seizin zizi.
Hari ini setelah pulang sekolah, aku langsung menuju rumah zizi. Sesampainya dirumah zizi, aku menanyakan keberadaan zizi kepada Salah satu penjaga, tepat setelah penjaga itu membukakan pintu seusai aku menekan tombol bel. Sang penjaga mengatakan padaku “maaf tuan, nona zizi tidak ingin bertemu dengan anda”. _ kemudian penjaga itu menutup kembali gerbang yang dibukanya.

Setelah terdiam sebentar, aku melihat ada kamera CCTV diatas tombol bel. Aku sangat yakin zizi sedang melihatku dari kamera tersebut. Dengan tekad yang kuat ingin bertemu zizi, aku berbicara didepan kamera tersebut. “Zi, aku akan berada disini, sampai kamu mengizinkanku bertemu dan meminta maaf”.
Satu jam berlalu. Hujan pun mulai turun menghiasi gelapnya langit sore ini, sehingga membasahi tubuhku yang sedang duduk bersandar di gerbang bagian pinggir, tepat sepeda motor CB-R ku terparkir. _ 30 menit lamanya tubuhku dibasahi hujan, akupun merasa kedinginan, hingga hampir terasa membeku. Saat ini aku hanya bisa terdiam dan memeluk diri sendiri sambil duduk tersandar. Namun tak lama kemudian, pintu gerbang terbuka, dan salah satu penjaga keluar sambil memegang payung, kemudian berkata “tuan, nona zizi menyuruh anda untuk masuk”.
Dengan keadaan badan dan bibir bergetar karena menahan rasa dingin yang terasa hingga ke tulang-tulang persendianku, akupun berjalan masuk kerumah bersama penjaga tadi. Sesampainya dirumah, aku disambut oleh wanita setengah baya yang merupakan salah satu pembantu dirumah zizi. Pembantu tersebut mengantarkan aku ke kamar yang pernah aku masuki dulu. _ pembantu tadi mengatakan “tuan, nona zizi menyuruh anda mandi dan mengganti pakaian”. Sambil meletakkan satu set pakaian beserta handuk yang dibawa nya dari tadi. Kemudian pembantu itu keluar sembari menutup pintu kamar.
Akupun segera menuju kamar mandi dan memanjakan diriku sekejap dengan air hangat, agar bisa mengurangi rasa dingin yang hampir membuatku membeku.
Setelah mandi aku merasa sangat senang, dan tak tau kenapa jantungku berdebar lebih kencang dari sebelumnya, mungkin saja karena sebentar lagi aku akan bertemu zizi. Didalam kamar, aku sempat mempersiapkan serta menyusun kalimat permintaan maaf yang akan aku ucapkan saat bertemu zizi sebentar lagi.
Akhirnya persiapan pun selesai dan aku menghela nafas panjang, tepat sebelum membuka pintu kamar.
Akupun berjalan dari kamar menuju ruang keluarga yang berada di lantai bawah. Mataku selalu memperhatikan tangga selama berjalan hingga menduduki sofa yang berada di ruangan tersebut. Karena aku berharap zizi segera turun saat itu juga dan menghampiriku. Akan tetapi, apa yang aku harapkan, berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Setelah menunggu selama 5 menit, aku dihampiri oleh pembantu yang sama. Sambil memberikan kunci mobil yang ber-merk honda, wanita itu berkata “maaf tuan, karena hujan semakin deras, nona zizi meminta anda untuk pulang menggunakan mobil civic yang telah dipersiapkan didepan rumah”.
Mendengar perkataan si pembantu, aku merasa kesal. Sambil berdiri dari sofa, aku mengatakan “aku kesini ingin bertemu zizi, bukan untuk meminjam mobil!”.
“Maaf tuan, aku hanya menjalankan perintah nona zizi”. Kata wanita tersebut, sambil meletakkan kunci mobil dimeja yang tepat berada didepanku. _ kemudian wanita itu pergi begitu saja.
Kurang dari 10 menit aku tetap diam disana. Namun, perasaanku mulai tidak nyaman. _ aku seperti orang bodoh yang duduk didalam sebuah rumah, dimana kehadiranku tidak diharapkan.
Aku merasa tidak ada harapan lagi bertemu zizi untuk hari ini, karena sepertinya zizi sangat marah, hingga tak ingin menemuiku. Perasaan kesal bercampur dengan rasa bersalahku saat ini. Apalagi saat mengenang air mata zizi yang menetes pada hari itu.
Seorang cewek tomboy yang begitu hebat, bahkan mampu menghancurkan 2 kelompok mafia dalam satu malam, ternyata memiliki sesuatu yang membuatnya sangat rapuh. _ buku catatan itu sepertinya merupakan bentuk virtual dari perasaan hati zizi. Aku beranggapan, semua perasaan bahagia dan kesedihan yang pernah dialaminya terangkum didalam buku tersebut.
Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang. Namun, sebelum keluar dari rumah yang luar biasa megah itu, aku berteriak kerah lantai atas “mungkin permintaan maaf ku tidak bisa membenarkan kesalahan yang aku perbuat. _ namun sebenarnya, aku hanya mencoba berusaha untuk mengenali mu lebih dalam. Dan saat itu, aku berfikir dengan membaca diary mu, aku bisa mengetahui setiap rahasiamu, sehingga dapat membantuku memahami dirimu seutuhnya!. _ sekali lagi, aku meminta maaf dan sekaligus ingin mengucapkan terimakasih atas kenangan yang kau ukir dalam hidupku selama beberapa bulan ini!”.
Aku tidak berharap zizi memaafkanku, akan tetapi aku sangat berharap dia mendengarkan teriakanku.
Sebelum keluar rumah, aku mengambil kunci mobil yang diletakkan diatas meja tadi. Kemudian melemparkan ke lantai atas sekuat tenaga, sambil berkata “aku tidak butuh empati dan rasa peduli mu!”.
Akhirnya aku pergi menerobos derasnya hujan sore menjelang maghrib hari ini menggunakan sepeda motor. _ aku melaju dengan kecepatan 80 sampai 100km/jam menerjang derasnya hujan. Tiba disuatu persimpangan ‘trafic light’ aku bertekad ingin menerobos, karena hujan yang deras dan haripun telah mulai gelap, membuat jalanan menjadi sepi. Namun tiba-tiba satu ekor induk kucing betina bersama 4 ekor anak nya melintas. Dari jarak 10m, aku memaksa menurunkan kecepatan hingga 40km/jam, yang membuat sepeda motorku tidak stabil dan aku pun terjatuh. Saat terjatuh, aku sempat melepaskan diri dari sepeda motor, sehingga aku hanya terjatuh dan terlempar sejauh 2m dari tempat insiden, sedangkan sepeda motorku berguling-guling dijalan sejauh 10m dari posisiku saat ini. _ aku merasa bersyukur, karena laju sepeda motorku saat insiden terjadi telah turun sampai 40km/jam. Sehingga aku hanya mengalami luka ringan, yang membuat siku kaki dan tangan serta beberapa bagian di kaki terluka goresan. _ saat itu aku langsung membuka helm dan memeriksa semua kondisi badanku. Setelah itu dengan menahan rasa sakit, aku berjalan menuju sepeda motor, sambil melihat kearah gerombolan kucing yang telah berhasil menyeberangi jalan dengan selamat. Ditengah perjalanan, langkahku terhenti dan pandanganku terarah pada ‘videotron’ yang berada di taman persimpangan itu. ‘Videotron’ tersebut sedang menyiarkan berita tentang bukti baru yang ditemukan oleh pihak kepolisian provinsi sumnang, tentang kejadian beberapa minggu lalu yang mengakibatkan kelompok basang dan pulsan hancur tak tersisa.
Sebelumnya, polisi memastikan kasus itu, merupakan perang perebutan kekuasaan antara kelompok basang dan pulsan. Namun kini, pihak kepolisian menahan dani untuk dimintai keterangan. Mendengar berita tersebut, Tiba-tiba badanku, serasa kaku dan membeku. Rasa takut yang aku alami saat ini, membuat perih goresan luka yang diakibatkan insiden yang baru saja terjadi tidak lagi terasa. Spontan aku mengambil handphone dari saku kanan, untuk segera memberi tau zizi. Dan ternyata handphone ku penuh dengan retakan, sehingga tak lagi dapat berfungsi akibat insiden.
Aku semakin bingung dan semakin dihantui ketakutan. Aku berinisiatif untuk kembali kerumah zizi, agar dapat mengabarkannya secara langsung tentang berita yang baru saja kulihat. _ beruntung sepeda motorku masih bisa menyala dan berfungsi.
Sesampainya dirumah zizi, aku kembali berhadapan dengan penjaga rumah. _ sang penjaga rumah bertanya “ada apa tuan?”.
“Ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada zizi!”. Jawabku.
“Apa yang ingin anda sampaikan itu, tentang berita kasus di sumnang?”. Tanya penjaga lagi.
Akupun semakin bingung, kenapa penjaga itu tau tentang apa yang ingin aku sampaikan kepada zizi. Dengan wajah penuh kebingungan aku menganggukkan kepala.
Penjaga itu kembali berkata “anda tidak perlu khawatir, nona zizi sudah tau. Dan masalah ini sedang diurus”.
Dengan perasaan dan fikiran yang bercampur aduk, aku pergi begitu saja. Dan kembali melanjutkan perjalanan pulang. Namun, tepat saat aku akan berjalan, Tiba-tiba pengawal yang berada didalam pos penjaga mengejarku, dan berkata “maaf tuan, nona zizi menanyakan apa yang telah terjadi pada anda?”.
Aku menjawab “tidak ada apa-apa”.
“Tapi sepeda motor anda dan cara anda berjalan, seperti telah terjadi insiden”. Balas sang penajaga.
Kemudian sang penjaga tersebut memintaku untuk kembali masuk kedalam rumah, setelah berbicara dengan zizi menggunakan talkie walkie yang di genggamnya dari tadi.
Saat itu, jantungku berdebar karena perasaan senang yang diakibatkan oleh perhatian zizi padaku. Sepertinya zizi memantau ku dari CCTV. Dan aku merasa yakin, semua yang aku sampaikan saat didalam rumah tadi, diketahui dan didengar oleh zizi.
Ego pada diriku saat ini, membuatku tidak mau menerima tawaran zizi, dan aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi aku mengatakan kepada penjaga itu sebuah pesan untuk disampaikannya kepada zizi _ “katakan pada bos kalian. Aku tidak butuh rasa kasihannya!”. _ setelah itu, akupun langsung pergi.









