Yang Terlupakan (Bagian II)
Sesampainya disekolah, kami langsung menuju kelas.
“Tok… Tok… Tok…” _ zizi mengetuk pintu kemudian masuk. Akupun berjalan dibelakang zizi.

Kebetulan saat ini sedang berlangsung pelajaran bahasa, dimana guru yang mengajar adalah wali kelas kami yang bernama ‘diana’.
“Zizi, tommy, setelah pelajaran usai, kalian berdua saya tunggu diruangan”. Kata bu guru kepada kami berdua.
Aku dan zizi serentak menjawab ” Iya bu”.
Setelah pelajaran bahasa selesai, aku dan zizi langsung mengikuti bu diana ke ruangannya. _ bu diana menanyakan alasan kenapa kami tidak masuk sekolah tanpa keterangan. Zizi kembali mengarang cerita yang sama, seperti yang diceritakan pada orang tuaku. _ bahkan zizi berani menantang ibu diana untuk langsung menghubungi kakeknya, agar dapat mengkonfirmasi kebenaran secara langsung.
Cerita karangan zizi benar-benar membuat bu diana percaya. _ aku mulai khawatir melihat zizi, karena dia ahli dalam bersandiwara. Tidak tertutup kemungkinan zizi melakukan sebuah sandiwara terhadapku. Aku bertanya-tanya, peran seperti apa yang sedang dimainkannya. Kecurigaanku bukan tanpa alasan. Karena zizi sering berubah sikap terhadapku. _ terkadang sikapnya dingin, namun terkadang sangat ramah dan perhatian padaku, bahkan hampir membuat aku berfikir dia menyukaiku. Sepertinya mulai sekarang aku harus berhati-hati pada zizi.
Bu guru pun akhirnya mengizinkan kami kembali ke kelas. _ kami pun kembali melakukan hal-hal normal pada umumnya anak sekolah.
Saat bel sekolah berbunyi, aku dan zizi langsung bergegas menuju mobil zizi yang terparkir cukup jauh, bahkan kami berlari kecil untuk menempuh lokasi yang berjarak 500m dari sekolah. Sebelum masuk ke mobil, zizi memastikan sekelilingnya untuk memastikan tak seorangpun melihat kami.
Zizi mengantarkan ku pulang. Didalam mobil zizi tak berbicara sepatah kata pun. _ hal ini tentu terasa aneh bagiku. Bahkan saat sampai dirumahku, zizi berkata tepat setelah aku keluar dari mobil “tom, sepertinya kita tidak usah berkomunikasi dulu. Jadi jangan pernah ‘chat’ aku lagi”.
Tentu spontan aku bertanya “memangnya kenapa?, apa ada yang salah?”.
“Gak ada apa-apa. Hanya saja, aku tidak ingin terlalu dekat denganmu!”. Jawab zizi.
Dengan perasaan marah dan merasa heran, aku membalas “memangnya kenapa?! _ kok kamu jadi aneh begini?!”.
Mendegar ucapanku, zizi menoleh kearahku dengan tatapan yang tajam selama beberapa detik, kemudian berkata “apa kamu masih tidak menyadarinya, dasar brengsek!”. Setelah mengatakan hal itu, zizi langsung menginjak gas mobilnya, dan pergi begitu saja.
Aku sungguh tidak mengerti dengan pernyataan zizi tadi. _ zizi seenaknya saja mengatakan aku seorang yang brengsek, tanpa alasan yang jelas.
Sejak kejadian hari itu, aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan zizi hampir selama 2 minggu. Namun selama disekolah, khususnya didalam kelas, aku selalu memperhatikannya secara diam-diam. _ tidak ada hal yang berubah dari zizi, kecuali sikapnya yang sangat dingin serta beranggapan aku tidak pernah ada yang duduk tepat disebelahnya. _ kebiasaan zizi menulis buku catatannya, membuat aku penasaran.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. _ hari ini saat jam istirahat, zizi keluar untuk membeli sebotol air mineral. Saat itupun aku segera mengambil bukunya yang tergeletak di meja.
Aku membuka lembaran bukunya secara ‘random’. _ aku terkejut melihat lukisan yang menggambarkan 5 orang anak, _ 2 laki-laki dan 3 perempuan yang sedang bergandengan tangan dari belakang, sehingga tidak terlihat wajah mereka. Aku menatap lukisan tersebut lebih dari 3 menit, sebelum membuka lembaran selanjutnya, yang berisi kata-kata cacian begitu banyak, hingga memenuhi lembaran tersebut. _ kemudian aku melanjutkan ke lembaran selanjutnya, yang berisikan kalimat perasaan kecewa, seperti “aku tidakkan memgharapkannya lagi” _ “waktu mungkin telah merubah segalanya”. _ serta kalimat yang mengekspresikan kekecewaan lainnya.
Saat hendak membuka lembaran berikutnya, tiba-tiba zizi datang, akupun dengan segera menutup buku catatannya, dan langsung kembali duduk dikursiku.
Zizi berjalan begitu saja tanpa menghiraukanku. Akan tetapi, sebelum duduk, zizi melihat buku dan penanya telah berubah posisi dari sebelumnya. Zizi langsung memandangku, pandangannya kali ini bukan pandangan yang aku inginkan, sebab terlihat ekspresi marah dari wajahnya.
“Apa kamu membaca catatanku?!”. Tanya zizi padaku.
Aku menundukkan kepala, karena tidak dapat menjawabnya, tentu saja tingkahku itu menunjukkan rasa bersalah. _ kemudian zizi mengambil bukunya dan melemparkan tepat di kepalaku, sambil berkata “brengsek kamu tom!”.
Mendengar hal itu, aku merasa zizi sangat marah. Aku berusaha memberanikan diri untuk mengatakan “maaf, aku hanya penasaran”. Sambil menatap zizi.
Sepertinya zizi tidak memaafkanku. Karena, zizi berusaha meluapkan amarahnya dengan cara melempar botol air mineralnya ke tembok, kemudian meneteskan air mata, sambil berkata “aku benci kamu!!!”. Setelah itu, zizi mengambil tasnya dan berlari keluar.
Aku sempat berfikir, kenapa zizi begitu marah dan sedih hingga meneteskan air mata. Padahal zizi yang selama ini aku kenal merupakan wanita yang hebat. _ bagaimanapun aku harus meminta maaf pada zizi, karena telah lancang melihat barang privasi miliknya.
Aku berinisiatif mencari zizi. Namun hingga jam istirahat berakhir, aku tidak menemukan zizi. Padahal aku telah mencari hampir disetiap sudut sekolah. Akhirnya aku menyerah dan kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.









