“LAKUNA” Edisi V (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Supernova (Bagian II) 

Sepulangnya dari rumah zizi, lima hari belakangan ini aku terus berlatih sendiri. Motivasiku kali ini bukan lagi ingin lulus ujian kenaikan tingkat, melainkan untuk mengalahkan zizi. _ aku ingin tau semua cerita tentang dirinya. Dan satu-satunya cara, aku harus bisa mengalahkan zizi, sesuai dengan kesepakatan yang dibuatnya sewaktu kami melakukan sparing partner.

Suatu sore saat aku sedang latihan ditaman komplek rumah. Tiba-tiba andra dan reza datang dengan perlengkapan latihan yang lengkap, dan kami pun latihan bersama. Setelah berlatih selama satu jam, Reza menantang Andra untuk sparing partner. Andra menerima tantangan reza dan segera mengambil posisi. Akupun menghentikan latihan dan fokus pada pertarungan mereka. Pertarungan mereka cukup sengit, namun melihat kemampuan mereka berdua aku berpendapat “tidak ada satupun diantara kami bertiga yang dapat mengalahkan zizi”.

Pertarungan yang hampir berimbang dan memakan waktu cukup lama itupun berakhir dan dimenangkan oleh reza. _ setelahnya reza menantangku untuk bertarung, sambil berkata “aku ingin menguji hasil latihanmu beberapa hari ini.

Ternyata reza dan andra tau, bahwa setiap hari aku latihan sendiri ditaman. _ akupun bersiap-siap untuk menerima tantangan reza.

Tepat kami akan memulai pertarungan, aku merasakan pusing yang kemudian membuat kepalaku terasa sangat sakit. Akupun berteriak kesakitan hingga berlutut ketanah, reza dan andra berusaha menolongku, namun mereka tidak tau harus berbuat apa.

Tiba-tiba saja memori otakku menghadirkan sosok wanita itu lagi. Aku berkata sambil berteriak “siapa kamu sebenarnyaaaa…!”. _ aku merasakan reza dan andra menghindar dan menjaga jarak, mungkin mereka sedikit takut padaku saat itu. Aku terus berteriak hingga menangis, tangisanku bukan diakibatkan oleh rasa sakit, melainkan oleh wanita yang saat ini ada didalam kepalaku. Setiap bayangan itu hadir, perasaan sedih yang sangat mendalam juga menghantuiku. Aku menangis sekencang-kencangnya dengan posisi kepala bersujud ketanah, sedangkan tanganku memukul-mukul tanah.

Tiga menit berlalu aku masih dengan posisi bersujud, kemudian aku memaksakan diri untuk berdiri dan mengangkat kepala keatas, kemudian berteriak sangat kencang sambil menatap langit.

“Aaaaaaaaaaagggghhhh…….. ”

Aku merasa kehabisan energi sehingga nafasku tidak beraturan seperti orang yang baru saja berlari sepanjang 10km.

“Tom”. Reza memanggil sambil berjalan mendekat. Setibanya tepat berada dihadapanku reza bertanya ” Are you oke?”.

Dengan nafas yang masih tak beraturan, aku hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Kami antar pulang ya?”. Kata andra sambil memegang pundak sebelah kananku.

Aku menggelengkan kepala.

“Aku hanya butuh duduk sebentar”. Kataku sambil berjalan menuju kursi taman. _ reza dan andra mengikutiku sampai ke kursi taman.

Sesaat setelah kami duduk, reza bertanya “sejak kapan kamu mengalami hal seperti ini?”.

Reza tau, ini bukan pertama kalinya terjadi padaku. Mungkin reza menganalisa perkataanku saat mengatakan “siapa kamu sebenarnya” Tadi. _ ini menandakan sosok yang berada di alam bawah sadarku itu telah cukup sering hadir menghantui.

Aku menceritakan kepada reza dan andra yang aku alami, termasuk sosok wanita muda yang berada di alam bawah sadarku seslama 3 tahun belakangan ini. Dan hampir setiap bulan aku mengalami hal yang seperti tadi. _ aku tidak tau bagaimana hal seperti ini bisa terjadi padaku.

“Apa wanita muda itu berambut pendek?”. Tanya reza.

Aku langsung menatap serius kepada reza sambil menanyakan ” Dari mana kamu tau?!. _ aku merasa reza mengetahui sesuatu tentang penyakitku (bagiku hal yang aku alami ini adalah sebuah penyakit).

Reza hanya diam seperti menyembunyikan sesuatu, sehingga aku refleks menarik bagian dada dobok reza serta menggenggamnya sangat erat, sambil berkata “ceritakan semua yang kamu ketahui!”.

Reza hanya menatap kearahku dengan kesan merasa kasihan kepadaku.

Aku terus memaksa reza untuk menceritakan apa yang dia ketahui. _ aku sangat yakin reza mengetahui sesuatu, karena reza adalah sahabatku sejak kecil. Tentunya banyak hal yang telah kami lalui bersama.

Akhirnya reza membuat kesepakatan. _ reza akan menceritakan semuanya padaku saat kelulusan sekolah nanti. Tentunya aku tidak menerima begitu saja, _ aku terus memaksa reza, hingga reza berkata “sekalipun kamu menghajarku, aku tetap tidak akan menceritakannya sekarang”.

Tidak ada yang bisa aku perbuat lagi, dengan rasa penasaran dan kesal aku menerima kesepakatan yang dibuat reza. _ haripun mulai petang, kami mengakhiri latihan hari ini dan bersiap pulang.

Sebelum meninggalkan taman reza mengakui sesuatu yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun, bahwa reza sangat menyukai ‘naresh’ salah satu sahabat kami sejak kecil yang juga tinggal di komplek yang sama dengan kami. Aku sangat terkejut mendengarnya, namun juga hal itu terasa sedikit lucu bagiku, hingga aku tersenyum dan sedikit tertawa.

“Pantas saja kamu selalu memilih sekolah yang sama dengan naresh” Kataku sambil menahan tawa.

Reza meminta aku dan andra untuk merahasiakan hal ini. Karena, hingga saat ini Reza masih tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Naresh.

Tepat sebelum kami berpisah, andra berkata “kisah persahabatan kalian sejak kecil sepertinya menyenangkan dan penuh warna”.

Aku dan reza hanya tersenyum menanggapi pernyataan andra.

 

Pos terkait