“LAKUNA” Edisi IV (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Supernova (Bagian I)

Setelah mandi dan berganti baju didalam suatu kamar yang telah disediakan untukku. Tiba-tiba telephone khusus seperti telephone dikamar hotel berbunyi. Akupun menerima panggilan telephone tersebut. _ ternyata yang melakukan panggilan telephone adalah zizi, dia memintaku untuk datang ke lantai 3 dan mencari ruangan yang bertuliskan ‘my dream’. _ sesampainya diruangan tersebut zizi telah menunggu dan memperlihatkan kepadaku sebuah maket berukuran besar kota bankin. Namun anehnya ada suatu tempat yang sangat aku kenali, tetapi telah dirubah bentuk. Rasa penasaranku memberanikan diri untuk bertanya “kenapa taman ini beserta bangunan sekitarnya berubah menjadi semacam area wisata?”.

Sambil menatap tajam kearahku, zizi menjawab “Kamu sudah cukup beruntung bisa masuk kesini, karena belum ada orang yang pernah masuk kesini selain aku, jadi jangan banyak bertanya”.

“Pastinya aku akan bertanya, karena itu taman dekat rumahku, dan tempat yang paling banyak ukiran kenangan bagiku”.aku membalasnya.

Dengan sinis zizi kembali menjawab “apa urusannya denganku semua kenanganmu”.

Dengan perasaan yang bingung disertai sedikit rasa takut, aku berkata “kamu seperti seorang yang liberosis!” (Liberosis adalah istilah yang menggambarkan sifat yang tidak memperdulikan berbagai hal). _ zizi tersenyum sebentar, kemudian tertawa seolah-olah aku baru saja menceritakan hal lucu kepadanya. Kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepala “Tuduhan mu itu bisa saja membuat aku mengahajar dan melemparkanmu kebawah”. Bantahnya. _ saat ini aku hanya bisa memandangnya dengan tatapan tajam, namun zizi tak menghiraukan tatapanku sedikitpun. Tak lama kemudian zizi mengajakku keluar dari ruangan tersebut. _ Sambil berjalan kearah pintu, zizi berkata “sekarang sudah waktunya untuk makan siang”. _ karena aku hanya tamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengikuti seluruh perintah dan ajakannya.

Akhirnya kami pun selesai menikmati makan siang yang sangat mewah.

Sambil membersihkan bibirnya dengan sapu tangan, zizi menagih janji ku kepadanya “sekarang aku ingin dengar pendapatmu tentang manusia purba”. _ aku menjelaskan kepada zizi tentang manusia purba. Setelah menjelaskan selama setengah jam, zizi bertanya “jadi menurutmu teori Darwin yang selama ini mutlak salah?”. _ Setelah meneguk segelas air, aku menjawab “bukankah manusia zaman dahulu besar-besar, bahkan nabi Ibrahim ‘alaihisalam diperkirakan tingginya 40m, jadi wajar hewan-hewannya juga besar. Begitupun monyet dizaman itu, ukurannya dapat lebih besar dari manusia saat ini, Lalu fosilnya ditemukan oleh orang-orang dizaman sekarang. Karena ukurannya lebih besar dari kita, maka mereka beranggapan itu adalah nenek moyang kia. _ bukankah ini suatu pembodohan terhadap umat manusia?!.

Setelah membahas banyak tentang manusia purba dan teori bodoh dari Darwin, zizi mengganti topik pembicaraan. Zizi berbicara soal seseorang yang brengsek bagi dirinya. Zizi menceritakan bahwa sewaktu kecil dia pernah mengenal seorang anak laki-laki yang sangat baik padanya, hingga mereka bersahabat dan memiliki hubungan sangat dekat. Mereka saling melindungi, bahkan zizi pernah berurusan dengan hukum saat anak laki-laki tersebut bersama 4 orang teman lainnya yang juga merupakan sahabat zizi dipukuli oleh dua orang laki-laki dewasa. _ zizi yang baru saja datang dan melihat kejadian pemukulan terjadi, langsung berlari dengan gunting yang dibawanya, kemudian menusuk tepat diperut sebelah kiri salah seorang yang memukuli teman-temanya. Karena kebetulan saat itu mereka ingin bermain permainan yang membutuhkan gunting. _ kemudian melihat kejadian tersebut, laki-laki dewasa satunya lari ketakutan karena melihat kegilaan zizi. Sebelum laki-laki dewasa itu lari, zizi sempat berjalan santai dengan tatapan kosong yang sangat dingin kearah laki-laki tersebut, sehingga membuat laki-laki dewasa itu ketakutan.

Masalah inilah yang menjadi sebab zizi bermasalah dengan hukum pada masa kecilnya, saat itu zizi baru berumur 11 tahun. Untung saja papa zizi orang terpandang, jadi masalah tersebut bisa dapat diselesaikan, ditambah lagi laki-laki dewasa yang ditusuknya tadi selamat dari kematian setelah dirawat dirumah sakit. _ mendengar cerita zizi, membuat aku ‘shock’, sehingga aku bertanya untuk memastikan ceritanya “kamu tidak mengarang ceritakan? “.

“Apa menurutmu aku orang yang pandai mengarang cerita?”. Zizi bertanya balik kepadaku.

Sepengetaguanku selama berteman dengan zizi selama 2 bulan ini, zizi bukanlah orang yang pandai mengarang cerita, bahkan untuk berbohong hal kecil saja dia tidak bisa. Semua yang keluar dan terpancar darinya bukanlah hal yang dibuat-buat. Dengan tatapannya saja, semua orang bisa dapat menilai perasaannya saat itu, jadi mana mungkin dia pandai berbohong.

“Kamu supernova dalam bentuk manusia”. Tanpa sadar aku mengatakannya pada zizi.

Zizi kembali bertanya “apa itu supernova?”.

“Sebuah ledakan bintang yang kemudian membuat bintang tersebut paling bersinar diantara bintang lainnya”. Jawabku.

Zizi tersenyum, lalu menundukkan kepalanya setelah mendengar jawabanku. _ sesaat kemudian dia mengangkat kepalanya dan mengatakan “kalau itu suatu pujian, aku tidak butuh”.

Suasana di meja makan sempat terasa hening dan dingin beberapa menit, hingga zizi menawarkan suatu bela diri yang bernama ‘aikido’. Ternyata selain taekwondo zizi juga ahli dalam aikido. _ tekhnik kuncian tangan yang digunakannya pada andi waktu itu merupakan tekhnik dari aikido, jadi saat itu zizi mengkombinasikan tekhnik aikido dan taekwondo. _ akupun tanpa fikir panjang menerima tawaran zizi untuk mengajarkan aikido kepadaku. _ tak lama kemudian aku kembali bertanya kepada zizi kelanjutan ceritanya, karena alasan zizi mengatakan sahabatnya itu brengsek belum terjawab. _ kemudian zizi kembali menceritakan kisah tentang dirinya yang mendatangi anak laki-laki tersebut setelah mereka sempat terpisah beberapa tahun, karena zizi harus pindah bersama orang tuanya. _ alasan zizi mengatakan dia adalah laki-laki yang brengsek, disebabkan saat zizi mendatanganinya, anak laki-laki tersebut tidak mengenali zizi sama sekali, inilah yang menyebabkan zizi sangat murka dan kecewa pada sahabatnya itu.

Zizi berkata “Bahkan si brengsek itu pernah berjanji padaku”. Sebagai penutup ceritanya.

Dengan rasa penasaran aku bertanya pada zizi “apa yang dia janjikan? “.

” Aku rasa cukup sampai di sini saja ceritanya, kamu gak usah bertanya terlalu jauh” Tegas zizi dengan perasaan kecewa yang dipendamnya.

Cerita masa kecilnya merupakan akhir dari perbincangan serta kebersamaanku bersama zizi untuk hari ini.

 

Pos terkait