Andai Ku Bisa Menghentikan Waktu (Bagian IV)
Sepulangnya dari rumah zizi, aku tidak langsung menuju rumah, melainkan aku duduk melamun sendiri di taman tempat favorit kami menghabiskan waktu bersama, dan disana juga pertama kalinya kami bertemu zizi. _ aku menatap cukup lama kearah tempat persembunyian kami yang berada diatas pohon yang tingginya hanya 3.5m dari tanah, sembari mengingat saat kami menyembunyikan zizi disitu.
Entah kenapa, aku ingin sekali naik keatas pohon tersebut. Tak lama kemudian aku pun mengikuti kehendakku dan mulai melangkah perlahan kearah pohon. Aku menaikinya dengan fikiran yang sedang kacau, layaknya seorang penjahit yang menjahit kain dengan benang kusut. _ tinggal selangkah sampai ke pondok kecil diatas pohon, kaki ku terpeleset sehingga aku kehilangan keseimbangan, dan aku pun terjatuh serta mengalami benturan dikepala hingga tak sadarkan diri.

Saat bangun, aku melihat ada jarum yang diikatkan ke sebuah selang ditanganku (infus), serta hidungku juga diberikan selang, seperti alat bantu pernapasan.
“Tante.. Tante… Tomy sudah sadar!”. Teriak naresh yang tengah duduk tepat disebelah kananku. Kemudian aku melihat mama dan papa berdiri dari sofa yang berada dibelakang naresh.
“Allhamdulilah”. Dengan spontan Mama dan papa ku serentak mengucapkannya.
“Kenapa aku ada disini?”. Tanyaku.
Mama menceritakan, bahwa aku sempat kehilangan kesadaran selama 2 hari yang diakibatkan oleh insiden saat aku terjatuh dari pohon. Untung saat itu ada salah satu tetangga kami yang melihat aku terkapar dibawah pohon tersebut. Kemudian memberi tau orang tuaku agar segera membawaku ke rumah sakit.
Tepat setelah mama menceritakannya, reza pun masuk kedalam kamar bersama windi. Saat melihat aku telah sadar, reza langsung menjatuhkan kantong plastik dari tangannya dan langsung memelukku, sembari berkata “allhamdulilah kamu sudah sadar tom”.
Kemudian windi menghampiri dan memeluk naresh, hingga mereka berdua memenangis.
Tak lama kemudian masuk seorang dokter laki-laki, setelah mama menekan tombol yang berada di tembok belakang kasur ku.
Sehabis memeriksa kondisiku, dokter tersebut berbicara dengan orang tuaku didepan pintu kamar, sehingga aku tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Diantara sahabatku, hanya zizi yang tak terlihat. Aku tidak lagi ingin mengingatnya, karena setiap wajah nya muncul dibenakku, seolah-olah ada yang menyayat bagian dalam tubuhku. Tapi bagaimanapun aku tetap tak kuasa untuk melupakannya.
“Apa zizi telah pergi ke vervia?”. Tanyaku pada reza, naresh, dan windi.
Mereka semua hanya mengangguk. Aku rasa mereka pun tidak ingin membahas zizi saat ini. Sebab apa yang aku rasakan, pasti mereka juga merasakannya, karena zizi adalah bagian dari kami.
Semenjak insiden yang terjadi padaku, aku mengalami kehilangan beberapa ingatan dimasa lampau. Bahkan aku mencoba untuk mengingat pertama kali bertemu zizi, namun aku tidak dapat mengingatnya. Bahkan akupun tak mampu mengingat kejadian sebelum insiden ini terjadi. Namun aku dapat mengingat saat aku berada dirumah Zizi.
Keesokan paginya saat Sahabat-sahabatku belum datang menjenguk. Aku menanyakan pada mama tentang kalung yang diberikan zizi padaku.
“Ma, dimana kalungku?”. Tanyaku pada mama yang tengah menyiapkan sarapan yang disediakan rumah sakit untukku.
Sambil mengambil kalung didalam tas nya, mama bertanya “ada yang ingin mama tanyakan padamu tom. _ kalung siapa ini?. Sebab kalung ini merupakan berlian yang cukup langka dan harganya bisa mencapai 300.000.000”.
Aku terkejut mendengar harga dari kalung tersebut. Karena saat menerima kalung itu dari zizi, aku hanya beranggapan itu kenang-kenangan yang cukup mahal harganya. Akan tetapi aku tidak pernah menyangka jika harganya mencapai 300.000.000.
“Kalung itu milik zizi, dia memberikannya tepat sehari sebelum dia akan pergi ke vervia ma”. Jawabku dengan ekspresi yang masih tidak menyangka kalung tersebut bernilai 300.000.000.
“Apa zizi tidak tau harga kalungnya ini?. Sebaiknya kamu simpan baik-baik dan kembalikan padanya suatu hari nanti”. Kata mama sambil memberikan kalung tersebut padaku.
Aku berfikir, mana mungkin zizi tidak mengetahuinya. Sebab dia memang telah terbiasa dengan barang mewah. Akan tetapi, kenapa dia bersedia menitipkan kalung semahal itu padaku.
Sepanjang hari aku terus berusaha mengingat beberapa kejadian dari beberapa tahun belakangan ini. Akan tetapi semakin aku mengingatnya memori itu semakin hilang dan kepalaku terasa semakin sakit.
Tak lama kemudian dokter masuk kekamarku untuk melakukan pemeriksaan rutin. Aku menanyakan tentang apa yang aku rasakan. Kemudian dokter tersebut menjawab. “Untuk sementara waktu, kamu istirahat saja dan saya sarankan tidak usah mengingat-ingat kejadian dimasa lalu sampai kondisi kamu membaik 100%”. Kata dokter sambil melakukan pemeriksaan padaku.
Aku mencoba untuk melakukan sarannya, namun zizi selalu saja hadir dalam ingatanku. Apa sebenarnya yang terjadi, dan apakah perasaanku pada zizi hanya sebatas sahabat?. Karena aku bisa merasakan perasaanku pada zizi terasa berbeda dengan perasaanku pada naresh dan windi.









