“LAKUNA” Edisi XVIII (Sebuah Novel Karya Anak Bangsa Yang Akan Terbit Setiap Jum’at & Selasa)

Yang Terlupakan (Bagian IV)

Esok harinya, aku pergi ke sekolah ditumpangi oleh andra, karena cedera kecil yang diakibatkan oleh insiden kemarin membuat aku kesulitan berkendara sendirian. Ditambah lagi, orang tuaku tidak mengizinkan aku pergi sendirian.

Tak disangka hari ini zizi kembali masuk sekolah, sesetalah beberapa hari tidak datang. Aku berusaha melakukan hal yang sama dengan perlakuan zizi kepadaku. Aku tidak menghiraukan keberadaannya sedikitpun. Selama didalam kelas, aku merasakan zizi berusaha untuk mencuri-curi pandang kearahku. Mungkin saja dia sedikit khawatir dengan apa yang menimpaku kemarin. Akan tetapi, zizi tidak ingin menanyakan langsung. Dan akupun menahan diri untuk berkomunikasi secara langsung dengannya.

Hingga jam pulang sekolah, aku tidak bertegur sapa dengan zizi. Aku langsung pulang bersama andra yang mendatangiku ke kelas. _ keesokan harinya, aku mulai menurunkan ego, dan pada saat jam istirahat, hanya menyisakan kami berdua didalam kelas, aku bertanya tentang kasus penahanan dani sebagai saksi, karena dani teridentifikasi oleh pihak kepolisian, sebagai salah satu anggota kelompok basang.

“Bagaimana dengan dani saat ini?”. Tanyaku pada zizi tanpa menatapnya.

“Hari itu juga, kami telah mengirimkan pengacara untuknya”. Balas zizi dengan cara yang sama, yakni tanpa menatap kearahku.

“Bukankah akan terlalu mencolok bagi pihak kepolisian, jika kalian mengirim pengacara untuk dani”. Balasku.

Zizi menjawab “pengacara yang kami kirim, tidak pernah terafiliasi dengan claw wolves, dan lagi pula polisi tidak menahannya, dani hanya diminta untuk hadir memberikan keterangan sebagai saksi kepada polisi atas apa yang terjadi dan yang dia ketahui tentang kejadian tersebut. _ sebelum menghadiri panggilan, dani telah dibimbing oleh pengacaranya agar membuat suatu cerita palsu”.

“Cerita palsu seperti apa yang akan disampaikan dani”. Tanyaku lagi pada zizi.

Sambil berdiri, zizi berkata “itu bukan urusanmu!”. Kemudian zizi berjalan keluar.

Selama pembicaraan, aku dan zizi tidak saling menatap satu sama lain. Hingga akhirnya tepat saat zizi berada didepan pintu kelas, zizi berkata sambil menoleh kearahku untuk pertama kalinya semenjak kejadian yang membuat zizi marah padaku “Oh iya, terimakasih kamu sudah mengembalikan diary ku, dan tas kamu masih ada didalam kamar”.

Akupun menatap kearah zizi, dan kami saling menatap satu sama lain lebih kurang selama tiga menit, sebelum zizi kembali melangkah keluar.

Aku tidak sengaja meninggalkan tas didalam kamar yang disediakan zizi untukku pada saat ingin menemui zizi beberapa hari yang lalu.

5 menit sebelum jam istirahat berakhir, zizi kembali masuk kedalam kelas, sedangkan aku masih tetap berada dikelas, sambil berfikir tentang apa yang terjadi pada perasaan hatiku saat ini. _ zizi masuk kedalam kelas dengan memegang 2 botol air mineral. Dimana salah satu botolnya diletakkan diatas meja ku, sebelum dia duduk dikursinya.

Setelah meneguk air mineral tersebut, zizi kembali berbicara padaku “apa aku boleh bertanya?”. Sambil mengarahkan pandangannya padaku.

Akupun menatap zizi dengan ekspresi datar, sambil menganggukkan kepala, sebagai tanda “iya”.

“Sebelumnya aku ingin meminta maaf, karena telah lancang membuka tas milikmu. _ dan saat aku mengambil diary ku, _ aku tak sengaja melihat buku astronomi milikmu. Aku merasa tertarik pada sampul buku tersbut, hingga membuat aku ingin membacanya. Akan tetapi, saat aku membuka buku itu, pada halaman pertama aku membaca kalimat ‘apa aku pernah jatuh cinta???????? ‘. _ apa itu kamu yang menulisnya?”. Tanya zizi kepadaku.

Aku hanya menjawab “iya”.

Zizi kembali bertanya “apa selama ini kamu tidak pernah jatuh cinta?”.

“Aku tidak tau, karena aku sebenarnya tidak terlalu mengerti soal cinta”. Jawabku.

Mendengar jawabanku, zizi menatap ku serius, hingga keningnya mengkerut.

Melihat tatapannya yang begitu serius, membuat aku bertanya “Apa jawabanku tadi salah?”.

Zizi mengalihkan pandangannya dari ku, sambil menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaanku tadi.

Aku dan zizi bersikap seperti tidak saling begitu mengenali satu sama lain selama beberapa hari. Hingga pada suatu hari, saat sedang sibuk mengemas peralatan sekolahnya, zizi berkata padaku “temui aku ditaman favorit mu jam 5 sore, sekalian aku ingin mengembalikan tas milikmu”. Setelah mengatakannya, bel pertanda jam pulang hari ini pun berbunyi.

15 menit sebelum tepat jam 5 sore, aku telah tiba di taman komplek rumahku. Dimana zizi mengajakku untuk bertemu disini.

Tepat jam 5 sore, zizi pun datang menggunakan mobil honda civic yang pernah aku tolak saat dia meminjamkannya padaku waktu itu.

Sesampainya zizi dihadapanku, dia langsung memberikan tas milikku yang tertinggal dirumahnya.

Saat aku menerima tas yang diberikannya, Tiba-tiba saja, aku merasa ada yang aneh. Bagaimana zizi bisa tau, kalau ini adalah taman favoritku. Aku langsung menanyakan hal itu padanya “bagaimana kamu tau, ini adalah taman favoritku?”.

“Kamu pernah menceritakannya sewaktu melihat maket pada saat pertama kerumahku”. Jawab zizi.

Memang benar, aku pernah membahas tentang taman ini dan merasa kesal pada zizi saat melihat maket yang dibuatnya, dan mengatakan aku tidak setuju dengan apa yang direncanakannya. Karena taman ini penuh dengan memori masa kecil yang tak pernah terlupakan oleh ku. Akan tetapi aku tidak pernah mengatakan ini adalah taman favoritku.

Sebelum aku kembali bertanya soal bagaimana kami punya koneksi tentang tempat pertemuan kami saat ini. Tiba-tiba saja zizi kembali bertanya tentang cita-cita ku “Tom, apa kamu benar-benar ingin jadi seorang polisi?”. Tanya zizi.

“Memangnya kenapa?”. Balasku.

Zizi kembali bertanya “Jika aku menjadi seorang ketua mafia dimasa yang akan datang, apa kamu akan menangkapku?”.

Aku menjawab zizi, dengan sebuah pertanyaan “Apa menjadi ketua mafia, jalan yang akan kamu pilih?”.

“Kamu hanya tinggal jawab ‘iya’ atau ‘tidak’, dan aku tidak meminta saran padamu untuk masa depanku”. Balas zizi.

Aku berusaha meyakinkan zizi, bahwa menjadi pemimpin salah satu kelompok mafia bukanlah pilihan yang tepat. Apalagi 3 minggu kedepan kami akan menghadapi ujian akhir yang akan menentukan kelulusan dari jenjang pendidikan SMA. _ artinya, masa depan akan menanti kami tak lama lagi. Jadi aku berusaha meyakinkan zizi, agar memilih dengan bijak dalam menentukan masa depannya _ namun zizi sepertinya tidak peduli dengan nasihat ku.

Tak lama kemudian, tanpa disangka-sangka, reza dan naresh datang ke taman. Setelah menyapaku dari jarak 15m, mereka langsung menghampiriku. _ saat reza dan naresh berjalan mendekati kami, zizi terlihat salah tingkah. Dia langsung mengenakan tutup kepala jacket hoodie nya, kemudian menundukkan kepalanya kebawah. _ tentunya aku merasa heran dengan sikap zizi.

Saat reza dan naresh tepat berada dibelakang zizi, _ zizi mengangkat kepalanya dan berkata “apa kamu masih ingat anak laki-laki brengsek yang pernah aku ceritakan?”.

Aku hanya terpelongo mendengar pertanyaan zizi, kemudian dengan reflek menganggukkan kepala. _ saat itu juga, raut wajah zizi memancarkan rasa sedih yang sangat mendalam.

Setelah menyapu air mata yang menetes di pipi nya, zizi kembali berkata “anak laki-laki itu adalah kamu!”. Setelah mengatakan hal itu, zizi langsung berbalik arah, dan bersiap untuk pergi dari sini. Namun tepat saat zizi hendak berlari, dengan cepat naresh mengenggam pergelangan tangannya. Langkah zizi pun terhenti. _ naresh pun meneteskan air mata saat melihat zizi. Kemudian naresh menyebut nama “zizi”. _ saat naresh menyebut namanya, zizi semakin tidak bisa menahan air mata yang keluar begitu banyak. Zizi hanya bisa terdiam tanpa melakukan perlawanan. Kemudian naresh menarik zizi dan memeluknya sangat erat.

Aku semakin kebingungan melihat kejadian itu. Apalagi saat melihat reza ikut berpelukan diantara naresh dan zizi. _ aku berkata didalam hati “kenapa mereka saling mengenal satu sama lain”. Didalam otak ku saat ini dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tentang kejadian aneh sore ini.

Zizi, naresh dan reza berpelukan seolah-olah melepaskan perasaan rindu yang telah lama mereka pendam. Setelah berpelukan sekitar 3 menit, zizi kembali menatapku dan berkata sambil berteriak “aku sangat kecewa padamu!”. Kemudian zizi berlari setelah mendorong naresh dan reza, agar memberikan ruang untuknya pergi dari sini.

Zizi berlari sangat cepat kearah mobilnya. Aku melihat naresh bersiap untuk mengejar zizi, namun reza dengan sigap menahan naresh sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Masih dalam keadaan bingung, aku hanya bisa terdiam. Bahkan aku hampir merasa akan menjadi ‘gila’ saat naresh berkata pada reza “kita harus menjelaskannya pada zizi, karena ini bukanlah salah tomy”. Naresh mengatakannya sambil terisak-isak.

Setelah naresh mengatakan hal itu, aku mulai berusaha keluar dari ketidakwarasan yang aku rasakan saat ini.

“Apa yang sebenarnya terjadi?!. Tolong jelaskan padaku!”. Aku mengatakannya sambil berteriak kepada naresh dan reza. Karena aku tau ada sesuatu yang mungkin pernah terlupakan. Layaknya potongan puzzle yg hilang, sehingga membuatnya tidak tersusun sempurna.

Pos terkait